Ekonomi & Bisnis

Bangun Pabrik Soda, Petrokimia Gresik Gandeng Unilever Asia dan PT Garam

Direktur Operasi dan Produksi Petrokimia Gresik Digna Jatiningsih (kiri) dan Direktur Utama PT Garam Achmad Ardianto saat menandatangani Supply MoU of Salt. (Istimewa)

batampos.id – Perusahaan solusi agroindustri anggota BUMN Pupuk Indonesia, Petrokimia Gresik bekerja sama dengan PT Garam (Persero) dan perusahaan multinasional Unilever Asia Pte. Ltd. Kerja sama itu untuk menyukseskan pembangunan pabrik soda ash atau Natrium Karbonat (Na2CO3).

Penandatanganan nota kesepahaman dilakukan secara virtual di dua tempat oleh Direktur Operasi & Produksi Petrokimia Gresik Digna Jatiningsih dan Direktur Utama PT Garam (Persero) Achmad Ardianto, di Gresik, serta Inorganics Procurement Director Unilever Asia Pte. Ltd., Pratishtha Garg, di Pasir Panjang, Singapura, pada Kamis (2/9).

Direktur Utama Petrokimia Gresik Dwi Satriyo Annurogo menjelaskan, nota kesepahaman itu dalam rangka menjamin ekosistem bisnis rencana pembangunan pabrik soda ash. Petrokimia Gresik akan membeli garam industri sebagai bahan baku soda ash serta bekerja sama dengan Unilever Asia sebagai offtaker yang akan menyerap produk soda ash.

”Kerja sama dengan PT Garam ini merupakan salah satu bentuk sinergi BUMN untuk meningkatkan perputaran perekonomian nasional sesuai dengan arahan pemerintah,” kata Dwi Satriyo.

Dwi Satriyo mengungkapkan, pabrik soda ash berkapasitas 300 ribu ton per tahun itu akan mulai beroperasi pada akhir 2024 dan bakal menjadi yang pertama di Indonesia. Karena itu, keberadaan pabrik itu sangat penting dan menjadi terobosan transformatif dalam mendukung kemajuan industri kimia nasional.

Seperti diketahui, soda ash merupakan bahan baku berbagai produk yang banyak ditemui sehari-hari. Seperti sabun, deterjen, kertas, tekstil, keramik, gelas, kaca beserta turunannya dan lain sebagainya. Kebutuhan soda ash di Indonesia sangat tinggi. Saat ini, suplainya 100 persen masih dipenuhi dari impor.

”Ini peluang besar. Soda ash Petrokimia Gresik akan memenuhi kebutuhan pasar domestik dan tidak menutup kemungkinan juga dapat melayani kebutuhan pasar global,” ujar Dwi Satriyo.

Pembangunan Pabrik Soda Ash Petrokimia Gresik menjadi wujud komitmen perusahaan dalam memperkuat industri kimia nasional melalui strategi related diversified industry. Yakni dengan mengoptimalkan pemanfaatan produk samping menjadi produk baru yang memiliki added value untuk mendukung industri lain. Pabrik itu mengutilisasi produk hilir dari pabrik amoniak-urea berupa CO2 yang diolah menjadi soda ash.

”Dengan demikian, Soda Ash yang diproduksi Petrokimia Gresik lebih ramah lingkungan karena menggunakan bahan baku CO2 yang berasal dari proses reaksi kimia dalam pembuatan pupuk urea, bukan berasal dari pembakaran (combustion) bahan bakar fosil. Ini sejalan dengan prinsip greenhouse gas emission (GGE),” tterang Dwi Satriyo

Sedangkan, produk samping pabrik soda ash berupa Ammonium Klorida (NH4CL) dapat digunakan sebagai bahan baku NPK, sehingga dapat mengurangi kebutuhan ZA impor untuk bahan baku NPK.

”Melalui program hilirisasi ini diharapkan Petrokimia Gresik akan makin mampu melaksanakan tugas pokok sebagai penopang ketahanan pangan nasional, sekaligus memperkuat industri kimia sebagai penggerak ekonomi nasional,” papar Dwi Satriyo.

BACA JUGA”: Atasi Ketergantungan Impor, BUMN Akan Akuisisi Peternakan, Tambang Fosfat dan Penambangan Garam

Direktur Utama PT Garam (Persero) Achmad Ardianto menyampaikan, perjanjian itu merupakan langkah besar bagi PT Garam untuk mewujudkan rencana jangka panjang dalam berkontribusi menyediakan garam industri yang berkualitas. ”Selain itu membangkitkan kepercayaan bagi Unilever untuk mendapatkan produk berkualitas yang disuplai bahan baku dalam negeri yang juga berkualitas,” ujar Achmad.

Sementara itu, bagi Unilever Asia, pendirian pabrik itu menjadi hal penting bagi struktur industri di Indonesia karena ini akan memanfaatkan sumber daya lokal untuk soda ash.

Penandatanganan MoU tersebut juga mendukung roadmap Pemerintah Indonesia dalam mencapai target substitusi impor sebesar 35 persen pada 2022, untuk mengurangi ketergantungan impor terhadap barang modal dan bahan baku. (*)

Reporter: JPG Group
Editor: Suprizal Tanjung