Ekonomi & Bisnis

Teknologi Blokchain Lebih Efisien dan Transparan

Kasubag Integrasi IT PTPN XI Evi Kuswardhani Utami saat Sosialisasi Aplikasi Tebuchain PTPN XI, Kamis (2/9). f. Puguh Sujiatmiko/Jawa Pos

batampos.id – Perbaikan ekosistem industri gula di Indonesia terus menjadi perhatian pemerintah serta pemangku kepentingan lainnya. Kali ini, PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) bekerja sama untuk melakukan transformasi dalam industri gula. Mereka memanfaatkan teknologi blockchain untuk bisa menciptakan ekosistem yang lebih efisien dan transparan bagi semua pihak.

Direktur PTPN XI R Tulus Panduwidjaja mengatakan, upaya tersebut dilakukan dengan menggabungkan aplikasi Mitra Tani yang dimiliki dengan platform TebuChain milik Bank Rakyat Indonesia. Dengan begitu, arus tebu milik mitra petani bisa terpantau dengan jelas sampai menjadi produk akhir yakni gula.

’’Dengan ini, setiap proses bisa terpantau secara cepat dan transparan. Sehingga, petani juga tahu jelas berapa hasil yang didapat dari tebu mereka,’’ ungkapnya dalam acara sosialisasi TebuChain di Surabaya, Kamis (2/9).

Dia menjelaskan, pillot project yang saat ini baru akan diterapkan di Pabrik Gula (PB) Pandji dan Pradjekan itu bakal memudahkan banyak pihak. Sebab, petani tebu bisa memantau sampai mana tebu mereka sudah diproses. Jika sudah diproduksi, pihaknya pun bisa langsung mengajukan kredit ke BRI tanpa harus menunggu hasil lelang. Selama ini keluhan petani adalah waktu menunggu dana hasil panen mereka untuk memulai masa tanam lagi.

Sedangkan, PTPN XI sendiri bisa mendapatkan kepastian pasokan dari mitra petani. Mereka bisa memanfaatkan teknologi blokchain agar bisa membuat produksi lebih efisien. ’’Potensinya sangat besar sekali karena Sistem Informasi Manajemen Pabrik Gula (SIMPG) dari kami saat ini juga sudah dipakai oleh PTPN 2, PTPN 7, PTPN 9 dan PTPN 14,’’ ungkapnya.

Dia berharap nantinya sistem tersebut bisa mencakup ekosistem secara menyeluruh. Bukan hanya pendanaan, dia berharap bahwa industri penyokong seperti pupuk juga bisa masuk dalam TebuChain. Sehingga, pertani tebu juga bisa mendapatkan akses terhadap pupuk langsung dari pabrik.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Bisnis Kecil dan Menengah BRI Amam Sukriyanto memaparkan bahwa TebuChain sebenarnya sudah dikembangkan sejak Desember tahun lalu. Pada fase pertama, pihaknya membuat platform tersebut untuk mengidentifikasi petani tebu serta kinerja mereka.

’’Jadi, kami masukkan data mereka mulai dari berbagai aspek. Mulai dari lahan, produktivitas, sampai loyalitas mereka kepada PG. Karena kita tahu ada fenomena tebu lari (tebu yang dibawa ke luar daerah untuk dapat harga yang lebih baik, Red),’’ ungkapnya.

Menurutnya, capaian loyalitas mitra petani PTPN XI sendiri sebenarnya sudah cukup baik. 97 persen petani diketahui memasok PG di wilayah mereka sendiri. Hal tersebut diakui bisa menekan biaya logistik tebu yang biasa membuat biaya tambahan.

BACA JUGA: Produktivitas Tebu di PTPN XI Mencapai 81,6 Ton Per Hektare

Dia menambahkan, penilaian tersebut bakal menjadi pertimbangan BRI untuk menyalurkan kredit. Rekam jejak setiap petani bakal langsung terlihat saat mengajukan dana talangan.

Pihaknya hanya perlu mendapatkan bukti kepemilikan gula yang nantinya juga bakal ada di sistem blokchain.

’’Hal tersebutlah yang menjadi dasar dari penerapan fase kedua alias integrasi pendanaan dalam teknologi TebuChain,’’ ungkapnya.

Saat ini, lanjut Amam, BRI telah menyalurkan kredit di sektor pertanian sebanyak Rp 117,5 triliun. Angka itu setara dengan 28 persen dari portofolio Nasional. (*)

Reporter: JPG Group
Editor: Suprizal Tanjung