Opini

Isdianto, Demokrat dan Palagan Terakhir Pilkada 2024

batampos.id – NAMA Isdianto, kembali menjadi perbincangan publik. Di jagat politik Bumi Segantang Lada, Kepulauan Riau (Kepri), namanya disebut-sebut menjadi salah seorang kandidat kuat dalam Musyawarah Daerah (Musda) IV Partai Demokrat Provinsi Kepri yang akan digelar pada 14 September 2021, di Lagoi, Bintan.

Adik mantan Gubernur Kepri alm. M Sani ini masuk dalam penjaringan bursa calon Ketua Dewan Pimpinan Daerah Partai Demokrat (DPD PD) Kepri pada 27-29 Agustus. Isdianto mendapat dukungan dari dua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Batam dan Lingga. Hal sama juga diraih dua kandidat lain, Husnizar Hood (Tanjungpinang dan Bintan) dan Asnah (Natuna dan Anambas).

Hanya satu DPC, yaitu Kabupaten Karimun yang abstain dalam pencalonan, tak memberikan dukungan suara karena dianggap sebagai bagian dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PD. Ketua DPC PD Karimun Osco Olfriady Letunggamu ditunjuk DPP PD menjadi Ketua Plt PD Karimun menggantikan Iwan Kusuma yang diberhentikan DPP PD karena ikut serta dalam Kongres Luar Biasa (KLB) Deliseradang, 5 Maret 2021 lalu. Bila kandidat lebih dari satu, dan sama-sama mendapat dukungan suara sama dari DPC, maka penentuan Ketua DPD akan diserahkan ke DPP untuk diputuskan berdasar hasil presentasi masing-masing kandidat di DPP PD.

Munculnya nama Isdianto dalam bursa kandidat Ketua PD Kepri, sudah diperkirakan banyak kalangan, termasuk kader PD. Pada Pilkada Gubernur Kepri 2020, PD memberi dukungan kepada Isdianto sebagai calon gubernur (Cagub) berpasangan dengan Suryani dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sebagai Cawagub. Isdianto saat itu menjabat Gubernur Kepri (masa waktu 27 Juli 2020 – 12 Februari 2021) menggantikan Nurdin Basyirun yang tersandung kasus gratifikasi korupsi oleh KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi).

Berdasarkan hitungan KPU Kepri, pasangan Isdianto-Suryani, nomor urut 2 meraih 280.160 suara (36,29 %), nomor urut 1 Soerya-Iman 183.317 suara (23,74 %), sedangkan nomor urut 3 Ansar-Marlin memperoleh 308.553 suara (39,97 %). Ansar-Marlin pun ditetapkan sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Kepri terpilih.
Seberapa penting dan perlukah menghitung kembali posisioning Isdianto dalam percaturan politik di Kepri ? Di sinilah letak menarik dan perlunya tulisan ini hadir untuk menganalisis, mengkalkulasi kembali hitungan politik posisioning Isdianto bila berlaga dan maju kembali pada Pilkada 2024 mendatang.

Sebelum lebih lanjut tulisan ini diurai sebagai analisis kualitatif, terlebih dahulu saya mohon izin, bahwa tulisan ini tidak bermaksud hendak menapikan kehebatan dua kandidat lain, Husnizar dan Asnah. Keduanya adalah sahabat dan partner politik saya yang memiliki kelebihan masing-masing. Apalagi, keduanya juga punya peluang yang sama dengan Isdianto, memimpin PD Kepri. Hanya saja, karena Husnizar dan Asnah rekam jejaknya tidak ditemukan sebagai kandidat dalam Pilkada Kepri, mungkin pada perspektif lain keduanya menarik dan perlu untuk diperbincangkan.

Bagi PD Kepri, nama Isdianto bukanlah sosok yang asing lagi. Saat Gubernur Kepri M Sani meninggal dunia 8 April 2016 di Jakarta, atau dua bulan baru menjabat bersama Nurdin Basyirun sebagai Wakil Gubernur, PD mendukung Isdianto, sebagai pengganti antar waktu (PAW). Mantan Kepala Dinas Pendapatan Daerah Pemprov Kepri saat itu, ditetapkan DPRD Kepri sebagai Wakil Guberur Kepri mendampingi Nurdin Basyirun yang diangkat sebagai Gubernur Kepri sisa masa jabatan periode 2016-2020.

Kemudian pada Pilkada Gubernur 2020, pria kelahiran 3 Mei 1961 ini pun kembali dipercaya PD untuk maju sebagai Cagub Kepri. Hanya saja, Pilkada Kepri 2020, belum berpihak kepada putra kelahiran Tanjungbatu, Kabupaten Karimun itu. Kekalahan Isdianto sebagai Cagub Kepri, bukan berarti karir politiknya sudah tamat.

Sudah menjadi tekat Isdianto akan maju kembali, rematch, sebaagai pertarungan ulang pada Pilkada 2024. Oleh karena itu, birokrat tulen alumni APDN (Akademi Pemerintahan Dalam Negeri) 1985-1988 ini, bila dipercaya DPP sebagai nakhoda PD Kepri,akan berpeluang besar maju kembali dalam Pilkada. Bermodalkan 36,29 % suara atau selisih 3,68 % dengan Gubernur Ansar, Isdianto punya peluang untuk menang, bahkan mengulang kesuksesannya pada Pilkada 2029. Sebaliknya, bila kalah lagi, boleh jadi Pilkada 2024 itu sebagai palagan terakhir Isdianto.

Tentu ada catatannya. Isdianto harus mampu meyakinkan publik untuk memperluas basis dukungannya, bukan hanya menggerakkan mesin partai secara power full, tapi juga relawan di luar partai yang telah dibentuknya sebagai tim pemenagan hingga kini. Sebab, melawan petahana sekelas Ansar Ahmad yang memiliki kepiawaian politik juga tidak mudah. Ditambah lagi calon lain, seperti Rudi, Walikota Batam dan Soerya Respationo, Ketua PDI-P Kepri, menjadi lawan tangguh Isdianto.

Bagi PD, majunya Isdianto sebagai Cagub Kepri, dapat memberi insentif perolehan suara pada Pemilu Legislatif 2024 mendatang. Ada korelasi positif yang signifikan secara linear bila ketua atau kader partai maju sebagai kandidat kepala daerah berpotensi mengangkat dan meningkatkan suara partai yang dipimpinnya. Dengan majunya ketua, partai dipastikan menjadi perhatian publik secara luas. Mesin partai pun bergerak signifikan dan menjadi motivasi dan menambah semangat tersendiri bagi

kader untuk memenangkan Pemilu Legislatif dan Pemilu Pilkada. Kursi DPRyang diraih PD pada Pemilu 2009 pun dapat diperoleh kembali pada Pemilu 2024.
Sebagai perbandingan, PDI-P Kepri misalnya, memperoleh insentif suara karena ketuanya Soerya Respationo sering mencalonkan diri sebagai Cawagub dan menjadi Cagub Kepri secara berturut-turut selama tiga periode. Menjadi juara dua periode berturut-turut di DPRD Kepri, dan memperoleh kursi DPR tiga periode berturut-turut. Soerya pernah terpilih sebagai Wagub Kepri pada periode 2010-2015 bersama alm. M Sani.

Hal sama juga dengan Ansar Ahmad, sebagai Ketua DPD Partai Golkar Kepri tiga periode. Ia pernah menjabat Bupati Bintan dua periode (2005-2010 dan 2010-2015), satu kali kalah maju sebagai Cawagub bersama Soerya (2015), dan menang sebagai Cagub bersama Marlin Pilkada 2020. PG juga berhasil meraih kursi DPR-nya kembali, setelah 2014 lalu gagal memperoleh kursi DPR.

Sementara PD, sudah empat kali Pilkada Kepri, tak pernah mengusung kader atau ketua partainya maju sebagai Cagub. PD lebih memilih mengusung calon dari luar partai atau brgabung dengan partai lain. Fakta menunjukkan PD belum pernah juara pada Pemilu Legislatif di Kepri. Apabila pada Pemilu 2009 PD meraih dua kursi di DPRD Kepri meningkat signifikan 7 kursi (2009) dari dua kursi (2004), tidak lain karena faktor SBY sebagai Presiden. Setelah itu, kursi PD di DPRD Kepri turun menjadi 5 kursi (2014-2019), dan turun kembali menjadi 4 kursi (2019-2024). Bahkan, setelah 2009, PD tak pernah lagi memperoleh kursi untuk DPR.*

Oleh: SURYA MAKMUR NASUTION
Ketua Insan Muda Demokrat Indonesia (IMDI) Kepri