Bintan-Pinang

Jemur Bonsai Asal Endemik Kepri hingga Luar Negeri

Sejumlah bonsai koleksi anggota PPBI Cabang Tanjungpinang dijemur di Halaman Parkir, Warung Kopi WnW, Jalan Ahmad Yani, Minggu (12/9) . F. Peri Irawan

batampos.id– Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) Cabang Tanjungpinang kembali gelar ngopi bareng dan jemur bonsai di Lapangan Parkir Warung Kopi WnW, Jalan Ahmad Yani, selama satu pekan ke depan.

BACA JUGA: Soerya Respationo Ajak Bahagia dengan Indahnya Merawat Bunga

Salah satu pengurus PPBI Cabang Tanjungpinang, Ucok menjelaskan kegiatan itu merupakan kegiatan ke dua, dalam rangka silaturahmi dan persiapan kontes nasional di Tanjungpinang.

Jika memenuhi ketentuan dan mendapat kesempatan akan diadakan di Kilometer (Km) 10. Biasanya masing-masing cabang, bisa mengadakan kontes satu sampai dua kali dalam setahun.

“Ini jadi batu loncatan, rencananya mau mengadakan kontes nasional rencana awalnya di bulan November,” kata Ucok, Senin (13/9).

Dalam kegiatan yang digelar selama tujuh hari itu, akan menjemur sebanyak 50 jenis bonsai, namun karena kesibukan belum semua peserta bisa mengantarkan koleksinya.

Yang dijemur ada yang berasal dari endemik asli Kepri jenis wahong dan santigi hingga bonsai yang dibawa dari luar negeri jenis lohansung dari Cina. Selain itu, juga ada jenis lain seperti beringin kimeng, beringin dolar, anting putri, sacang.

“Bagi masyarakat yang datang kemudian menawar koleksi yang dijemur maka dipertemukan dengan pemiliknya. Bisa dijual,” ujarnya.

Dari segi harga, dijelaskan Ucok, di Tanjungpinang saat ini masih berkisar antara Rp 100-150 juta di Tanjungpinang. Dalam penentuan harga juga bersifat relatif tidak berpatokan pada ukuran besar, kecil, tua atau muda melainkan keserasian dan idealnya suatu pohon.

Harga bonsai juga dapat lebih mahal karena perpindahan kepemilikan dari satu kolektor ke kolektor lain. Harganya menjadi mahal karena sudah menjadi kesenangan bagi orang yang menyukainya. “Sedangkan yang dijemur saat ini jenis anting putri dengan harga R 40-50 juta,” paparnya.

Di Tanjungpinang sendiri, masalah bonsai sudah menjadi hal umum, tidak menjadi barang langka yang susah dicari. Peminatnya juga banyak mulai dari remaja, kalangan bawah hingga menengah ke atas.

Yang membedakan dengan pohon lainnya, bonsai itu memiliki akar, batang, cabang dan ranting layaknya sebuah pohon besar yang ada di alam dirawat dan pertumbuhannya diarahkan sehingga menjadi populer.

“Kalau pohon biasakan tidak diarahkan, tidak dirawat,” terangnya. Selama masa pandemi, bonsai itu juga bisa menjadi sumber pemasukan karena selain sebagai kolektor dan pengrajin, juga ada beberapa orang yang menjualnya, sehingga ada perputaran ekonomi di dalamnya. “Walaupun penjualannya tidak selancar barang konsumtif, tapi dalam seminggu biasanya ada penjualan,” tambahnya. (*)

 

Reporter : Peri Irawan
editor: tunggul