Covid-19

Positivity Rate Turun Dibawah 5 Persen

Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi . (Handout Biro Pers Sekretariat Presiden)

batampos.id — Dalam beberapa hari terakhir, tingkat kepositifan kasus konfirmasi positif Covid-19 (positivity rate) hingga mencapai angka 3 persen. Angka ini jauh lebih baik dari standar WHO yakni 5 persen.

Per 12 September kemarin, Satgas Covid-19 mencatat bahwa positivity rate harian mencapai 3,05 persen. Sementara dalam interval mingguan, pada periode 5 hingga 11 September 2021, positivity rate tercatat 4,23 persen. Artinya, angka kepositifan konsisten berada di bawah 5 persen selama seminggu terakhir.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menyebut, saat ini terjadi tren penurunan kasus di kawasan Afrika, Asia Tenggara dan Mediterania Timur. Sementara kawasan benua Amerika justru mengalami kenaikan kasus. ”Kita bersyukur Indonesia salah satu negara yang terus mengalami tren penurunan” ujarnya.

WHO mencatat, kasus Covid-19 secara global telah mencapai 223 juta dan angka kematian sudah melebihi 4,6 juta orang. Jumlah kasus baru relatif stabil dalam satu bulan terakhir.

Dalam beberapa hari terakhir, lanjut Retno, positivity rate nasional berhasil turun di bawah angka 5 persen yang merupakan ambang batas WHO. Padahal pada Juli 2021 lalu, positivity rate hampir mendekati 40 persen

Retno menyebut, menurut WHO, negara-negara dengan tingkat vaksinasi tinggi mengalami pemutusan korelasi antara kenaikan kasus dengan tingkat kematian. Artinya meskipun terjadi lonjakan kasus namun tidak diikuti dengan kenaikan rawat inap dan juga kematian. ”Hal ini membuktikan bahwa vaksin bekerja,” jelasnya.

Namun, dia mengingatkan masih banyak tantangan yang harus dilalui sebelum ‘peperangan’ ini dapat dimenangkan. Menlu memastikan mesin diplomasi Indonesia akan terus bergerak dengan kecepatan penuh agar kebutuhan vaksin nasional dapat terpenuhi. Dengan tetap menyuarakan akses yang adil terhadap vaksin untuk semua negara.

Jubir Satgas Covid-19 Wiku Adisasmito mengungkapkan bahwa menurut catatan Satgas, Indonesia telah mengalami penurunan kasus hingga 74 persen dari puncak kasus yang terjadi sebelumnya.

Meski demikian ia mengingatkan bahwa kewaspadaan harus selalu dijaga, mengingat perkembangan virus Covid-19 masih cukup dinamis. Virus ini menurut Wiku seperti halnya semua virus, memiliki sifat alami untuk mengalami perubahan terus-menerus. ”Virus akan terus bermutasi selama virus masih ada di tengah masyarakat, baik pada skala lokal maupun global,” jelasnya.

Pada 7 September 2021, BPOM telah memberikan EUA kepada Vaksin Janssen dan vaksin Convidecia yang dikembangkan CanSino Biological Inc. dan Beijing Institute of Biotechnology. Vaksin Janssen dan Covidecia menjadi ke-8 dan ke-9 yang telah mendapatkan EUA dari Badan POM pada tahun ini.

Kedua vaksin tersebut menyusul tujuh vaksin lain yang telah mendapatkan EUA lebih awal, yaitu Sinovac, Vaksin COVID-19 Bio Farma, AstraZeneca, Sinopharm, Moderna, Pfizer, dan Sputnik V.

Terkait vaksinasi, Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono meminta agar pemerintah daerah bisa ngebut. Dalam dua bulan terakhir, vaksin Covid-19 yang diterima Indonesia sudah cukup banyak. Bahkan kedatangan vaksin terus berlangsung hingga Desember.

Jika dihitung dari awal kedatangan vaksin hingga tahap ke 56 yang datang pada Sabtu lalu (11/9), Indonesia telah memiliki 232 juta dosis vaksin. ”Bulan ini harapannya bisa menyuntikan 2 juta dosis vaksin perhari,” ungkap Dante.

Yang masih menjadi pekerjaan rumah adalah vaksinasi untuk lansia. Dante meminta pemerintah daerah memiliki trobosan terkait hal ini. ”Kami juga perlu dukungan dari seluruh elemen masyarakat agar tidak ada yang tertinggal dalam program vaksinasi ini,” ungkapnya.

Selain itu, Dante meminta agar masyarakat tidak memilih vaksin apa yang digunakan. Menurutnya, vaksin terbaik adalah vaksin yang ada saat ini. Jika menunda vaksinasi akan berdampak lebih parah pada kondisi tubuh jika terkena Covid-19. ”Ada ribuan anak yang kehilangan orang tuanya karena Covid-19,” katanya.

Lalu terkait jumlah kasus aktif dan angka kematian akibat Covid-19 yang menurun di Indonesia tidak boleh disikapi dengan sembrono. Masyarakat tetap diminta waspada dengan lonjakan kasus Covid-19. Caranya dengan mematuhi protokol kesehatan. ”Untuk itu kita harus mematuhi kebijakan protokol kesehatan yang sudah dikeluarkan pemerintah karena bertujuan untuk kebaikan kita bersama,” ucap dokter spesialis penyakit dalam itu. Menurutnya, kebijakan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) untuk menanggulangi agar Indonesia tidak terjadi lonjakan kasus. (*)

Sumber: JP Group
Editor: Jamil Qasim