Nasional

Siapkan Konsep Supply Chain Logistic Terintegrasi Laut dan Udara

Nelson Idris Jadi Staf Ahli Kepelabuhanan dan Bandara

Staf Ahli Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam membidangi perhubungan, khususnya kepelabuhanan dan bandara. (Socrates)

batampos.id – Setelah tidak lagi menjabat sebagai direktur Badan Usaha Pelabuhan (BUP BP Batam) dan digantikan Dendi Gustinandar, Nelson Idris kini menjadi staf ahli Deputi Bidang Pengusahaan membidangi perhubungan, khususnya kepelabuhanan dan bandara.

‘’Saya sedang menyiapkan konsep supply chain logistic yang terintegrasi laut dan udara, sehingga Batam akan menjadi transit produk industri besar melengkapi industri yang sudah ada. Selama ini peran tersebut didominasi oleh Singapura. Produk-produk industri besar seperti LG, Toshiba, Panasonic, Samsung, dan industri lainnya sebelum produk-produk tersebut dikirim ke beberapa negara konsumen, dikirim terlebih dulu ke Singapura untuk proses klasifikasi jenis, kalkulasi, repackaging, dan distribusi. Layanan tersebut full digital robotic.
Mengingat keterbatasan lahan di Singapura tidak tertutup peran tersebut juga bisa dilakukan oleh Batam, tentu harus didukung oleh digitalisasi proses business bandara dan pelabuhan modern,’’ kata Nelson Idris, kepada Batam Pos, Minggu (12/9).

Nelson merupakan seorang certified ahli Kepelabuhanan dan juga seorang ahli IT pemilik Internasional TOGAF Certified CN 130851. Nelson meniti karir di sektor pelayaran di PT Pelni (Pelayaran Nasional Indonesia) berbagai jabatan. Posisi yang pernah dijabat antara lain tahun 1991 pernah bertugas di kantor pusat Jakarta selama 10 tahun kemudian pindah ke cabang Makassar 4 tahun dan pindah lagi ke cabang Medan 4 tahun pula.

Tahun 2009 bertugas di Dumai, sebagai Kacab Pelni merangkap Kacab SBN (PT Sarana Bandar Nasional), kemudian pindah sebagai Kacab di Merauke. Dua tahun kemudian pidah lagi Kacab Fakfak, lalu enam bulan kemudian pindah ke Ambon sebagai GM PT Pelni merangkap GM PT SBN (Pelni logistic). 13 tahun lamanya bertugas di berbagai daerah, pernah menjabat ketua APBMI Merauke, ketua DPD INSA Ambon.

Kemudian tahun 2014 kembali ke Jakarta. Nelson yang merupakan alumni PAU Universitas Indnesia keahlian SIM, dipercaya menjadi direktur PT Solusi Integritas Utama yang bergerak dalam IT Solustion, sampai 2016.

Kemudian Nelson kembali ke Kantor pusat menjabat sebagai Vice President Information Tekhnologi PT Pelni (Persero) dari 2016-2019. Pada Desember 2019 ikut biding jabatan untuk direktur BUP BP Batam, dan terpilih. Per 10 Januari 2020 dilantik sebagai Direktur BUP BP BATAM.

Pada Agustus 2021 lalu, Nelson genap berusia 58 tahun, berhenti dari direktur BUP dan ditempatkan sebagai staf Ahli Bidang Perhubungan meliputi Bandara dan Kepelabubanan pada Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam.

Saat aktif di Pelni, Nelson pernah meraih penghargaan bergengsi tingkat nasional sebagai Top IT Manager dalam Ajang Penghargaan Top IT and Top Telco Award Tahun 2017 dan kembali meraih penghargaan yang sama tahun 2018 yang digelar oleh Majalah IT Works. Beberapa Legacy Bidang ICT terukir di Pelni terutama digitalisasi bidang tiketing dan implementasi dan teknologi komunikasi publik bergerak di atas kapal.

Pengalamannya di bidang pelayaran, logistic (alumni logistic course NUS Singapore) dan pelabuhan serta menguasai ICT. Digital system sangat mumpuni untuk redesignt supply chain logisic terintegrasi di kawasan free trade zone (FTZ) Batam.

Batam diharapkan menjadi transhipment muatan baik dalam kontainer maupun general cargo padat dan curah melalui pelabuhan dan bandara. Salah satu bentuk kegiatan transhipment itu adalah repackaging yang mungkin dapat terealisasi dalam waktu dekat.

Di depan mata Selat Singapura merupakan alur pelayaran terpadat kedua di dunia, ratas 100.000 call kapal dan 90 juta TEUs kontainer lalu lalang pertahun. PSA di Singapura dan MNC Group di Malaysia mereka sudah mendapat berkah dari pergerakan kapal-kapal kontainer tersebut. Tetapi kenapa tidak mengalir ke Batam? Sekitar 16,5 juta TEUs kontainer berseliweran di perairan Indonesia per tahunnya, 8 juta TEUs di antaranya dari berbagai pelabuhan di Indonesia menuju pelabuhan transhipment PSA Singapura.

Pertanyaannya kenapa mereka tidak melakukan transhipment di Pelabuhan Batuampar? Dan apakah bisa? Sepintas pertanyaannya sederhana tapi kalau kita flasback ke belakang sepuluh tahun yang lalu ternyata perencanaan perbaikan infrastruktur dan suprasrtuktur sudah ada (tertuang dalam RIP tahun 2009), lalu kenapa tidak kunjung terealisasi?

Beberapa kali investor gagal investasi di Pelabuhan Batuampar, terakhir tahun 2020 sudah ada HoA antara BP Batam dengan Pelindo 2 untuk pengembangan Pelabuhan Batuampar, kemudian gagal lagi.

Apa hambatannya? Kalau hambatan-hambatan tersebut tidak bisa diselesaikan dengan tegas, Apakah perlu dicari lahan lain uutuk membangun pelabuhan baru sebagai pelabuhan transhipment? Lalu bagaimana nasib Pelabuhan Batuampar ke depannya? Akankah Batuampar menjadi pelabuhan domestik saja?

Tetapi apapun ceritanya, Batam harus punya pelabuban yang representatif, bertaraf internasional dilengkapi peralatan bongkar muat QC Cran, RTG modern dengan TOS, sistem pelaporan terintegrasi,

Modal dasar untuk mengelola kepelabuhan aplikasi BSIM sudah diterapkan, tidak ada lagi antrean open PUK di kantor BUP. Cukup registrasi di kantor masing-masing saja. Pengurusan PKKA sepanjang dokumen lengkap cukup 1 jam saja.

Untuk kegiatan STS dan FSU sudah diberlakukan Single Entri System terpadu antara CQIP dengan BP. Penyelesaian cepat tanpa perlu bertatap muka. Pembayaran tagihanpun sudah dengan sistem host to host melalui bank. Pembangunan infrastruktur CY, perbaikan pintu gerbang, RF sedang dimulai diperkirakan pada Maret tahun depan selesai. Apalagi BLE (Batam Logistic Ekosistem) sudah di-lounching, mau tidak mau proses transaksi berbasis digital harus dilaksanakan.

BLE di Batam, BILE (Bintan Logistic Ekosistem) di Bintan dan KALE (Karimun Logistic Ekosistem) di Karimun segera menyusul. Batam adalah Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas. Sementara Bandara Internasional Hang Nadim Batam sebagai titik transfer (hub) kargo domestik dan internasional. Bandara Hang Nadim, sangat tepat dijadikan pusat logistik di wilayah Indonesia bagian Barat didukung dengan KPBU.

Sektor kargo dan logistik merupakan salah satu sektor andalan yang memiliki potensi pertumbuhan, baik pada masa pandemi maupun pasca pandemi dibuktikan produksi moving container di pelabuban Batam dari Januari sampai Agustus 2021 mencapai 402.160 TEUs, naik 17,5% dibanding periode yang sama tahun lalu.

‘’Batam akan menjadi satu rantai pasok logistik yang terintegrasi darat, laut, dan udara. Anda akan bangga menjadi warga Batam,’’ papar Nelson Idris. (*)

Laporan: SOCRATES
Editor: MOHAMMAD TAHANG