Feature

Berlayar Jauh Hingga ke Pulau Batas Negara, PELNI Jadi Moda Transportasi Laut Penghubung Nusantara

Kehadiran moda transportasi laut PT. Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI) Persero cabang Batam sudah bertahun-tahun melayani kebutuhan akan transportasi laut bagi ribuan masyarakat Batam. Selain soal tarif yang murah, moda transportasi ini paling cocok dan ramah bagi keluarga yang akan berpergian dari dan ke Provinsi Kepulauan Riau, yang memiliki tujuh kabupaten/kota. Armada PT PELNI bahkan menjadi tumpuan utama bagi warga Kepri hingga di pulau terluar.

***

KM Kelud salah satu armada PT PELNI Persero yang melayani pelayaran wilayah barat Indonesia saat menurunkan penumpang di Karimun, Kepri, belum lama ini

PT PELNI sebagai satu-satunya transportasi laut yang mengedepankan pelayanan hingga pulau terluar yang beroperasi di Batam. Mengedepankan pelayanan yang murah dan terjangkau. Tidak seperti moda transportasi lain yang mmemberlakukan batas tarif atas, terutama saat mome besar seperti mudik lebaran, natal, dan tahun baru. PT PELNI konsisten hadir dengan tarif normal dan siap menjadi penghubung daerah asal dan tujuan penumpang.

Bagi Provinsi Kepulauan Riau, PELNI sangat berperan untuk moda transportasi. Khususnya untuk masyarakat Batam. Sebagai salah satu kota dengan kemajuan cukup pesat, moda trasnportasi laut milik PT PELNI menjadi penghubung menyatukan pulau-pulau di Kepulauan Riau dan Indonesia.

Kepala Cabang Pelni Batam, Agus Suprijatno mengatakan saat ini ada untuk armada KM Kelud dalam satu minggu ada dua kali keberangkatan. Untuk tujuan ke Jakarta satu kali dan untuk ke Belawan satu kali keberangkatan, dan itu sudah secara kontinyu berjalan. Begitu juga dengan KM Umsini yang melayani keberangkatan penumpang. KM Umsini merupakan kapal yang melayani trayek panjang. Untuk satu trayek bisa menghabiskan waktu hingga dua minggu. Misalnya untuk keberangkatan Batam-Kupang dan kembali lagi membutuhkan waktu dua minggu, sama halnya dengan Jakarta dan ke Papua sana membutuhkan waktu kurang lebih dua minggu.

“Untuk KM Umsini ini ada dua kali dalam satu bulan,” kata Agus beberapa waktu lalu.

Begitu juga dengan KM Bukit Raya, dalam satu bulan itu bisa empat kali keberangkatan. Khusus untuk KM Bukit Raya, Agus menjelaskan ada perbedaan dengan armada yang lain, karena jadwal bisa berubah-ubah, karena Bukit Raya merupakan kapal yang melalui perjalanan hingga ke sungai, dan tergantung dari pasang surut arus.

Kapal motor (KM) Bukit Raya milik PELNI berlayar hingga jauh ke pulau terdepan berbatasan langsung dengan Singapura dan Malaysia.

KM Bukit Raya menjadi wakil Indonesia ke batas negara. Kapal dengan home base Jakarta dengan rute Tanjung Priok Jakarta, Belinyu, Bangka, Kijang, Bintan. Letung, Tarempa Kabupaten Anambas, Selat Lampa, Midai, Serasan Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau ini, akan mengakhiri perjalanan di Pontianak, Kalimantan Barat untuk mengantar, menyapa masyarakat di daerah tertinggal, terpencil, terdepan dan perbatasan (T3P).

KM Bukit Raya merupakan kapal tipe 1000 pax yang bukan kapal terbesar milik PELNI. Kapasitas 1,000 penumpang sudah cukup untuk melayani kebutuhan mobilitas warga daerah T3P dalam 2 minggu pelayaran PP. KM. Bukit Raya juga menyediakan lapangan tenis meja, minigym yang dapat menjadi pengusir penat perjalanan panjang dengan pemandangan sebagian besar lautan. PELNI juga mengantar kebutuhan pokok, barang penting serta mendukung mobilisasi warga ke daerah T3P di seluruh pelosok negeri.

KM. Bukit Raya akan mengantar penumpang antar pulau, selepas dari Blintu, Bangka kapal akan menyambangi Kijang, Tanjung Pinang lalu berlayar jauh ke Letung. Dari Tarempa Kabupaten Anambas, Bukit Raya menuju Timur Laut ke Natuna. Kapal akan bersandar di Pelabuhan Selat Lampa, pelabuhan laut yang besar di sisi Barat Pulau Natuna Besar. Begitulah rute yang dilalui salah satu armada andalan milik PT PELNI ini.

Selain mengoperasikan KM. Bukit Raya yang dapat mengkoneksikan warga daerah T3P. Di Provinsi Kepulauan Riau juga dioperasikan kapal perintis Sabuk Nusantara 80 dan Sabuk Nusantara 43. Rute kapal perintis ibarat Metro Mini, kapal hanya berlayar dalam wilayah Kepualan Riau dari Tanung Pinang ke pulau tujuh serta pulau-pulau kecil.

“Namun untuk saat ini kapal difungsikan sebagai Isoter bagi pasien Covid-19 di Belawan. Jadi untuk saat ini hanya KM Kelud yang beroperasi. Jadi kalau normal PELNI bahkan melayani hingga daerah T3P dan menjadi moda transportasi dalam memenuhi kebutuhan masyarakat,” jelasnya.

Vice Presiden Pemasaran PT PELNI, Capt Kendro mengatakan saat ini kapal menghubungkan Nusantara. Hal ini karena upaya PElNI dalam menjangkau pulau terluar dan berbatasan langsung dengan negara lain. Tidak dipungkiri kehadiran PELNI selama ini sudah menyatukan suluruh pulau di Indonesia. Bahkan PELNI sudah bisa melayani meskipun daerah belum memiliki pelabuhan. PELNI tidak melulu bicara tentang untung, dan lebih kepada tanggungjawab sosial terhadap pemenuhan kebutuhan moda transportasi bahkan bagi mereka yang tinggal di pulau terluar sekaligus, dan kesulitan mendapatkan moda transportasi dengan berbagai alasan.

“Negara kita merupakan kepulauan, ketika orang akan bepergian ke satu Pulau Jawa ada sembilan alternatif, naik pesawat, kereta api, bis, mobil pribadi, sepeda motor. Kalau lintas pulau, hanya dua alternatif, pesawat atau kapal. Kalau tidak punya landasan pesawat tak bisa landing. Penerbangan menghitung nilai komersil, harus seimbang cost dan benefit. Kami moda laut, belum ada pelabuhannya kami bisa masuk. Begitulah peran PELNI dalam menghubungkan Indonesia, dan itu sudah dirasakan masyarakat kehadiran kami,” paparnya saat berkunjung ke Batam beberapa waktu lalu.

Ia mengungkapkan Nusantara kita terhubung oleh kapal. Pihaknya juga melayani pulau-pulau kecil. Sebanyak 26 unit kapal besar melayani jarak jauh. Di Kepri ada tiga kapal kecil perintis kapal 300 melayani Tanjungpinang dan lainnya. Adajuga tujuan ke belitung dan pontianak, total ada 45 trayek di seluruh Indonesia. Total kapal 26 dioperasikan, 45 trayek.

“Kita dikasih kapal 50 kapal, lima buat cadangan. sembilan kapal tol laut. Kapal ternak subsidi, tarif 750 ribu, dari biasanya 2 juta per ekor. Kapal rede 16 unit, di Kepri ada dua di Tanjungbalai, Karimun penghubung dari kapal besar ke pulau yg tidak ada pelabuhan. Karena belum ada pelabuhan dan atau datarannya dangkal,” jelasnya.

Lanjutnya, Misi Geoekonomi, PELNI ingin meningkatkan kondisi ekonomi masyarakat di pulau-pulau. Pihaknya berharap dengan beroperasinya PELNI menjangkau pulau terluar sekaligus, diharapkan pulau tersebut memiliki kontribusi perdagangan. Seperti menghasilkan cokelat, kopra, beras dll. Semua barang besar dan keperluan rumah, naik kapal. Sehingga PELNI menghubungkan seluruh kehidupan masyarakat, tidak saja sebagai moda transportasi, namun juga menjadi andalan bagi mereka dalam membangun perekonomian mereka. Kemudian Geo Strategis dimana PELNI menjadi jembatan dan sebagai penghubung ke seluruh Indonesia, terutama di Kepri saat ini.

“Geopolitis, kami juga sebagai alat bantu pemerintah, dalam kondisi for e majeur, ada kebakaran, kerusuhan, dan peristiwa, kami bergerak duluan. kita membawa alat berat, tenaga kesehatan dan sukarelawan dari Jakarta,” Kendro menjelaskan.

PELNI juga mendorong pelayanan online guna mempermudah dalam pemesanan tiket. Digitalisasi ini menjadi kemudahan terutama di tengah pandemi Covid-19. Transaksi digital ini juga mengurangi penggunaan uang tunai, dan mendorong cashless di semua transaksi pembayaran urusan tiket PELNI.

Peran Angkutan Pelni Dalam Menjaga Stabilitas Harga Komoditi
PT Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI) Cabang Batam turut membantu pemerintah Kota Batam dalam menjaga stabilitas harga komoditi. Batam merupakan daerah bukan penghasil, dan mengharapkan pasokan dari luar daerah.

Kehadiran PT PELNI melalui KM Kelud turut membantu keberlangsungan hidup masyarakat Batam dalam memenuhi pasokan komoditi. Sebagai salah satu angkutan laut yang melayani perjalanan dari dan ke Batam, komoditi sayur dari luar kota bisa tiba di Batam dengan baik, sehingga pasokan terjamin.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Batam, Gustian Riau mengatakan hampir semua komoditi kebutuhan pokok berasal dari luar daerah. Salah satu daerah pemasok yaitu Jakarta, dan disusul Kota Medan, Sumatera Utara. Dua jalur pelayaran ini merupakan jalur rutin yang dilayani KM Kelud.

Menurutnya, peran angkutan laut sangat penting dalam menjaga stabilitas harga. Ongkos pengiriman yang murah bila dibandingkan dengan angkutan udara, menjadi faktor pentingnya perang angkutan laut untuk Batam.

“Salah satunya PT PELNI ini. Tidak saja bagi penumpang, namun juga dalam pengiriman komoditi kebutuhan pokok ke Batam. Kalau pakai kapal harga bisa lebih terjaga, sehingga masyarakat bisa mendapatkan pasokan kebutuhan, dan tidak memberatkan, dan juga menjaga terjadinya inflasi,” kata Gustian, Senin (13/9).

Ia menjelaskan, soal harga di pasar sangat mempengaruhi kondisi perekonomian di Batam. Dengan adanya pelayanan angkutan laut dari PT Pelni diharapkan pasokan komoditi ini semakin terjamin. Ia tidak memungkiri harga jual akan jauh lebih tinggi bila pengiriman melalui angkutan udara.

“Terutama selama pemberlakuan PPKM Darurat untuk Jawa dan Bali. Kedua daerah ini merupakan pemasok utama untuk komoditi di Batam. Memang ada kekhawatiran waktu itu, sebab ada pembatasan untuk semua angkutan. Namun kami patut bersyukur mereka tetap melayani untuk kargo, sehingga tidak ada masalah untuk pasokan ke Batam,” bebernya.

Gustian menyebutkan, hampir semua komoditi seperti cabai, bawang, telur, hingga sayur-sayuran berasal dari luar daerah. Untuk itu peran angkutan laut terutama Pelni salah satu yang sangat penting bagi Batam.

“Sangat membantu kami dalam pasokan komoditi ke Batam, karena harga bisa lebih murah, dan masyarakat bisa terhindar dari lonjakan harga. Hal ini sangat penting, karena komoditi kebutuhan pokok ini adalah hal yang utama, dan hak masyarakat yang harus dipenuhi pemerintah, dan Pelni hadir untuk hal ini di Kota Batam yang merupakan salah satu kota yang memiliki kemajuan cukup pesat,” bebernya.

Tetap Jadi Moda Transportasi Laut Andalan di Tengah Pandemi
Di tengah kondisi pandemi Covid-19 yang masih melanda Indonesia, PT Pelayaran Nasional Indonesia atau PT PELNI (Persero) tercatat masih dapat mengangkut 1.234.954 pelanggan di paruh pertama 2021.

Direktur Usaha Angkutan Penumpang PT PELNI (Persero) O.M. Sodikin menjelaskan, secara akumulatif jumlah pelanggan kapal PELNI pada armada kapal penumpang dan kapal perintis di semester I/2021 tercatat naik 3,2 persen jika dibandingkan periode yang sama ditahun 2020 sejumlah 1.195.938 pelanggan.

Sodikin merinci jumlah pelanggan pada kapal penumpang sepanjang semester I/2021 tercatat sebanyak 968.498 pelanggan. Jumlah tersebut turun 2,7 persen jika dibandingkan dengan semester I/2020 yang mencapai 995.749 pelanggan. Sementara itu, jumlah penumpang kapal perintis pada periode semester I/2021 naik 33 persen jika dibandingkan periode yang sama di tahun lalu atau dari 200.189 pelanggan menjadi 266.456 pelanggan.

“Penurunan penumpang pada armada kapal penumpang di semester I terjadi karena terdapat kebijakan pengendalian mobilitas masyarakat akibat pandemi Covid-19 seperti peniadaan angkutan mudik 2021, penutupan sejumlah pelabuhan dalam rangka PSBB, hingga pengetatan persyaratan perjalanan dengan transportasi laut,” ungkapnya.

Sepanjang satu semester kemarin, lima rute padat kapal penumpang yakni rute Belawan – Pulau Batam dengan jumlah penumpang mencapai 18.428 pelanggan, disusul dengan rute ParePare – Tarakan (17.826), Pulau Batam – Belawan (14.341), Makassar – BauBau (11.845), dan Tarakan – ParePare (11.809).
Sementara itu, lima rute terpadat kapal perintis meliputi rute Tua Pejat – Teluk Bayur dengan jumlah penumpang mencapai 4.411 pelanggan, Kalianget – Masalembo (3.795), Tanjung Wangi – Sapeken (3.630), Banda – Amahai (3.485), serta Masalembo – Kalianget (3.307).

“Sesuai ketentuan selama masa pandemi, Kapal PELNI hanya mengangkut penumpang 50 persen dari kapasitas terpasang. Hal tersebut dilakukan agar pelaksanaan prokes tetap terjaga selama pelayaran berlangsung,” tambah Sodikin.

Lanjutnya, PELNI terus menjaga performa ketepatan waktu (on time performance/OTP) dalam kegiatan operasionalnya walaupun ditengah keterbatasan kegiatan selama pandemi Covid-19. Pada semester I/2021, OTP kapal penumpang PELNI tercatat sebesar 96,65 persen dan kapal perintis tercatat sebesar 95,22 persen. “Perusahaan akan terus berkomitmen untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada seluruh pelanggan dan berupaya untuk menjaga on time performance dalam setiap kegiatan operasional armada kapal PELNI,” terangnya.

Di samping itu, Perusahaan juga terus meningkatkan pelayanan untuk memberikan kemudahan kepada pelanggan kapal PELNI. Sodikin menyampaikan, hingga saat ini layanan mesin cetak boarding pass mandiri (vending machine) telah digunakan di 10 pelabuhan keberangkatan kapal meliputi Tanjung Priok, Semarang, Surabaya, Makassar, Medan, Ambon, Bitung, Benoa/Denpasar, BauBau, dan Balikpapan.

“Perusahaan berencana untuk menambah vending machine di 10 pelabuhan lainnya (Pulau Batam, Tanjung Pinang, Tanjung Balai Karimun, Pare-Pare, Kumai, Sampit, Batulicin, Tarakan, Nunukan, serta Pontianak). Kami berharap rencana ini dapat terlaksana di sisa tahun 2021,” tambah Sodikin. Selama masa PPKM berlangsung, Perusahaan juga semakin memperketat protokol kesehatan selama pelayaran termasuk dengan dokumen pendukung perjalanan.

Hingga saat ini, tiket kapal PELNI hanya dapat diperoleh melalui loket kantor cabang dengan sistem pembayaran secara cashless.
Sebagai pelengkap dokumen perjalanan, seluruh penumpang juga diwajibkan menyertakan hasil negatif tes PCR dengan masa berlaku 2 x 24 jam sebelum keberangkatan atau hasil negatif rapid test antigen dengan pengambilan sampel yang diambil dalam kurun waktu maksimal 1 x 24 jam serta mengisi e-HAC Indonesia.

“Perusahaan kembali mengingatkan kepada calon penumpang kapal PELNI untuk dapat melengkapi diri dengan syarat perjalanan yang berlaku saat ini, salah satunya berupa sertifikat vaksinasi minimal dosis pertama,” ungkapnya.

PELNI sebagai Perusahaan Badan Usaha Milik Negara yang bergerak pada bidang transportasi laut hingga saat ini telah mengoperasikan sebanyak 26 kapal penumpang dan menyinggahi 76 pelabuhan serta melayani 1.058 ruas.
Selain angkutan penumpang, PELNI juga melayani 45 trayek kapal perintis yang menjadi sarana aksesibilitas bagi mobilitas penduduk di daerah 3TP di mana kapal perintis menyinggahi 285 pelabuhan dengan 3.811 ruas.

PELNI juga mengoperasikan sebanyak 16 kapal Rede. Sedangkan pada pelayanan bisnis logistik, kini PELNI mengoperasikan 9 trayek tol laut serta 1 trayek khusus untuk angkutan ternak. PELNI juga membantu pemerintah dalam mengatasi persoalan Covid-19 dengan mengalihfungsikan kapal sebagai Isoter bagi pasien Covid-19. (*)

Reporter: YULITAVIA