Feature

Hari Sekolah Tiba, Subuh Sudah Minta ke Ayah untuk Mandi

Belajar dari Ai Dewi dan Ai Putri, Kembar Dempet yang Tidak Lelah Berjuang

Anak kembar siam Al Putri Dewi Ningsih dan Al Putri Anugrah bersama dengan Ayahnya Iwan Kurniawan (kanan) dirumahnya dikawasan Kabupaten Garut, Jawa Barat, Sabtu (4/9/2021). (HARITSAH ALMUDATSIR/JAWA POS)

Dewi dan Putri tumbuh menjadi bocah-bocah ceria yang antusias belajar di sekolah umum serta bermain bersama kawan-kawan sebaya. Mereka bisa bicara tepat waktu, memahami setiap pelajaran serupa anak lain, bahkan memiliki memori yang kuat.

Laporan: SAHRUL YUNIZAR, Garut
Editor: Jamil Qasim

DARI balik daun pintu, Dewi dan Putri melongok. ”Ayah lagi nggak ada,” kata keduanya berbarengan dalam bahasa Indonesia berlogat Sunda.

Sabtu petang (4/9) pekan lalu, saat kami bertandang ke rumah kakak adik kembar dempet tersebut di Garut, Jawa Barat, Iwan Kurniawan, ayah mereka, sibuk mengurus dokumen.

Keesokan paginya (5/9) mereka harus berangkat ke Bandung. Rencananya, selama sebulan, mereka berada di ibu kota Jawa Barat itu. Selama itu pula Ai Dewi Putri Ningsih dan Ai Putri Anugrah, nama lengkap si kembar yang dilahirkan pada 2013, rawat jalan di Rumah Sakit dr Hasan Sadikin (RSHS).

”Ayah nuju di mana? Aya tamu di bumi,” ucap Dewi di telepon kepada ayahnya setelah mempersilakan kami masuk.

Dari ujung sana, Iwan yang sehari-hari beternak bebek pun menjawab akan pulang. Bukan hanya hari itu, beberapa hari belakangan ayah tiga anak tersebut memang sangat sibuk.

Kali pertama berkontak dengannya pada Rabu (1/9) pekan lalu, kami menyampaikan niatan untuk berkunjung ke Garut. Namun, esoknya (2/9) Iwan bersama Dewi dan Putri harus pergi ke Bandung. Mereka diundang kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat untuk menerima sejumlah bantuan. Sekaligus mengobrol secara virtual dengan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. Setelah itu, mereka harus kembali ke Garut.

Kini Dewi dan Putri hampir berusia 8 tahun. Semasa bayi, rekan kami yang lain dari Jawa Pos pernah menulis tentang Kaka dan Ade –nama panggilan untuk Dewi si sulung dan Putri si bungsu dari ibu mereka– yang dilahirkan di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, itu.

Kini betapa mereka telah tumbuh menjadi bocah-bocah ceria. Bersama teman-teman sebayanya, mereka sering bermain bersama di luar rumah. Mereka juga belajar di sekolah umum. Demikian pula ketika mengaji dan bimbingan belajar. Keduanya bersosialisasi tanpa kendala. ”Sejak kecil, saya dan istri melatih mental mereka,” ujar Iwan setelah sampai di rumah yang terletak di Kampung Padasari, Desa Cinunuk, Kecamatan Wanaraja, Kabupaten Garut, itu.

Iwan kini sendirian merawat kedua putri dan si sulung yang biasa dipanggil Abang oleh adik-adiknya. Yani, istri sekaligus ibu ketiga buah hatinya, berpulang tahun lalu. Namun, sedari masih didampingi Yani, Iwan memang terus melatih kedua putrinya untuk kuat, untuk tidak pernah merasa berbeda. Ikhtiar itu dia lakukan demi masa depan mereka.

Dewi dan Putri pun sudah biasa bepergian ke tempat-tempat ramai sejak bayi. Mereka diajak berwisata. Diajak ke mana-mana oleh orang tuanya. Dengan satu tujuan: membuat mereka merasa biasa saja dengan lingkungan sekitar. Dengan begitu, mereka tidak malu, apalagi mengutuk keadaan. Secara tidak langsung, keduanya diajarkan untuk menerima, lapang dada, bersyukur, sekaligus bertahan. Tidak heran, mereka lebih banyak ceria ketimbang bermurung diri.

Di luar kondisi fisik mereka yang kembar dempet, tidak pernah ada masalah berkenaan dengan perkembangan keduanya. Mereka bisa bicara tepat waktu. Memahami setiap pelajaran serupa anak lainnya. Bahkan, mereka memiliki memori yang boleh dibilang lebih kuat. ”Kalau sudah lihat sekali, ketemu orang sekali, pasti ingat. Misalnya, om itu yang pernah ke rumah ya,” jelas Iwan.

Sebelum pulang ke Garut, Iwan bersama istri dan anak-anaknya sempat tinggal tiga tahun di Jakarta. Sebab, saat masih bayi, Dewi dan Putri butuh penanganan dan perhatian ekstra. Kala itu rumah sakit di Tanjungpinang merujuk mereka ke Jakarta.

Di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional dr Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta Pusat, keduanya berobat sekitar tiga tahun. Sejak 2013 sampai 2016. Selama itu, mereka tinggal di rumah singgah di Jakarta. Walau sudah lama berlalu, kata Iwan, Dewi dan Putri masih ingat dokter dan perawat yang menangani mereka di RSCM. Kelebihan itu membuat mereka tidak sulit mengikuti setiap pelajaran di sekolah.

Saat ini mereka duduk di bangku kelas II SDN 1 Tegalpanjang. ”Paling suka hitung-hitungan matematika,” jawab Putri ketika ditanya.

Padahal, kata Iwan, matematika adalah pelajaran yang paling sulit bagi kedua putrinya. Apalagi, selama pandemi Covid-19, mereka harus belajar dari rumah. Karena itu pula, Dewi dan Putri harus belajar secara dalam jaringan (daring) lewat telepon genggam. Masing-masing punya satu gawai. Bermerek sama, bertipe serupa, serta memakai casing sewarna. Benar-benar kembar tak terpisahkan.

Sampai kami datang, Iwan masih menunggu satu dokumen lagi: hasil rontgen Dewi dan Putri. Hasil itu harus dibawa ke Bandung karena dokter di RSHS ingin memeriksa lebih lanjut. ”Ada perubahan di tulang belakangnya,” ungkap Iwan.

Selain pemeriksaan yang sudah dijadwalkan, Dewi dan Putri akan menjalani terapi berjalan di RSHS. Meski perkembangan tubuh dari perut ke atas baik-baik saja, untuk anak yang pada Oktober nanti genap berusia 8 tahun, kaki Dewi dan Putri terbilang kecil. Kondisi itu membuat mereka belum bisa menggunakan kaki secara maksimal. ”Karena nggak bisa menopang berat badannya,” ujar Iwan.

Lewat terapi, dia yakin pelan-pelan kedua putri kembarnya akan bisa berjalan. Selama ini keduanya menggunakan kaki dan tangan untuk berjalan. Kadang, untuk beraktivitas di dalam dan luar rumah, mereka memakai kursi roda yang dirancang dan dibuat khusus oleh RSHS.

Selama berada di Bandung, Iwan memastikan kedua putrinya tetap bersekolah. Khusus untuk urusan belajar, Dewi dan Putri memang sangat antusias. Mereka semangat betul ketika mengetahui sekolah mulai dibuka dua pekan lalu.

Sejak pandemi, sekolah mereka memang sempat tutup. Seluruh aktivitas diubah sesuai dengan kebijakan pemerintah. Yakni, lewat pembelajaran jarak jauh. Baru belakangan ini, pembelajaran tatap muka (PTM) kembali dimulai. Dewi dan Putri termasuk pelajar yang menanti-nanti PTM.

Iwan menyebut, dalam sepekan ada tiga kali PTM di tempat kedua putrinya sekolah. Masuk pada pukul 07.30, sejak subuh Dewi dan Putri minta mandi. ”Karena mau sekolah,” ucap Iwan.

Setiap berangkat dan pulang sekolah, mereka diantar jemput oleh Iwan. Sepulang sekolah, mereka biasa istirahat. Kemudian, Dewi dan Putri bersiap mengaji atau mengikuti bimbingan belajar pada sore hari. Selama pandemi Covid-19, kedua aktivitas terakhir dilakukan di rumah.

Dewi maupun Putri sama-sama ceriwis. Senang ngobrol cas-cis-cus. Apa saja mereka tanyakan, apa saja mereka ceritakan. Putri sempat bilang ingin menjadi jurnalis foto ketika melihat satu di antara kami mengeluarkan kamera. Sejurus kemudian, Putri bilang mereka ingin menjadi artis sinetron. Mereka sampaikan keinginan itu sambil terus memainkan telepon genggam masing-masing.

Ketika kami hadiahi oleh-oleh, keduanya senang bukan kepalang. ”Terima kasih, om,” kata mereka kompak.

Seperti anak kembar kebanyakan, Dewi dan Putri kerap sakit bergantian. Kalau si kakak demam, si adik akan menyusul demam. Demikian pula sebaliknya. Serupa anak seusia mereka, Dewi dan Putri tidak jarang bertengkar. Berebut sesuatu yang sama-sama mereka mau. Atau, bila si adik ingin ke sini, sementara si kakak ingin ke situ, mereka akan berdebat. Ketika hendak tidur, biasanya mereka saling tunggu. Sebab, kalau salah seorang tidur lebih dulu, sering kali yang satu iseng mengganggu.

Perbedaan keinginan mereka diakui Iwan kadang menjadi soal. Karena itu, dia selalu berusaha membuat mereka kompak.

Sebagai ayah, dia sangat bersyukur lantaran kedua putrinya betul-betul kuat. Mereka tidak pernah menyalahkan keadaan. Iwan juga bersyukur bahwa banyak yang memberi perhatian dan membantu. ”Kalau sendiri, saya nggak akan bisa,” kata dia pelan.

Dulu, ketika istrinya masih ada, Iwan punya tempat untuk berbagi lelah. Kini tidak lagi. Dia sendiri meski masih dibantu keluarganya. Tentu kehadiran Yani sangat berarti. Sejak awal, bersama belahan jiwanya itulah, Iwan mengurus Dewi dan Putri. Kata Iwan, istrinya yang punya solusi ketika dia bingung bagaimana memenuhi kebutuhan pakaian kedua putrinya.

Yani pula yang telaten mengurus Dewi dan Putri secara bergantian. Karena itulah, sebelum berangkat ke Bandung kemarin, dia berziarah ke makam istrinya. Mengirimkan doa untuk almarhumah. Iwan juga yakin, meski sudah tiada, kekuatan doa istrinya ada sampai saat ini. Doa yang membuat Dewi dan Putri begitu bahagia menjalani hari-hari mereka. (*)