Metropolis

Koordinasi Buruk, Vaksin 2 Lambat

 

batampos.id – Capaian vaksinasi dosis kedua yang masih rendah di Kepri, khususnya Batam yang penduduknya paling banyak, menuai sorotan dari legislator di Kota Batam. Mereka meminta koordinasi Pemerintah Kota (Pemko) Batam dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kepri dalam pemenuhan kebutuhan vaksin lebih diperkuat, sehingga tak ada lagi warga yang kesulitan mendapatkan vaksinasi.

foto: Dalil Harahap / Batam Pos

”Dosis pertama Batam luar biasa, capaiannya mendekati 80 persen. Tapi dosis kedua hingga Senin (13/9) usia 18 tahun keatas baru 40,79 persen. Usia 12 sampai 17 tahun baru 24,10 persen. Ini kan timpang,” ujar anggota Komisi IV DPRD Kota Batam, Mochamat Mustofa, kepada Batam Pos, Selasa (14/9)

Ia menduga koordinasi antara provinsi dan kota ini terhambat, sehingga target dosis dua yang semestinya sudah 75 persen, masih sangat jauh. Mustofa mengaku sudah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kota Batam terkait capaian vaksinasi dosis kedua ini.

Faktanya, jatah vaksin itu ditentukan provinsi, sehingga banyak tidaknya pasokan vaksin tergantung provinsi.

Untuk itu, ia meminta Pemprov Kepri mem­berikan jatah vaksin secara proporsional untuk Kota Batam. Sesuai dengan jumlah kebutuhan vaksin di Kota Batam yang memang tinggi karena penduduknya terbanyak di Kepri.

”Tidak dirata-rata. Kalau dirata-ratakan, Batam capaiannya akan rendah untuk vaksin kedua,” ujarnya.

Menurut Mustofa, sebelumnya, vaksin dari pusat langsung ke Batam. Kemudian berubah jalur melalui provinsi, baru dijatahkan ke masing-masing kabupaten kota di Kepri.

”Mohon maaf, apalagi hubungan komunikasi Wali Kota dengan Gubernur agak bermasalah. Jangan itu dijadikan saling hambat menghambat. Karena ini untuk kepentingan masyarakat,” tegasnya.

Ia menambahkan, capaian vaksinasi dari target sebesar 75 persen untuk dosis kedua itu bisa tercapai pada September ini. Sehingga Pemprov diharapkan bisa men-support vaksin sesuai dengan kebutuhan di Kota Batam.

”Saya cek ke dinas (kesehatan) bahwa ternyata capaiannya bukan karena kita tidak mampu memvaksin, memang vaksinnya yang bagi adalah pemprov dan jatah kita terlalu kecil. Saya berharap jatah untuk Batam ditambah,” imbuhnya.

Ia juga menyoroti vaksinasi yang seharusnya menjadi tanggung jawab Pemko Batam. Sejatinya, tidak boleh ada pihak ketiga yang langsung mengajukan atau meminta vaksin ke Provinsi Kepri. Namun ia mengakui, tujuan dari pihak ketiga itu pada dasarnya baik, yaitu membantu Pemko Batam mewujudkan herd immunity atau kekebalan komunal di Kota Batam.

Namun, belakangan terkesan sudah mengarah ke kepentingan politik, sebab penyelenggaranya sudah mengarah pada personal politisi tertentu, sehingga bisa membuat data masyarakat yang divaksin berantakan dan pelaksanaan dosis keduanya menjadi tidak jelas.

IDI: Fokuslah Vaksinasi ke Masyarakat
Sementara itu, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kepri Rusdani mengatakan, program vaksinasi ini merupakan kewenangan dari dinas kesehatan provinsi maupun kota. Untuk itu, ia mengimbau kepada dinas kesehatan untuk kembali memfokuskan vaksinasi dosis kedua kepada masyarakat.

Sebab, vaksinasi dosis kedua ini sangat penting. Karena jika masyarakat hanya mendapatkan dosis pertama saja, maka antibodi dari masyarakat akan turun sehingga dikhawatirkan angka positif Covid-19 akan kembali meningkat.

”Tapi kalau semua masyarakat sudah vaksin kedua, mudah-mudahan preventifnya lebih kuat karena antibodinya lebih tinggi. Lebih tinggi dan lebih lama,” tuturnya.

Ia juga mengkhawatirkan adanya varian virus corona baru yang dikenal sebagai ”Mu” (baca: miyu). Dikhawatirkan jika masyarakat tidak mendapatkan vaksinasi dosis kedua akan menjadi bumerang ke depannya.

”Karena kalau vaksin kedua tidak dilakukan, antibodi vaksin dari pertama itu akan habis. Otomatis imun kita akan turun. Kalau masuk virus lagi, walaupun sudah vaksin pertama, tidak terlawan sama virusnya itu,” sebutnya.

Terkait vaksinasi ini, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Batam, dr Didi Kusmarjadi, SPoG, mengatakan, Kepri termasuk tiga besar penyumbang capaian vaksin terbanyak di seluruh Indonesia.

”Kalau bicara soal Kepri, sudah pasti itu Batam. Itu sudah diakui. Cara kerja kami selama ini dan keterlibatan pihak ketiga turut mempercepat pelaksanaan dan capaian vaksinasi. Apalagi capaian kita saat ini sudah mencapai 78,69 persen atau 621.197 orang divaksin untuk dosis pertama,” ujarnya, Selasa (14/9).

Saat ini, pihaknya masih mengejar pelaksanaan vaksin dosis kedua. Kendala saat ini adalah stok vaksin yang sedikit, sehingga dalam pelaksanaan kurang maksimal. Misalnya keluhan masyarakat terkait kesulitan mendapatkan vaksin AstraZeneca.

”Untuk AZ (vaksin AstraZeneca) memang stoknya tak banyak. Kalau vaksin ini tersedia, tak ada masalah untuk penyuntikan. Memang banyak yang sudah jatuh tempo, namun itu tidak ada masalah,” ujarnya.

Sementara itu, untuk dosis kedua capaian vaksin diakui Didi masih rendah. Untuk itu, meminta masyarakat Kota Batam untuk bersabar. Karena jangka waktu dosis pertama hingga dosis kedua 12 minggu. ”Kalau sudah jatuh tempo, sabar dulu karena mungkin stoknya terbatas,” kata Didi.

Berdasarkan data capaian vaksin Kota Batam per 13 Septermber 2021, capaian vaksin diatas 18 tahun dosis satu mencapai 78,69 persen atau 621.197 orang. Dosis dua mencapai 40,79 persen atau 322.021 orang. Capaian vaksin dari 12 hingga 17 tahun untuk dosis satu mencapai 72,61 persen atau 85.580 orang.

Dosis dua mencapai 24,10 persen atau sebanyak 28.410 orang.
Didi menambahkan, untuk saat ini pelaksanaan vaksin masih terus berjalan. Meskipun jumlahnya tidak sebanyak beberapa bulan lalu yang dalam satu hari mencapai 20 ribu orang. Kondisi ini karena capaian vaksin terus naik, sehingga target atau sasaran berkurang.

”Kami kejar yang jatuh tempo ini dulu. Semoga dalam waktu dekat ini stok vaksin segera datang, sehingga semua selesai tahun ini,” tutupnya.

Sementara itu, salah satu pihak ketiga yang berperan besar dalam memfasilitasi pemberian vaksinasi di Kota Batam adalah Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kepri dan Batam. Saat ini, warga Batam yang divaksin melalui Apindo sudah mencapai 200 ribu orang.

Capaian yang besar dan bebas dari kepentingan politik itu sangat membantu warga Batam. Namun sayang, terhitung Oktober mendatang, Apindo tidak akan melanjutkan pelaksanaan vaksinasi massal lagi.

”Apindo sendiri sudah vaksin lebih dari 200 ribu dosis ke warga Batam. Dan saat ini capaian Batam sudah sekitar 79 persen yang dewasa dan 73 persen yang remaja,” kata Ketua Apindo Kepri, Cahya, Selasa (14/9).

Cahya mengatakan, pihaknya hanya akan membantu vaksinasi hingga awal Oktober saja.

”Selanjutnya, sisa-sisa yang dipojok dan di pulau-pulau, kita berharap dinkes kota bisa menjangkau kesana,” paparnya.

Juga masyarakat di kota yang sama sekali belum mendapatkan vaksinasi bisa dilayani oleh Pemko Batam melalui fasilitas kesehatan (faskes) yang dimiliki, mulai dari puskesmas pembantu (pustu), puskesmas, hingga rumah sakit pemerintah lainnya, dengan membuat pengaturan yang lebih baik agar tak menimbulkan kerumunan.

Senada dengan Cahya, Ketua Apindo Batam, Rafki Rasyid, juga mengatakan, capaian yang terlaksana sudah cukup membantu Pemko Batam dalam menangani pengendalian Covid-19 lewat vaksinasi.

”Sudah tembus 200 ribu dosis vaksin. Rencananya, kita akan laksanakan sampai awal Oktober saja, setelah seluruh vaksin kedua yang di Apindo selesai,” tuturnya.

”Dengan begitu, kami berharap Batam akan lebih cepat mencapai target vaksinasi sehingga penyebaran virus Covid-19 bisa lebih cepat dikendalikan,” sambungnya.

Lambat laun, lanjut Rafki, perekonomian Batam dan Kepri akan lebih cepat bangkit, sehingga investor dan wisatawan lebih percaya untuk datang ke Kepri.

Di tempat terpisah, kegiatan vaksinasi yang dilaksanakan Polda Kepri bekerja sama dinkes, masih berlangsung hingga batas waktu yang tak ditentukan. Setiap hari ada kuota 5.000 dosis untuk jenis Sinovac dan AstraZeneca yang disiapkan.

Kabidokkes Polda Kepri, Kombes dr Muhammad Haris, mengatakan, pelaksanaan vaksinasi oleh Polda Kepri saat ini menyasar berbagai tempat umum, seperti tempat ibadah, sekolah, dan rumah sakit.

”Setiap hari ada beberapa titik lokasi vaksinasi. Untuk kuota 5.000 dosis,” terang Haris kepada Batam Pos, kemarin.

Menurut dia, antusiasme warga yang ingin divaksin pun mulai berkurang. Diduga karena keterbatasaan waktu masyarakat umum untuk pergi vaksin.

”Dari 5.000 kuota yang disiapkan, paling yang datang hanya 1.000 orang. Jadi, memang tak sampai target dari masyarakat umum, lansia, dan ibu hamil,” ungkap Haris. (***)

 

Reporter : EGGI IDRIANSYAH / RIFKI SETIAWAN / YULITAVIA / YASHINTA
Editor : MOHAMMAD TAHANG