Internasional

Protes Diskriminasi Taliban Terhadap Perempuan, Tagar #AfghanistanCulture Beredar di Media Sosial

Perempuan Afghanistan dengan pakaian tradisionalnya. ( F Xinhua)

batampos.id – Afghanistan memasuki masa kelam di tengah dunia teknologi yang kini terkoneksi secara global. Diskriminasi terhadap perempuan mencuat, mundur beberapa puluh tahun ke belakang, dimana perempuan dilarang bersekolah, dilarang menduduki jabatan penting, dan wajib mengenakan burqa.

Atas protes itu, para wanita Afghanistan yang kini dilarang turun ke jalan oleh Taliban, kini melakukan kampanye lewat media sosial. Mereka memprotes aturan burqa oleh Taliban dengan mengunggah pakaian tradisional Afghanistan yang modis dan kaya warna. Mereka menggunakan tagar #AfghanistanCulture.

Pakaian tradisional Afghanistan
@Saadia_Sediq turut meramaikan tagar @AfghanistanCulture dengan memakai pakaian tradisional khas negaranya sebagai bentuk protes ke Taliban. ( F Saadia)

Kampanye yang awalanya hanya diikuti puluhan orang itu, kini berkembang menjadi ratusan. Mereka sebagian besar warga di Afghanistan sendiri dan juga mereka yang kini tinggal di luar negeri.

Dilansir dari India Times, tagar ini sebagai bentuk protes keras warga sipil terhadap peraturan diskriminatif Taliban yang mewajibkan perempuan semua memakai pakaian tertutup atau burqa di seluruh tubuh.

Tren #AfghanistanCulture telah digabungkan dengan #AfghanWomen dan #DoNotTouchMyClothes untuk memperkuat protes terhadap larangan regresif Taliban pada pakaian wanita.

Pakaian tradisional wanita Afghanistan adalah baju panjang yang menutupi mata kaki. Wanita juga memakai kerudung untuk menutupi kepala. Namun sejak Taliban berkuasa kembali di Afghanistan, kaum wanita diwajibkan memakai burqa. (*)

Reporter: Chahaya Simanjuntak
Editor: Tunggul Manurung