Metropolis

Polda Kepri Ringkus 5 Warga Bintan

 

batampos.id – Lima warga Bintan Diringkus tim Ditreskrimum Polda Kepri karena diduga menyalurkan Pekerja Migran Indonesia (PMI) ilegal. Atas dugaan itu, kelimanya yakni A, Am, Am, M dan S, terancam pidana penjara maksimal 10 tahun dan denda Rp 1 miliar.

Wadir Reskrimum Polda Kepri, AKBP Donny Siswoyo, mengatakan, penangkapan lima orang yang telah berstatus tersangka tersebut berawal dari informasi masyarakat tentang tindak pidana penyaluran PMI secara ilegal.

F. Cecep Mulyana/Batam Pos
Wadirkrimum Polda Kepri, AKBP Donny Siswoyo (tengah) memberikan keterangan pengungkapan lima pelaku dalam kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang saat ekspos di Mapolda Kepri, Rabu (15/9/2021).

”Kami menyusuri informasi tersebut dan benar saja, kami temukan adanya dugaan penyaluran PMI ke Malaysia secara ilegal,” terang Donny kepada Sejumlah media di Mapolda Kepri, Rabu (15/9/2021).

Kronologis kejadian pada Minggu (12/9), ada beberapa orang calon PMI ilegal yang akan diberangkatkan dari Tanjunguban menuju Malaysia untuk bekerja. Selanjutnya, pada hari Senin dini hari sekira pukul 02.30 WIB, ditemukan tujuh calon PMI ilegal asal Cianjur, Purwakarta, Tegal, dan Indramayu.

Ketujuh korban saat itu dalam pengurusan keberangkatan ke Malaysia. Rata-rata, mereka ditawari pekerjaan sebagai Asisten Rumah Tangga (ART) dan pekerja kebun sawit dengan iming-iming upah Rp 5-7 juta.

”Satu di antara tujuh korban yang diamankan adalah perempuan. Mereka rata-rata berasal dari Pulau Jawa dan baru sampai di Batam,” jelas Donny.

Modus Operandi tersangka melakukan perekrutan PMI ke luar negeri tanpa dilengkapi dokumen resmi melalui pelabuhan ilegal/tikus. Cara perekrutan yakni melalui media sosial dengan mengiming-imingi gaji besar dan masuk ke Malaysia dengan mudah.

”Jadi, mereka memberi informasi dari media sosial serta informasi dari mulut ke mulut. Karena iming-iming itu korban tergiur,” terang Donny.

Menurut dia, para tersangka telah 4 kali memberangkatan PMI secara ilegal. Tentunya, dengan keuntungan yang berbeda-beda berkisar Rp 1,5 juta hingga Rp 7 juta. Begitu juga dengan peran kelima tersangka juga berbeda-beda, mulai dari bagian menjemput korban di bandara, tekong, nakhoda kapal dan penjaga kapal.

”Barang bukti yang berhasil diamankan adalah 4 unit handphone, 1 bundel boarding pass korban, 1 unit kapal boat mesin tempel 200 PK 2 unit dan 1 unit mobil avanza warna putih. Kami juga tengah memburu yang menyebarkan informasi ini,” jabarnya lagi.

Adapun, pasal yang disangkakan kepada lima orang tersebut adalah dugaan tindak pidana orang perseorangan yang dilarang melaksanakan penempatan Pekerja Migran Indonesia ke luar negeri tanpa memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam rumusan pasal 81 dan pasal 83 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2017 tentang Perlindungan Pekerja Migran Indonesia Jo pasal 55 KUHP.

”Ancaman paling lama 10 tahun penjara dan denda paling banyak Rp 15.000.000.000,” tutup Donny. (*)

 

 

Reporter : Yashinta
Editor : RATNA IRTATIK