Internasional

Jerman Hadapi Pemilu 2021, Ini Perbedaannya dengan Indonesia

Ilustrasi kertas suara pemilu Jerman. ( F Fotolia via DW)

batampos.id – Jerman menghadapi Pemilihan Umum (Pemilu) pada 26 September 2021 mendatang. Pesta demokrasi itu akan memilih anggota parlemen dari partai yang lolos ambang batas lima persen, untuk selanjutnya suara mayoritas berhak menggantikan posisi kanselir, yang kini disandang Angela Merkel. Lantas, seperti apa perbedaan sistem pemilu di Jerman dan Indonesia?

BACA JUGA:
Turis Jerman dan Brunei Darussalam Bebas Masuk ke Singapura

Yang paling utama, perbedaannya dilihat dari langsung atau tidaknya pemilihan calon parlemen dan kanselir. Kalau di Indonesia, pemilihan pemimpin negara dipilih langsung oleh rakyat,sedangkan di Jerman pemilihan kanselir dipilih langsung parlemen atau Bundestag pemenang pemilu. Dimana, setiap pemilih di Jerman berhak memberikan dua suara dengan ambang batas lima persen.

Dilansir dari Deutsche Welle (DW), sistem pemilu di Jerman merupakan perpaduan dari sistem proporsional dan sistem pemilihan langsung. Dimana, setiap warga Jerman yang sudah mempunyai hak pilih, memiliki dua suara. Suara pertama ( Erststimme) untuk kandidat yang diinginkan duduk sebagai wakil rakyat. Ini dipilih secara langsung. Sedangkan suara kedua (Zweitstimme) untuk memilih partai politik.

Mengenai warga pemilih, kalau di Indonesia, warga yang mempunyai hak pilih minimal berusia 17 tahun atau di bawah usia 17 tahun tapi sudah berkeluarga, sedangkan di Jerman, warga yang mempunyai hak pilih harus berusia minimal 18 tahun pada hari pemilihan, atau bagi imigran, sedikitnya tiga bulan terakhir mereka sudah bermukim di Jerman dan tidak sedang menghadapi tuntutan hukum dicabut hak pilihnya.

Dalam pelaksanaan Pemilu, Indonesia mengadakan pemilu di berbagai negara ekstrateritorialnya (kedutaan di masing-masing negara). Jerman tidak melakukan itu. Tak ada pemilu di luar negeri. Setiap warga Jerman yang bermukim di luar negeri atau sedang melakukan perjalanan di luar Jerman, dapat mengirimkan permohonan ikut pemilu lewat pos.

Satu lagi, sistem pemilu di Indonesia, umumnya dilaksanakan sekali lima tahun, sedangkan di Jerman, dilaksanakan sekali dalam empat tahun.

Statistik Jerman mencatat, pelaksanaan Pemilu 2021 di sana akan diikuti sekitar 60,4 juta warga Jerman. Jumlah tersebut sebanyak 29,2 juta pemilih pria, dan 31,2 juta pemilih perempuan. Dari jumlah itu, lebih dari sepertiga adalah pemilih lansia di atas 60 tahun.

Bisa dipastikan, generasi lansia di sana mempunyai peluang besar dalam menentukan hasil Pemilu 2021 dari 299 daerah pemilihan.

Lantas bagaimana Jerman dalam menentukan bundestagnya? Para pemilih mempunyai dua hak suara. Satu suara untuk parlemen langsung, dan satu suara untuk partai. Maka secara teoritis, 2 x 299 calon dari daerah pemilihan, yaitu ada 598 kursi Bundestag. Namun pada kenyataannya, bisa lebih dari situ, karena kandidat independen juga terbuka untuk mencalonkan diri dan penyamaan proporsi kursi oleh partai politik.

Nah, dari suara kedua, dihitung persentase yang dimenangkan masing-masing partai politik yang ikut pemilu. Persentase yang dimenangkan akan berpengaruh pada jumlah kursi yang direbut di Bundestag.

Partai politik mengajukan kandidatnya dalam suatu daftar nama. Biasanya susunan nama itu ditetapkan dalam sebuah kongres atau rapat umum partai berdasarkan negara bagian. Nama yang tertera paling atas yang paling berhak masuk ke parlemen. Jadi, urutan nama juga akan menentukan peluang seorang kandidat untuk masuk parlemen.

Terkadang, sebuah partai dari perolehan suaranya menerima lebih banyak kursi di parlemen dalam pemilihan langsung (suara pertama), daripada jumlah kursi yang ditetapkan dengan persentase proporsional (suara kedua). Dalam hal ini, kandidat yang memenangkan pemilihan langsung di satu daerah pemilihan tetap akan menjadi anggota Bundestag. Namun, agar adil partai-partai politik lain juga ditambah kursinya, sehingga proporsi perolehan suaranya tidak berubah. Inilah yang disebut sebagai mandat tambahan. Itu berarti, jumlah kursi di Bundestag juga akan bertambah.

Itu sebabnya, jumlah anggota Bundestag yang sebenarnya biasanya jauh lebih banyak daripada jumlah teoritis 598 kursi. Bundestag saat ini di Jerman, beranggotakan 709 orang. Menghadapi fenomena ini, sekarang ada usulan untuk menghapus atau membatasi jumlah maksimal anggota parlemen di negara itu.

Agar sebuah partai dapat memasuki Bundestag, partai itu harus memenangkan setidaknya 5 persen suara kedua. Inilah yang disebut ambang batas lima persen. Sistem ini diberlakukan untuk mencegah partai-partai kecil masuk parlemen.

Saat ini, ada enam partai atau kubu politik yang berhasil menembus ambang batas 5 persen, yakni Aliansi CDU/CSU, SPD, Partai Hijau, Partai Kiri Die Linke, AfD, dan FDP. Siapakah yang akan memenangkan Pemilu Jerman 2021 ini? (*)

Reporter: Chahaya Simanjuntak
Editor: Tunggul Manurung