Ekonomi & Bisnis

APM Jeep Klaim Tak ada Kesalahan Manufaktur

ILUSTRASI: Jeep Grand. F. Ist

batampos.id – Stellantis, pabrikan otomotif multinasional yang dibentuk oleh merger perusahaan Italia-Amerika, Fiat Chrysler Automobiles (FCA) dan perusahaan Prancis, PSA Group pada 2021 yang memegang merek kendaraan Jeep ini telah menyelesaikan investigasi teknisnya terhadap kecelakaan Jeep Grand Cherokee Summit yang terjadi pada Juli 2021 lalu.

Pihak Stellantis telah menyelesaikan investigasi teknis atas insiden Jeep Grand Cherokee Summit MY14 di Tol Pejagan-Kanci yang sempat viral beberapa bulan lalu karena beberapa fitur keselmatannya tidak berfungsi.

Sebagai informasi, pengemudi yang terlibat kecelakaan ini adalah mantan bos PT Garasindo Inter Global, Muhammad Al Abdullah. Kronologi kejadiannya, saat mengemudikan mobil padi sisi jalur sebelah kanan, ada mobil Avanza yang melakukan rem mendadak.

Pria yang akrab disapa Memet yang mengemudikan mobil di belakangnya, harus melakukan pengereman dan membuang kemudi secara otomatis ke kiri. Nahasnya, di sebelah kiri ada truk kontainer melintas, sehingga terjadi tabrakan.

“Saya mengemudikan sendiri dan Alhamdulillah saya selamat tanpa luka,” tulis dalam keterangan yang dibagikan di media sosial miliknya.

Memet sangat menyayangkan, bahwa fitur keselamatan mobil yang tak berfungsi. Mulai dari airbag yang mengembang, juga fitur lainnya.

Selain airbag tidak mengembang, fitur active brake collision system juga tidak bekerja. Normalnya menurut dia bisa rem sendiri bila jarak dengan depan terlalu dekat.

Sebenarnya Jeep Grand Cherokee Summit 3.6, ada total 7 airbags di antaranya ada front-impact airbags, side impact airbags, overhead airbags dan knee airbags.

Dengan kejadian tersebut mantan bos PT Garasindo Inter Global yang sebelumnya merupakan Agen Pemegang Merek Jeep di Indonesia ini, beberapa bulan lalu melayangkan surat keluhan kepada pihak prinsipal Jeep dalam hal ini FCA (Fiat Chrysler Automobiles). Surat tersebut dilayangkan melalui agen pemegang merek (APM) Jeep yang baru di Indonesia, yaitu PT DAS Indonesia Motor.

Setelah beberapa bulan, melalui PT DAS Indonesia Motor, Dhani Yahya, COO dari Jeep Indonesia memberikan keterangannya, “Dikutip dari penjelasan resmi yang telah DAS Indonesia Motor terima, kami umumkan hasil yang ditemukan oleh Tim investigasi dari Stellantis adalah sebagai berikut;

“No manufacturing responsibility found in this incident. The Seat Belts are the primary safety restraint system in this vehicle. The area of primary impact was over and above the Supplemental Restraint System sensor focus area, with the impact energies being dissipated by the crush of various sheet metal structures. Therefore, the rate of deceleration required to activate the air bag system was not met.”

BACA JUGA: Jeep Grand Cherokee Kebal Peluru

(“Tidak ada tanggung jawab manufaktur yang ditemukan dalam insiden ini. Seat belt menjadi sistem penahan keamanan utama dalam kendaraan pada saat kejadian. Area tabrakan/tumbukan utama berada di bagian atas dari area fokus sensor Supplemental Restraint System bekerja, dengan energi benturan yang dihamburkan oleh berbagai struktur lembaran logam. Oleh karena itu, laju perlambatan yang diperlukan untuk mengaktifkan air bag system tidak terpenuhi).

Bahwa hasil investigasi Stellantis itu tidak mengungkapkan adanya indikasi cacat manufaktur yang menyebabkan dan atau berkontribusi pada insiden yang dialami atas kendaraan tersebut.

“Dengan temuan hasil investigasi teknis yang sudah di umumkan ini, kami harap pertanyaan penyebab insiden ini sudah dapat terjawab. Sekali lagi kami sangat bersimpati atas insiden yang telah terjadi dan kami siap membantu konsumen untuk memperbaiki kendaraan tersebut hingga selesai.” tutup Dhani melalui pengumuman resmi ini. (*)

Reporter: JPG Group
Editor: Suprizal Tanjung