Nasional

Abu Dhabi Siap Investasi di Batam

Lirik KEK Kesehatan di Sekupang

RSBP Batam di Sekupang bakal dijadikan KEK khusus Kesehatan. Investor asal Abu Dhabi tertarik untuk berinvestasi di bidang medical student di Batam. (Dokumentasi Batam Pos)batampos.id – Pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kesehatan di Sekupang mendapat respons beragam dari sejumlah investor mancanegara. Salah satunya, grup besar dari negara Arab, Abu Dhabi.

Kepala Biro Humas Promosi dan Protokol Badan Pengusahaan (BP) Batam, Ariastuty Sirait, membenarkan, namun masih belum mau menyebut nama grup besar tersebut.

Grup tersebut tertarik, setelah pemaparan KEK tersebut dalam acara Road to Indonesia Investment Day 2021, yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) dan Bank Indonesia di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA) beberapa waktu lalu.

”Ada grup besar dari Abu Dhabi, tapi mereka belum tahu tentang Batam. Bagi mereka, Batam ini daerah baru. Mereka merupakan grup besar yang terlibat dengan pengembangan rumah sakit, pengembang properti, media, serta pendidikan,” jelas Tuty, Minggu (19/9).

Dalam pertemuan lebih lanjut, investor asal negara Arab ini kemudian banyak bertanya mengenai kehidupan sosial di Batam dan potensi apa yang ditawarkan dari KEK Kesehatan di Sekupang.

”Potensi yang ingin dikembangkan yakni potensi medical student, makanya mereka minta dikemukakan mengenai kehidupan sosial di Batam, apakah sudah mendukung pengembangan KEK Kesehatan,” tuturnya.

Tuty mengatakan, investor asal negeri padang pasir tersebut meminta difasilitasi, agar bisa segera bekerja sama. ”Kami juga tengah mempelajari skema kerja sama. Rencana ada lima yang akan ditawarkan,” jelasnya.

Luas lahan KEK Kesehatan Internasional Sekupang 44,5 hektare, dan salah satunya akan ada pengembangan rumah sakit bertaraf internasional. Rumah sakit internasional ini memiliki konsep medical and tourism, dengan produk unggulan cardiovascular center, cancer center, stemcell center, women and fertility center, cosmetic and plastic surgery, dan retirement village.

”Rumah sakit ini juga akan dibangun beberapa sarana dan fasilitas, antara lain healing garden, shopping center, apartemen dan hotel berbintang dll. Walau KEK Kesehatan ini bertaraf internasional, BP Batam menyediakan pelayanan rumah sakit menggunakan BPJS,” tambahnya.

Grup investor dari UEA memang tertarik untuk menanamkan modalnya di Indonesia, setelah negara tersebut mengumumkan penanaman investasi senilai 10 miliar dolar AS di Indonesia, atau setara Rp 144 triliun, pada akhir Maret lalu.

Dana investasi sebesar itu bakal ditempatkan pada lembaga pengelola dana abadi Indonesia bernama Lembaga Pengelola Investasi/LPI (Indonesia Investment Authority/INA).

Investasi Terus Meningkat

Sementara itu, terkait perkembangan investasi di Batam di tengah pandemi Covid-19, ternyata realisasinya cukup menggembirakan. Pada semester pertama 2021 di Batam masih berjalan stabil. Selain itu, beberapa proyek baru telah diresmikan pada semester dua, sehingga menambah daftar panjang investasi di Batam hingga beberapa tahun ke depan.

Berdasarkan data dari Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) bahwa terdapat peningkatan realisasi investasi Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) antara 2020 dan 2021 sebanyak 10,69 persen dengan peningkatan jumlah proyek sebanyak 201,12 persen.

”Sebagai salah satu destinasi investasi utama di Indonesia, Batam mencatat total realisasi investasi pada semester pertama 2021 sebesar Rp 7,76 triliun dengan 2.567 proyek,” kata Kepala Pusat Perencanaan Program Strategis BP Batam, Fesly Abadi Paranoan, Minggu (19/9).

Bulan Juni 2021, pemerintah pusat menetapkan dua Peraturan Pemerintah (PP) mengenai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), yakni KEK Batam Aero Technic (BAT) dan KEK Nongsa Digital Park (NDP).

”KEK BAT telah menyerap 2.000 tenaga kerja dan menargetkan lebih dari 9.000 tenaga kerja pada tahun 2030, dengan target investasi Rp 6,2 triliun hingga Tahun 2030. Sedangkan KEK Nongsa telah menyerap lebih dari 1.300 tenaga kerja dan menargetkan total 16.500 tenaga kerja pada tahun 2040, dengan target investasi Rp 16 triliun pada tahun 2040,” ujarnya.

Selain itu, BP Batam juga menggesa proyek pengembangan infrastruktur, salah satu diantaranya adalah Bandara Internasional Hang Nadim yang memiliki landasan pacu terpanjang di Indonesia yaitu 4.025 meter dan saat ini sedang dalam tahap pengembangan dengan konsorsium Angkasa Pura I, Incheon-Korea Selatan, dan PT Wijaya Karya.

”Adapun area yang akan dikelola seluas kurang lebih 350 hektare, dengan perbaikan yang akan dilakukan nantinya mencakup terminal 1, pembangunan terminal 2, serta mengoperasikan fasilitas landasan pacu dan gedung kargo,” paparnya.

Di sisi lain, dua investor yang mengembangkan energi terbarukan berupa tenaga solar matahari. ”Batam juga mulai mengembangkan energi terbaru dengan Pembangkit Listrik Tenaga Surya dan telah menandatangani MoU dengan Sunseap Group Pte. Ltd dari Singapura senilai Rp 29 triliun di Waduk Duriangkang serta PT Toba Bara Energi senilai Rp 6,8 triliun di Waduk Tembesi,” jelas Fesly. (*)

Reporter : RIFKI SETIAWAN
Editor : MOHAMMAD TAHANG