Nasional

Melinda French Gates Langsung Temui Prof Uut di Jogjakarta

Guru Besar UGM Itu Masuk 100 Orang Berpengaruh di Dunia 2021 Versi Time

Melinda French Gates – Adi Utarini. (LUDOVIC MARIN/AFP – HPM.FK.UGM.AC.ID)

batampos.id – Melinda French Gates datang ke Jogjakarta dan tidak pernah menyangka bakal begitu tertarik dengan gigitan nyamuk.

”Sampai saya bertemu dengan Adi Utarini,” tulis filantropis yang juga mantan istri bos Microsoft Bill Gates tersebut di Instagram-nya.

Uut –sapaan akrab Adi Utarini– adalah peneliti sekaligus guru besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Jogjakarta.

Dia memimpin penelitian pengendalian demam berdarah di Jogjakarta bersama World Mosquito Program (WMP) Yogyakarta.

Utarini dan timnya meneliti Wolbachia sejak 2011. Mereka menginokulasi nyamuk penyebab demam berdarah Aedes aegypti dengan Wolbachia. Yaitu, bakteri yang tidak berbahaya bagi manusia, tetapi bisa mencegah nyamuk menularkan demam berdarah melalui gigitannya.

Hasilnya, kasus penyakit demam berdarah di wilayah yang disebar nyamuk yang sudah dimodifikasi itu menurun hingga 77 persen. CNN mengungkapkan bahwa penelitian Utarini dan timnya sudah diunggah di New England Journal of Medicine.

Majalah terkemuka Time pun memilihnya masuk Daftar 100 Orang Berpengaruh di Dunia. Namanya bersanding dengan jajaran tokoh dunia. Di antaranya, pasangan suami istri Duke dan Duchess of Sussex Pangeran Harry dan Meghan Markle serta Presiden Amerika Serikat Joe Biden.

”Ini adalah apresiasi bagi peneliti-peneliti dan seluruh tim yang telah terlibat dalam penelitian serta mitra kami, yaitu Monash University, World Mosquito Program Global, dan Yayasan Tahija sebagai lembaga filantropi yang mendukung penuh penelitian ini,” ujar Utarini seperti dikutip dari ugm.ac.id. Dia juga mengapresiasi penduduk Jogjakarta yang telah sangat terbuka dengan inovasi.

Penelitian itu membuat Melinda French Gates penasaran. Melinda berkunjung ke sebuah keluarga di dekat laboratorium Adi Utarini di Jogjakarta beberapa tahun lalu ketika datang ke Indonesia. Dia tidak menyebut waktu tepatnya kunjungan itu dilakukan.

Saat itu dia mendengar bahwa Utarini berhasil meyakinkan penduduk untuk melepas sekawanan nyamuk di lingkungan tersebut. Itu bukan nyamuk biasa, melainkan nyamuk Aedes aegypti penyebab demam berdarah. Melinda penasaran dengan upaya Utarini bisa meyakinkan mereka.

Ternyata warga sekitar bangga menjadi bagian dari penelitian Utarini. Itulah bukti bahwa Utarini dipercaya komunitasnya. Alasan lainnya adalah kebutuhan mendesak untuk memerangi demam berdarah.

Melinda menjelaskan, saat ini sebagian besar penyakit menular cenderung turun dari tahun ke tahun. Namun, demam berdarah adalah pengecualian. WHO bahkan menyebut demam berdarah sebagai 1 di antara 10 ancaman kesehatan dunia. Ia menjangkiti 400 juta orang setiap tahun. Karena itu, penelitian Utarini itu menjadi harapan tersendiri.

Dalam penelitiannya, Utarini bekerja sama dengan tim peneliti internasional dari World Mosquito Program. Mereka menginokulasi Aedes aegypti dengan Wolbachia.

”Saya bangga bisa menulis tentang apa yang dilakukan Dr Utarini untuk #Time100 tahun ini,” tulis Melinda yang dipercaya Time mewawancarai dan menuliskan profil serta sepak terjang Prof Uut. (*)

Sumber : JP Group
Editor : Jamil Qasim