Bintan-Pinang

1 Oktober, Pelajar SMP mulai Belajar di Sekolah

Siswa SMP di Tanjungpinang saat antre mengikuti vaksinasi, belum lama ini.f.Peri Irawan

batampos.id– Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Tanjungpinang menggunakan sistem bergantian untuk Pembelajaran Tatap Muka (PTM) tingkat SMP yang akan mulai pada 1 Oktober 2021 mendatang. Diketahui Pemprov Kepri sudah sepakat akan membuka PTM untuk tingkat SMA serta SMP dan sederajarnya.

BACA JUGA: Sekolah Wajib Perketat Protkes Saat Belajar Tatap Muka Dimulai

Sekretaris Disdik Kota Tanjungpinang, Saparilis menjelaskan untuk sistem PTM yang akan dilakukan awal Oktober 2021, pihaknya mengatur jadwal yang agar tidak menimbulkan kerumunan, siswa yang keluar dan yang akan masuk kelas diatur.

“Kita menghindari kerumunan anak ketika keluar, karena akan ramai saat pergantian kelas, itu kita atur,” kata Saparilis, Senin (20/9).

Dijelaskan Saparilis, sistem PTM itu juga dibagi setip harinya, kelas pertama masuk pukul 07.30 WIB kemudian kelas lain masuk pukul 08.00 WIB supaya tidak ada keramaian saat siswa akan masuk kelas. Penerapan protokol kesehatan (Prokes) akan diawasi dengan ketat, seperti penggunaan masker, aktifitas siswa agar tidak berkerumun. “Mereka yang akan masuk kelas juga tidak bertemu dengan siswa lainnya,” terangnya.

Selain itu, untuk sekolah tingkat Taman Kanak-kanak (TK) Pendidikan Anak Usia Dini (Paud) dan Sekolah Dasar (SD), Saparilis menjelaskan juga akan segera menyusul secara bertahan setelah SMP dimulai.

“Kita tidak membeda-bedakan, nanti secara bertahap siswa TK, Paud dan SD juga akan masuk sekolah tatap muka,” ucapnya. Saat ini memang banyak kendala yang dihadapi orang tua yang anaknya melakukan sekolah daring, selain kurangnya pemahaman, permasalahan kuota dan jaringan internet kerap menjadi keluhan yang diterimanya.

“Kadang anak ini baru acungkan tangan ternyata jaringan eror. Orang tua juga keberatan ada yang anaknya sekolah 4 orang harus belajar online secara bersamaan,” paparnya.

Jika belajar daring dilakukan hanya satu hari, menurutnya tidak jadi masalah tapi jika sudah lebih dari satu tahun permasalahan kuota internet menjadi hal serius. “Memamg sudah waktunya, akan berat kalau harus menyediakan banyak paket kuota, terlebih orang tua yang kurang mampu akan sulit,” terangnya. (*)

Reporter : Peri Irawan
editor: tunggul