Opini

Level 1 Bukanlah Garis Finis

Batampos.id-

MENANGANI Covid-19 ibarat pertandingan lari tanpa garis finis. Semua tidak tahu kapan pandemi ini berakhir. Pencapaian level 1 bukan akhir dari pertandingan. Wasit pun tidak bisa memastikan apakah hasil tersebut sudah berarti sebuah kemenangan.

Level 1 hanya status. Lintasan lari masih panjang. Ada dua kemungkinan. Pertama, tetap berada pada level 1. Kedua, sekali lengah bisa kembali ke level 2. Seorang pelari harus bisa menjaga ritme langkah kaki dan napas yang dimiliki. Begitu juga pemerintah. Langkah kaki diibaratkan strategi penanganan Covid-19. Lalu, napas diibaratkan kondisi perekonomian.

Pada level 1, setidaknya atlet bisa sedikit lega. Dia berada pada posisi terdepan. Sikap yang ideal untuk dilakukan adalah menjaga ritme, yakni melakukan kebijakan strategis untuk memulihkan ekonomi. Patut dilakukan. Tanpa bernapas, atlet tidak bisa berlari. Aktivitas ekonomi lesu, masyarakat tidak bisa berpikir secara rasional. Termasuk pemerintah.

Kebijakan akan sulit diambil. Seperti pelari yang tak sanggup memijakkan kaki karena napas habis. Karena itu, level 1 menjadi momentum mengembalikan aktivitas ekonomi tanpa mengesampingkan pola penanganan Covid-19 yang ideal.

Sesuai hasil asesmen yang dirilis di website Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI tanggal 15 September 2021, Provinsi Jawa Timur (Jatim) masuk dalam kategori level 1 asesmen situasi Covid-19 yang pertama dan satu-satunya se-Indonesia. Dalam penilaian asesmen situasi level 1 Kemenkes RI itu, Jatim dinilai mampu karena tingkat penularan yang rendah dan kapasitas respons yang memadai. Penilaian tersebut didasari hasil enam parameter. Yaitu kasus konfirmasi, rawat inap rumah sakit (RS), kematian, testing, tracing, dan treatment yang dilakukan secara masif serta terukur sehingga menghasilkan predikat memadai.

Di Jatim, sebanyak 37 kabupaten/kota berada pada zona kuning atau risiko rendah. Sementara masih ada satu daerah yang masih berada di zona oranye atau risiko sedang, yaitu Kota Blitar. Kondisi tersebut dicapai atas kekompakan dan sinergi pemerintah, forkopimda, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota, dan didukung berbagai elemen strategis masyarakat di Jatim. Termasuk melibatkan pentahelix approach, di mana terdapat pemerintah, swasta, perguruan tinggi, media, dan masyarakat.

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa di setiap kesempatan terus bersinergi dengan Forkopimda Jatim seperti Kapolda Jatim, Pangdam V/Brawijaya, Pangkoarmada II, Kabinda Jatim, dan Kajati Jatim, khususnya dalam penanganan Covid-19. Mulai dalam vaksinasi, pelaksanaan PPKM darurat maupun berlevel, hingga 3T (testing, tracing, dan treatment).

Saat terjadi peningkatan kasus di Kabupaten Bangkalan, gubernur bersama-sama dengan Forkopimda Jatim, bupati Bangkalan, wali kota Surabaya, dan forkopimda di kedua daerah langsung bergerak cepat menangani permasalahan tersebut. Hasilnya cukup menggembirakan bagi Jatim. Dan kekompakan itu terus dibawa hingga level kabupaten/kota.

Belajar dari pengalaman sebelumnya, Jatim bukan kali pertama berada pada posisi aman. Misalnya, September tahun lalu, kondisi sebenarnya sudah cukup terkendali. Berbagai aktivitas sudah mulai digelar meskipun tetap menjalankan protokol kesehatan. Salah satunya, tempat wisata dibuka.

Namun, ada beberapa elemen yang lengah. Libur panjang membuat lupa pandemi masih ada. Peningkatan kasus mulai terjadi pada November. Begitu juga Januari 2021, lonjakan kasus terkonfirmasi positif Covid-19 terjadi seusai libur panjang. Hal yang sama terjadi di negara-negara yang sudah lebih dahulu mampu menekan angka kasus Covid-19, kemudian mengendurkan protokol kesehatan.

Sebagai contoh, Amerika Serikat (AS) pernah mengalami lonjakan kasus Covid-19 mencapai 100 ribu per hari. Bahkan, di negara adidaya itu sempat dilaporkan terjadi krisis oksigen, RS penuh, dan dokter kelelahan. Situasi kasus Covid-19 di AS saat ini, pasien rawat inap dan kematian meningkat. Menurut CDC, lebih dari 44.000 pasien Covid-19 dirawat di RS. Jumlah itu naik 30 persen dalam seminggu dan hampir empat kali lipat jumlah pada Juni lalu.

Situasi penanganan korona kian parah di negara-negara bagian selatan AS yang tingkat vaksinasinya masih rendah. Banyak RS yang kewalahan karena pasien melonjak. Sebagian besar pasien Covid-19 di AS belum divaksin. Ditambah lagi, kasus terhadap anak meningkat.

Selain itu, kasus Covid-19 varian Delta melonjak di Selandia Baru sehingga kebijakan pembatasan wilayah diperpanjang sampai 27 Agustus 2021. Lonjakan kasus mengungkap rendahnya vaksinasi di negara tersebut. Jumlah kasus baru Covid-19 varian Delta di Selandia Baru mencapai 41 kasus hingga total kini 148 kasus. Jumlah itu sudah dianggap peningkatan yang tertinggi sejak 10 April 2020. Padahal, Selandia Baru relatif bebas Covid-19 sejak Februari lalu. Namun, situasi bebas virus tersebut berubah setelah varian Delta muncul kali pertama di Kota Auckland, lalu menyebar ke Ibu Kota Wellington.

Belajar dari kondisi yang dialami negara-negara di atas, apa yang semestinya dilakukan setelah level 1? Pemerintah dan berbagai pihak harus dapat mempertahankan capaian asesmen serta posisi zonasi level daerah maupun unsur-unsur lainnya. Selain itu, seluruh elemen masyarakat jangan lengah dan tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan di mana pun berada dan di semua lini. Sehingga ke depan Covid-19 makin terkendali dan terus melandai. Tetap memakai masker, menjaga jarak yang aman, menghindari kerumunan, dan mencuci tangan dengan sabun serta air mengalir. Ditambah lagi perlunya percepatan vaksinasi bagi usia di atas 12 tahun dan dosis ketiga bagi SDM kesehatan di Jatim.

Sekaligus sedikit mengingatkan kembali bahwa pemerintah dan masyarakat diibaratkan pelari yang masih harus lari terus ke garis finis belum tampak. Masih belum injury time, musuh masih bisa menyalip. Karena itu, disiplin protokol kesehatan dan percepatan vaksinasi menjadi kunci yang harus dipegang. (*)

Oleh : I GEDE ALFIAN SEPTAMIARSA, Staf Humas Pemprov Jawa Timur