headline

Ekonomi Kepri Bisa Tumbuh 3,65 Persen

Sampai Akhir 2021, Seiring Kasus Covid-19 Terus Melandai

Aktivitas bongkar muat kontainer di Pelabuhan Batuampar, Jumat (19/2).  (Iman Wachyudi/Batam Pos)

batampos.id – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kepri memprediksi akumulasi pertumbuhan ekonomi Provinsi Kepri dalam setahun ini, berada di kisaran 2,85 persen sampai 3,65 persen. Apalagi jika kasus Covid-19 terus melandai sejalan dengan optimalisasi program vaksinasi.

”Iya, perbaikan ekonomi diperkirakan akan terus berlanjut karena angka Covid-19 sudah melandai. Sepanjang 2021 diperkirakan akan tumbuh 2,85 sampai 3,65 year on year (yoy). Kecenderungannya akan ada di batas atas,” kata Kepala BI Perwakilan Kepri, Musni Hardi, dalam acara webinar bersinergi dengan Kantor Wilayah Direktorat Perbendaharaan Provinsi Kepri yang juga merilis Kajian Fiskal Regional triwulan II-2021, Kamis (23/9).

Secara tahunan, perekonomian Kepri pada triwulan kedua 2021 tumbuh 6,90 persen (yoy). Jauh lebih baik dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh -1,19 persen (yoy).

Selain karena progres vaksinasi yang terus berjalan, akselerasi pertumbuhan ekonomi juga didorong meningkatnya mobilitas masyarakat dan optimisme pelaku usaha, serta permintaan ekspor yang meningkat seiring perbaikan ekonomi di negara mitra dagang utama.

”Kondisi tersebut turut didukung berlanjutnya stimulus belanja pemerintah daerah dalam kerangka program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN),” tambahnya lagi.

Dari sisi eksternal, peningkatan ekspor dari Kepri berlangsung seiring meningkatnya mobilitas masyarakat dan aktivitas ekonomi di negara mitra dagang utama yang didukung oleh meningkatnya jumlah penduduk yang telah divaksinasi.

Dari sisi pengeluaran, perbaikan pada triwulan pertama terjadi pada seluruh komponen terutama komponen investasi dan net ekspor. ”Perbaikan ekonomi terutama juga didorong oleh industri pengolahan, konstruksi serta transportasi dan pergudangan,” ungkapnya.

Dengan memperhatikan proyeksi pertumbuhan ekonomi global dan nasional terkini, serta perkembangan kasus Covid-19 yang semakin baik, perekonomian Kepri pada tahun 2021 diperkirakan tumbuh lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.

Lebih lanjut lagi, dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan inklusif, beberapa upaya dapat dilakukan. Antara lain, meningkatkan daya saing investasi (ease of doing business) sebagai tindaklanjut pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2021, melalui efisiensi dan digitalisasi proses perizinan investasi.

Kemudian, menyukseskan implementasi Online Single Submission (OSS) bagi pelaku usaha dan investor di Provinsi Kepri, khususnya yang berada di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), dan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (KPBPB).

”Mendorong peningkatan penggunaan bahan baku berbasis Sumber Daya Alam (SDA) lokal oleh sektor industri untuk menghasilkan nilai tambah (value added) yang lebih besar. Salah satunya dengan memberikan insentif bagi investasi pada sektor industri yang berbasis SDA Kepri, seperti industri pengolahan hasil pertanian, perikanan atau hasil laut lainnya,” paparnya.

Selanjutnya, mendorong penguatan kelembagaan petani, nelayan, UMKM (usaha mikro kecil menengah) melalui korporatisasi dan meningkatan peran BUMDes, serta memperkuat kemitraan UMKM dengan sektor korporasi, industri maupun eksportir.

”Langkah berikutnya, mendorong perbaikan kapasitas dan kualitas infrastruktur pendukung, antara lain sarana transportasi, jalan, jembatan, bandara, pelabuhan untuk meningkatkan efisiensi biaya logistik dan konektivitas antar wilayah,” ungkapnya.

Terakhir, mengakselerasi digitalisasi ekonomi dan keuangan di daerah melalui digitalisasi UMKM, baik untuk pemasaran melalui e-commerce maupun digitalisasi pembayaran, antara lain menggunakan Quick Response Code Indonesia Standard (QRIS), serta mengakselerasi program Elektronifikasi Transaksi Pemda melalui Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) di tingkat Provinsi dan Kota dan Kabupaten. (*)

Reporter : RIFKI SETIAWAN
Editor : MOHAMMAD TAHANG