Metropolis

Mau Hiburan! ke Pusat Rehabilitasi Sosial Non Panti Teluk Pandan Aja, Suda Buka dengan Protokol Kesehatan

Lokalisasi Sintai beberapa waktu lalu. f: Iman Wachyudi / Batam Pos

batampos.id– Kawasan hiburan malam di Pusat Rehabilitasi Sosial non Panti, Telukpandan, Sintai, Tanjunguncang, kembali beroperasi. Kawasan ini sempat tutup total selama dua bulan karena pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM)
Darurat dan PPKM level IV hingga level III beberapa waktu yang lalu.

BACA JUGA: Tempat Hiburan Malam Dilarang Buka hingga 24 Juni

Kini kawasan “1001 satu malam” ini sudah kembali dibuka untuk umum dengan penerapan aturan protokol kesehatan yang ketat. Pengunjung harus melalui serangkaian pengecekan di gerbang masuk seperti pengecekan suhu tubuh, cuci tangan hingga penggunaan masker dan lain sebagainya.

“Ada juga rencana mau pakai barkot untuk sertifikat vaksin seperti di pusat hiburan lainnya tapi belum berjalan. Ya harap maklumlah kondisi seperti ini tentu akan menyulitkan kami di sini karena (tamu) yang datang ke sini tentu akan keberatan,” ujar
Ketua Organisasi Bina Sosial Teluk Pandan Sintai M Nasir, Jumat (24/9).

Meskipun demikian Nasir optimis bahwa penerapan Protokol Kesehatan serta upaya lainnya untuk mencegah mewabahnya Covid-19 ke dalam kawasan tetap diperhatikan dengan baik.

Sepi Pengunjung, Pengelolah Bar Sulit Bertahan
Hantaman wabah pandemi Covid-19 yang terjadi selama dua tahun terakhir ini sangat berdampak bagi pengusaha atau pemilik bar di lokasi Pusat Rehabilitasi Sosial non Panti, Telukpandan, Sintai. Banyak bar yang tutup karena biaya operasional lebih besar dari pemasukan. “Awalnya ada 28 bar, sekarang yang aktif tinggal 14 bar. Separuhnya sudah menyerah. Itulah kondisi kami di sini saat ini. Buka sih buka, cuman yang datang tak ada,” Ketua Organisasi Bina Sosial Teluk Pandan Sintai M Nasir.

Begitu juga dengan wanita penghibur yang bekerja di sana sudah jauh berkurang. Jumlah pekerja aktif saat ini tidak lebih dari 100 orang. Padahal sebelumnya mencapai angka 300 orang. Selain karena separuh bar yang tutup, juga karena adanya pengurangan jumlah pekerja di bar yang masih aktif lantaran persoalan minimnya pengunjung tadi. “Susah mau jelaskan lagi. Sekarang yang masih ada ini hanya bisa bertahan saja,” ujar Nasir.

Seorang pekerja yang menyebut namanya Nining, mengaku dalam satu Minggu paling banyak menerima dua samai tiga orang tamu. Itu karena minim sekali pengunjung yang bertandang ke sana semenjak pandemi ini mewabah. “Dua malam terakhir tak ada tamu saya malah. Itulah kondisi saat ini. Sepakan yang lalu saya cuman dapat dua tamu,” katanya.

Kondisi ini tentu menyulitkan mereka sebagai pekerja sebab penghasilan mereka tergantung dari jumlah tamu yang datang. (*)

Reporter: Eusebius
editor: tunggul