Feature

Baru Setahun Dibuka, Langsung Sepi Dihantam Pandemi Covid-19

Melihat Kawasan Ekowisata Mangrove Pandang Tak Jemu Nongsa

Sejumlah pengunjung menimkati suasana kawasan ekowisata mangrove, Pandang Tak Jemu di Kampung Tua Bakauserip, Nongsa, Jumat (24/9) lalu. (Rifki Setiawan/Batam Pos)

Pariwisata berbasis community based tourism (CBT) yang dikembangkan masyarakat pesisir Batam sangat terdampak pandemi Covid-19. Salah satunya, kawasan ekowisata mangrove, Pandang Tak Jemu di Kampung Tua Bakauserip, Nongsa. Seperti apa kondisinya kini?

Reporter : RIFKI SETIAWAN
Eeditor : MOHAMMAD TAHANG

KAWASAN ekowisata ini dibuka 2019. Namun, ketika masih dalam tahap pengenalan kepada pelancong lokal dan asing, pandemi menghantam, dan kawasan ini langsung sepi pengunjung.

Pengelola Pandang Tak Jemu, Jerry Mangrove, mengisahkan, kawasan wisata tersebut berfokus pada wisata alam, dimana pengunjung bukan hanya mencuci mata, tapi juga bisa mendapatkan edukasi mengenai konservasi alam, yakni mengenai pohon bakau yang memang menjadi andalan utama kawasan ekowisata ini.

”Di dalam wisata ini, ada banyak yang bisa dipelajari selain hanya berwisata. Bagi pengunjung, sebagai sarana edukasi mengenai konservasi alam dan belajar melestarikan mangrove. Dan bagi masyarakat sekitar, dapat membantu meningkatkan taraf ekonomi masyarakat setempat,” katanya, Jumat (24/9) lalu.

Pantauan Batam Pos, di kawasan seluas lima hektare ini, mata akan dimanjakan dengan pemandangan pohon bakau. Di antara pohon-pohon tersebut, pengelola membangun jembatan panjang yang membentang hingga pantai.

Di pertengahan, menjadi persimpangan empat, dimana di jalan ke kiri menuju spot foto berupa kursi-kursi unik. Sementara di jalan ke kanan terdapat rumah berkubah bulat dan memiliki pintu bulat, yang bisa dimanfaatkan untuk berswafoto.

Kemudian, jalan lurus menuju pantai. Setelah di ujung jembatan, maka ada dua jalan lagi. Jalan ke kanan menuju pantai berbatu dan juga banyak terdapat pohon bakau. Sementara jalan ke kiri menuju kawasan berpasir yang di kelilingi pohon-pohon bakau. Tempat ini sering dimanfaatkan pengunjung untuk berkamping dan bakar-bakar ikan.

Jerry mengungkapkan, bakau-bakau di Pandang Tak Jemu ini merupakan salah satu hutan mangrove tertua di Batam, setelah disurvei oleh dinas terkait. Pandang Tak Jemu sendiri dibuka 1 Januari 2019.

”Tapi baru setahun kami berjalan, akhirnya terkena pandemi. Ibarat baru nak merangkak, kena wabah luar biasa. Banyak kendala kami hadapi, sampai kami terpukul dengan keadaan ini, sangat merugikan semua,” jelasnya.

Pernyataan tersebut membenarkan suasana Pandang Tak Jemu yang sangat sepi, hanya didatangi oleh puluhan pelancong, meski itu di akhir pekan. Biasanya sejak awal pintu masuk, banyak masyarakat yang berjualan makanan ringan, atau menjual suvenir.

Di dekat pintu masuk juga, Pandang Tak Jemu menyediakan lokasi khusus untuk aksesoris, serta panggung untuk hiburan. Di sebelah panggung, terdapat pondok-pondok yang dapat dimanfaatkan pengunjung untuk bersantai. Ongkos per pengunjung relatif murah, hanya Rp 10 ribu.

Sebagai informasi, Pandang Tak Jemu masuk dalam 100 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021 yang digelar Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. ”Ini menjadi suatu kebanggaan bagi kami, karena tak pernah mengira bisa masuk 100 besar di antara ribuan pesaing dari 34 provinsi,” ujarnya.

Ia pun berharap tempat wisata ini mampu berkelanjutan. Masyarakat tetap akan perbaiki kekurangan dengan harapan ada dukungan dari pemerintah juga. Selain wisata, keberadaan Pandang Tak Jemu ini juga untuk menjaga kelestarian alam mangrove di Batam,” jelasnya.

Salah seorang pengunjung, Dewo, dari Komunitas Penggiat Kopi, mengatakan bahwa Pandang Tak Jemu ini sangat berkesan baginya. ”Kesannya bagus, animo baik, karena banyak yang belum tahu dan belum pernah ke sini. Jadi, bagi kami ini perkenalan baru. Mudah-mudahan ke depan lebih baik fasilitasnya supaya pengunjung lebih happy,” ungkapnya.

Ia mengaku datang bersama 40 orang temannya untuk bersantai di akhir pekan. ”Kami tadi 40 orang, bawa perlengkapan maisng-masing. Dan dari tim pengelola wisata ini cukup support kebutuhan kami,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kepri, Buralimar, mengatakan, Pandang Tak Jemu baru berjalan sebentar, jadi masih ada ruang untuk terus berkembang. Kampung wisata ini berlokasi berdekatan dengan destinasi wisata lainnya, yakni Makam Nong Isa.

Menurut Buralimar, salah satu kendala mengapa desa-desa di Kepri kesulitan mengembangkan manajemen dan destinasi wisata, karena pengelolaan yang masih bersifat kelompok.

”Pemerintah selalu menganggarkan untuk dana desa. Dana ini bisa dialokasikan, tapi tidak boleh disalurkan pada perorangan atau kelompok. Intinya desa wisata itu harus yang menggerakkan adalah desa, bukan kelompok masyarakatnya. Makanya yang mulai inisiatif harus kepala desa atau lurahnya,” jelasnya.

Jika perangkat desa hingga masyarakat menyadari pentingnya kerja sama dalam mengelola desa wisata, maka dana desa bisa dialokasikan untuk peningkatan destinasi wisata.

”Walau demikian, saya salut dengan kelompok sadar wisata (pokdarwis). Mereka mandiri, berbuat sendiri di Bakau Serip. Tempatnya memang bagus, tapi belum terkelola oleh manajemen yang baik. Butuh peran dari pemerintah,” paparnya.

Sementara itu, di Batam sendiri tidak mengenal istilah desa. Buralimar menyarankan perlu dipertimbangkan kembali status desa di Batam. Jika tidak, maka tidak dapat dana desa.

Pandang Tak Jemu misalnya. Dikelola dengan dana swadaya masyarakat setempat. Padahal, jika menjadi desa, maka bisa dikelola menggunakan dana desa pemerintah pusat. Seperti kebanyakan kawasan desa wisata di Jawa. ”Semestinya yang di pulau-pulau kembali jadi desa saja,” harapnya. (*)