Nasional

Hanya 50 Persen Orang Tua yang Setuju PTM

Pelaksanaan PTM di SMPN 36 Surabaya. (Dipta Wahyu/Jawapos)

batampos.id – Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di sekolah sudah dimulai di sebagian wilayah Indonesia. Namun sejumlah orang tua sebetulnya masih khawatir jika ada klaster penularan Covid-19 di sekolah. Survei Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebutkan hanya 50 persen orang tua atau separuh populasi orang tua yang setuju anaknya mulai PTM. Sisanya masih khawatir.

“Ada 50 persen orang tua tetap mau anak di rumah sampai keadaan aman. Tapi 50 persen lainnya tetap mau dengan berbagai alasan mencoba PTM ini. Nah yang 50 persen PTM ini harus kita kawal. Apalagi ada orang tua yang antivaksin, guru belum divaksin,” kata
Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI Prof Aman B. Pulungan, Sp.A dalam keterangan virtual, Minggu (26/9).

“Hampir 60 persen keluarga Indonesia menganggap kita akan hidup selama pandemi. Kita harus sekolah tatap muka aman. Maka harus ada yang menjamin aman,” lanjutnya.

Menurut Prof Aman apalagi saat ini sudah muncul berita bahwa ada anak tertular Covid-19 di sekolah. “Ada anak positif tapi kami enggak lihat mitigasinya gimana. Memang sekolah langsung ditutup saja. Tapi testingnya gimana, tracingnya gimana,” tegasnya.

Sepanjang pandemi Covid-19, berdasarkan studi retrospektif dari data berdasarkan laporan kasus Covid-19 pada anak yang dirawat oleh dokter anak yang tergabung dalam Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) selama Maret-Desember 2020 (gelombang pertama Covid-18 di Indonesia), didapatkan 37.706 kasus anak terkonfirmasi Covid-19. Hasil penelitian IDAI tersebut dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Frontiers in pediatrics yang terbit 23 September 2021 lalu.

“Penelitian ini adalah gambaran data terbesar pertama kasus Covid-19 anak di Indonesia pada gelombang pertama Covid-19. Angka kematian yang cukup tinggi adalah hal yang harus dicegah dengan deteksi dini dan tatalaksana yang cepat dan tepat,” katanya.

Berdasarkan data tersebut, diantara anak-anak terkonfirmasi Covid-19 yang ditangani oleh dokter anak, angka kematian tertinggi pada anak usia 10-18 tahun (26 persen), diikuti 1-5 tahun (23 persen), 29 hari- kurang dari 12bulan (23 persen), 0-28 hari (15 persen), dan 6- kurang dari 10 tahun (13 persen). Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa penyebab kematian anak akibat Covid terbanyak dikarenakan faktor Gagal Napas, Sepsis/syok Sepsis, serta penyakit bawaan (komorbid). Sementara komorbid terbanyak pada anak Covid-19 yang meninggal adalah malnutrisi dan Keganasan, disusul penyakit jantung bawaan, kelainan genetik, Tuberkulosis (TBC), penyakit ginjal kronik, celebral palsy, dan autoimun. Sementara 62 anak meninggal tanpa komorbid.

Lebih lanjut, laporan riset IDAI tersebut juga menjabarkan distribusi regional kasus Covid-19 pada anak, dimana terdapat 10 (sepuluh) daerah di Indonesia dengan kasus anak terkonfirmasi Covid terbanyak yakni: Jawa Barat, Riau, Jawa Tengah, Sumatera Barat, Kalimantan Timur, Jawa Timur, Bali, Sumatera Utara, DIY, dan Papua. Juga ada 7 (tujuh) daerah dengan kasus kematian anak terkonfirmasi Covid terbanyak, yaitu: Jawa Tengah, DKI Jakarta, Jawa Barat, Sumatera Selatan, Jawa Timur, Sumatera Utara, dan Sulawesi Selatan.

Data Kemenkes pada waktu yang sama mendapatkan 77.254 kasus anak terkonfirmasi Covid-19 dari total kasus 671.778, yaitu sekitar 11,5 persen. Perbedaan jumlah ini terjadi karena di penelitian ini yang terdata hanyalah kasus yang ditangani oleh dokter anak, sedangkan Kemenkes juga masukkan data dari anak yang tidak bergejala dan hasil telusur kontak. (*)

Sumber: JP Group
Editor: Jamil Qasim