Bintan-Pinang

Pencari Suaka Minta Dipindah ke Negara Ketiga

Pencari suaka berunjukrasa di Lapangan Pamedan, minta dipindahkan ke negara ketiga, Senin (27/9). F. Peri Irawan

batampos.id-Ratusan pengungsi atau pencari suaka asal Afganistan yang tinggal di Tanjungpinang berunjukrasa di Lapangan Pamedan meminta dipindahkan ke negara ketiga. Dari spanduk yang dibentangkan ratusan pengungsi itu, keberadaanya di Tanjungpinang sudah cukup lama, bahkan mencapai 10 tahun sejak 2012 lalu.

BACA JUGA: Tak Dapat Kepastian dari Negara Ketiga, Ini yang Dilakukan Para Pencari Suaka di Batam

Koordinator aksi, Yahya Jamilah menjelaskan tujuan aksi demo itu untuk meminta kepada organisasi yang bertanggungjawab yaitu United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) untuk memberikan penjelaskan tentang statusnya pemindahan ke negara ketiga. “Kami di Indonesia seluruh warga Afganistan sudah menunggu selama satu dekade untuk proses perpindahan ke negara ketiga,” kata Jamilah, di Lapangan Pamedan, Senin (27/9).

Jamilah menjelaskan, selama penantian itu banyak diantarnya yang sudah, depresi,putus asa bahkan bunuh diri karena tidak ada gambaran masa depan. “Kami semua cemas pak. Kami kumpul di sini agar suara kami didengarkan. Tolong bantu kami sebelum kondisi ini mengalahkan kami,” ujarnya.

Ia mengaku setiap mengadakan rapat dengan pemerintah setempat selalu mendapatkan jawaban yang sama yaitu memintanya untuk menunggu. “Kami meminta kepada pemerintah setempat untuk menekan organisasi terkait agar melakukan negosiasi dengan negara ketiga yang mau menampung agar lepas dari kondisi ini,” ucapnya.

Memang demo dalam masa pandemi covid-19 itu tidak bagus, bahkan tidak diberi izin oleh pihak kepolisian, namun langkah itu sudah terpaksa dilakukan karena tidak ada cara lain. “Tidak ada pilihan lain, kami di Tanjungpinang ada 300 lebih jumlahnya,”tambahnya.

Sementara itu, Kapolres Tanjungpinang, AKBP Fernando mengatakan awalnya kepolisian tidak memberi izin untuk aksi itu karena dalam masa pandemi covid-19, namun para pengungsi itu memaksa akhirnya diberi waktu satu jam untuk menyampaikan aspirasi. “Kita tidak beri izin atau rekomendasi, tapi mereka memaksa untuk turun, kita awasi agar patuh protokol kesehatan,” kata Fernando. (*)

Reporter : Peri Irawan
editor: tunggul