Covid-19

Tak Ada Zona Merah di Batam

Rudi: PPKM Batam Layak Turun ke Level 1

Pengunjung di salah satu restoran cepat saji sedang berbincang-bincang beberapa waktu lalu. Seiring mulai dilakukan pelonggaran aktivitas masyarakat oleh pemerintah, pusat-pusat perbelanjaan dan restoran mulai ramai dikunjungi warga dengan tetap menjalankan protkes ketat. (Immanuel Sebayang/Batam Pos.

batampos.id – Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Batam melaporkan, tidak ada lagi wilayah yang masuk kategori risiko tinggi atau zona merah di seluruh kecamatan di Kota Batam. Wali Kota Batam, Muhammad Rudi, bahkan yakin status Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Batam layak turun ke level 1.

Berdasarkan peta zonasi risiko Covid-19 terbaru Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Kota Batam, Minggu (26/9), tidak ada lagi wilayah berzona merah Covid-19. Pada pekan lalu, zona merah memang tersisa satu wilayah yaitu di Kecamatan Sekupang.

”Benar, tak ada lagi zona merah, ini harus tetap kita pertahankan. Menjaga protokol kesehatan tetap harus diprioritaskan,” ujar Ketua Bidang Kesehatan Satuan Tugas Covid-19 Batam, dr Didi Kusmarjadi, SPoG, kemarin.

Berdasarkan data Satgas Covid-19 per 26 September 2021, Batam kini didominasi zona risiko rendah, dimana enam kecamatan berzona hijau. Sementara lima kecamatan lain berzona kuning serta satu zona oranye.

”Sisa satu zona oranye yakni Batam Kota. Sementara zona kuning: Bengkong, Batuaji, Lubukbaja, Sekupang dan Sagulung. Sisanya, zona hijau. Selain Batam Kota, kasus aktif di seluruh kecamatan di bawah 10 orang,” ungkap pria yang juga Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam itu.

Didi menambahkan, pasien dalam perawatan saat ini berjumlah 43 orang (hanya 13 orang di rumah sakit, red). Jumlah ini terus mengalami penurunan dibandingkan jumlah kasus aktif beberapa pekan terakhir. Sepanjang 24 jam ini terakhir tercatat ada penambahan lima pasien terkonfirmasi positif Covid-19 dan 22 pasien yang sembuh. ”Pasien meninggal tak ada,” tambahnya.

Adapun perkembangan pasien sembuh Covid -19 di Kota Batam, jumlahnya saat ini sudah melebihi 24 ribu atau tepatnya 24.888 orang dengan persentase tingkat kesembuhan 96,592 persen. Angka kesembuhan kumulatif ini meningkat dari beberapa pekan terkahir.

Untuk jumlah kasus aktif atau pasien yang masih membutuhkan perawatan medis juga mengalami penurunan dengan persentase 0,167 persen.

Tim Gugus Tugas Covid-19 Kota Batam mencatat, pasien yang masih mendapatkan perawatan sebanyak 21 orang menjalani isolasi mandiri, 13 orang dirawat di rumah sakit, dan sembilan orang di Asrama Haji Batam. ”Untuk pasien Covid-19, baik di Asrama Haji dan rumah sakit juga terus mengalami penurunan yang signifikan,” sebut Didi.

Rudi Minta Warga Tetap Perketat Protkes

Di tempat terpisah, Wali Kota Batam, Muhammad Rudi, membenarkan jumlah pasien Covid-19 yang masih dalam perawatan terus menurun. Sehingga, menurutnya, Batam layak masuk level 1.

”Sebenarnya kita ini sudah level satu. Tapi yang menentukan pusat, jadi kalau kasus ini bisa terus ditekan, dan angka yang dirawat tidak melebihi 31 orang, maka harusnya Batam ditetapkan level 1,” ujarnya saat menghadiri acara di Tanjungriau, Minggu (26/9).

Ia menyebutkan, meskipun PPKM Batam layak turun ke level 1, harus tetap waspada akan gelombang ketiga Covid-19 dan varian barunya. Apalagi, Batam berdekatan dengan Singapura dan sekaligus menjadi pintu masuk Pekerja Migran Indonesia (PMI), Warga Negara Asing (WNA), dan Warga Negara Indonesia (WNI), sehingga potensi ancaman gelombang ketiga menyerang masih tinggi.

Namun, ia berharap, ancaman itu bisa dikendalikan dan tidak seperti gelombang kedua dan pertama. ”Jangan sampai seperti sebelumnya, ada lima ribu orang dirawat dan harus menjalani karantina mandiri akibat virus ini. Kalau pun nanti masuk, saya berharap masyarakat Batam bisa membantu pemerintah agar penyebaran tidak meluas,” imbuhnya.

Ia meminta kepada masyarakat untuk tidak melepas masker, hindari kerumunan dan pastikan menjaga jarak. Ancaman gelombang ketiga bisa saja terjadi di Batam. Untuk itu, untuk mengendalikannya perlu peran semua orang.

”Virus ini tidak akan bisa dihentikan polisi, tentara, dan tim Satgas Covid-19 karena tak kasat mata. Untuk itu, saya minta jangan lupa pakai masker, dan patuhi imbauan pemerintah,” tegasnya.

Akibat Covid-19, banyak persoalan yang muncul. Pertama, angka pengangguran meningkat, akibat banyak yang kehilangan pekerjaan. Kedua, pemerintah kalang kabut karena uang tidak ada, sedangkan permasalahan banyak yang harus dituntaskan. Ketiga, tidak hanya soal kesehatan, melainkan juga upaya dalam pemulihan ekonomi.

”Untuk itu, saya berharap tanggal 4 mendatang, Batam bisa level satu. Agar semakin banyak kelonggaran yang diberikan, dan aktivitas masyarakat berangsur perlahan seperti dulu. Meskipun begitu saya minta protkes tidak boleh kendor,” bebernya.

Rudi berharap tahun depan pemulihan ekonomi sudah bisa terjadi. Dengan semakin melandainya angka kasus, tentu akan memberikan dampak terhadap kebijakan di Batam. Ke depan tentu pemerintah harus memikirkan kebutuhan masyarakat saat masa pemulihan. Ada kegiatan yang harus digelar, agar perekonomian membaik.

”Tahun depan kalau bisa semua beroperasi kembali, sehingga mereka yang kehilangan pekerjaan bisa kembali bekerja,” harapnya. (*)

Reporter : RENGGA YULIANDRA
YULITAVIA
Editor : MOHAMMAD TAHANG