Home

Tebar Teror, Separatis Teroris Papua Tembak Mati Anggota Brimob

Sebanyak 17 warga sipil yang dievakuasi dari Distrik Kiwirok saat tiba di Oksibil, ibu kota Kabupaten Pegunungan Bintang (25/9). (HUMAS POLDA PAPUA FOR CENDERAWASIH POS)

batampos.id – Kelompok separatis teroris (KST) Papua kembali menebar teror di Distrik Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang. Mereka menyerang Mapolsek Kiwirok pada Minggu (26/9) dini hari. Dalam baku tembak itu, seorang anggota Brimob bernama Bharatu Muhammad Kurniadi Sutio gugur.

”Awalnya ada tembakan dari KST, lalu dilakukan tembakan balasan dan upaya penyergapan,” ujar Kasatgas Humas Operasi Nemangkawi Kombespol Ahmad Mustofa Kamal. Saat baku tembak itu, Bharatu Anumerta Muhammad Kurniadi tertembak di bagian ketiak sebelah kanan. ”Luka tembakan itu membuat anak bangsa terbaik gugur,” terang polisi yang juga menjabat Kabidhumas Polda Papua tersebut. Korban dievakuasi pada pukul 07.16 WIT dengan menggunakan helikopter. Jenazahnya disemayamkan di Aceh, kota asalnya. ”KST yang melakukan penembakan masih dikejar,” tegasnya.

KST sebenarnya tidak memiliki banyak senjata api. Satu anggota KST pemegang senjata api biasanya dikawal tiga orang yang membawa busur dan parang. ”Jika anggota KST yang membawa senjata api ini tertembak, yang mengawal itu langsung mengambil senjatanya,” tuturnya. Lalu, KST memunculkan tuduhan bahwa yang tertembak adalah warga sipil. ”Mereka hampir selalu melakukan itu, fitnah warga sipil ditembak. Padahal, yang tewas itu anggota KST yang senjatanya sudah diambil teman mereka sendiri,” terangnya.

Sementara itu, Juru Bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM, versi pemerintah disebut KST) Sebby Sambom punya versi tersendiri. Dia menuturkan, dalam baku tembak Minggu dini hari itu, pihaknya berhasil menembak mati dua anggota TNI dan Polri. ”Yang pasti, kami bertanggung jawab dalam kejadian penembakan tersebut,” jelasnya dalam keterangan tertulis.

Gerald Sokoy Selamat

Gerald Sokoy telah kembali ke keluarganya di Jayapura. Gerald adalah tenaga kesehatan (nakes) yang hilang saat KST menyerang Kiwirok. Gerald diserahkan KST kepada Pemkab Pegunungan Bintang. Lalu, pemkab menyerahkan Gerald kepada keluarganya. Penyerahan itu dilakukan di Hotel Horex Sentani, Kabupaten Jayapura, Sabtu (25/9) dengan disaksikan perwakilan polisi, TNI, dan dipimpin Bupati Spei Yan Bidana.

Pantauan Cenderawasih Pos, Gerald masih mengenakan sweter biru tua dan kaus dalam warna putih yang dipadukan dengan celana training hitam. Pakaian yang dikenakan Gerald masih sama persis dengan yang fotonya dimunculkan KST ketika mengonfirmasi keberadaan Gerald beberapa waktu lalu.

Gerald tidak banyak bersuara. Dia hanya sekali berbicara untuk memberikan keterangan pers saat diberi kesempatan oleh moderator. Namun, Gerald tidak banyak memberikan keterangan terkait dengan pengalamannya selama dia diduga disandera KST.

”Kejadian saat itu tanggal 13 September, pagi-pagi kami siap mau pelayanan. Tapi, masih dingin, jadi kami di dalam rumah saja. Tiba-tiba ada yang teriak suruh keluar dari rumah. Mereka mau bakar rumah-rumah ini. Karena saya takut sekali, jadi lari saja keluar. Saya lari duluan keluar. Saya langsung lompat ke jurang,” bebernya.

Gerald juga mengaku mendengar suara tembakan senjata api dari dalam rumah yang ditempatinya bersama rekannya. ”Bunyi tembakan itu yang saya kaget tambah balap (kencang) lagi. Lompat ke dalam jurang. Sudah itu saya lari terus, tidak pernah balik ke belakang lagi. Turun di kali, sampai sudah mulai tenang, baru saya jalan pelan-pelan. Sampai di mana saya bisa tidur, saya tidur sampai saya selamat hari ini,” katanya.

Gerald juga tidak menyebut secara pasti apakah dirinya disandera KST atau tidak. Namun, dia mengakui kebenaran foto dirinya bersama sejumlah anggota KST yang beredar di media sosial.

Pada bagian lain, Perdana Menteri Republik Vanuatu Bob Loughman kembali menyerang Indonesia di forum sidang umum PBB.

Dalam pidato virtualnya, PM Vanuatu Bob Loughman menyebutkan bahwa pelanggaran HAM masih terjadi secara luas di seluruh dunia, termasuk Papua. ”Di wilayah saya, masyarakat adat Papua Barat terus menderita pelanggaran hak asasi manusia,” ujarnya. Dia meminta Indonesia mengizinkan PBB mengunjungi Papua. Dengan begitu, PBB bisa menilai secara independen kondisi HAM di Papua.

Tudingan tersebut langsung dijawab Sekretaris Ketiga Perwakilan Tetap RI untuk PBB Sindy Nur Fitry saat diberi kesempatan oleh pimpinan sidang. Sindy menampik tegas tuduhan tersebut. Sindy mengaku terkejut karena Vanuatu terus-menerus menggunakan forum PBB untuk mengusik kedaulatan dan integritas negara lain. Vanuatu juga melakukan agresi dengan maksud tercela dan motif politik untuk melawan Indonesia. Padahal, tudingan yang dilayangkan tidak berdasar. ”Kami secara tegas menolak, seluruh tuduhan tidak benar, tidak berdasar, dan menyesatkan yang terus dipelihara oleh Vanuatu,” tegasnya dalam Right of Reply Indonesia terhadap pernyataan Venuatu yang disampaikan Kemenlu, kemarin (26/9).

Penyelenggaraan PON

 Para pesepak bola putra tim Jawa timur saat mengikuti sesi latihan resmi di Stadion Mahanchandra Unce, Jayapura, Papua, kemarin (26/9). (ANGGER BONDAN/JAWA POS)

Kontak senjata yang mengakibatkan gugurnya seorang anggota Brimob terjadi di tengah hiruk pikuk PON XX. Meski demikian, hal itu tidak berpengaruh pada penyelenggaraan PON. Opening ceremony tetap digelar sesuai jadwal, yakni pada Sabtu (2/10). Beberapa cabang olahraga mulai dipertandingkan. Bahkan, sudah ada emas pertama yang diberikan. Adalah tim kriket super six putri Papua yang meraih emas. Di final, mereka mengalahkan kontingen Bali.

Raihan emas perdana itu disambut baik oleh Gubernur Papua Lukas Enembe. Melalui juru bicaranya, dia memberikan apresiasi.

”Gubernur menyatakan bahwa medali emas pertama dari kriket adalah modal berharga bagi seluruh cabang olahraga lain. Tentu agar menjadi lebih gigih, semangat, dan konsisten untuk menghadapi setiap pertandingan yang dijalani,” kata M. Rifai Darus, juru bicara gubernur Papua, dikutip dari siaran persnya.

Empat daerah yang menjadi lokasi penyelenggaraan PON memang sangat jauh dari wilayah konflik di Kabupaten Pegunungan Bintang. Dari Kota Jayapura yang paling dekat saja, jaraknya sekitar 319 kilometer. Tidak ada jalur darat. Satu-satunya akses dari Pegunungan Bintang ke Jayapura hanya menggunakan pesawat terbang.

Apalagi, pengamanan di setiap wilayah penyelenggara PON sangat ketat. Selain Kota Jayapura, ada Kabupaten Jayapura, Mimika, dan Merauke. Penjagaan di pintu masuk diperketat. Belum lagi penjagaan di venue yang benar-benar luar biasa. Dari pengamatan Jawa Pos, selalu ada aparat gabungan yang siaga dengan senjata laras panjang.

Penjagaan juga berlapis. Setidaknya ada 50 personel yang berjaga di setiap venue. Radius 100 meter dari venue, sudah ada aparat gabungan. Begitu juga di pintu masuk venue. Aparat gabungan siaga dengan senjata lengkap. Identitas orang yang masuk ke venue diperiksa satu-satu. Dengan begitu, penyelenggaraan PON tidak terganggu. (*)

Sumber: JP Group
Editor: Jamil Qasim