Feature

Sesuai Kreasi Pembuat, Bisa Berbentuk Pot Bunga atau Tokoh Kartun

Lewat Wayang Kardus, Taring Padi Menyebar Pesan dan Dukungan

Bambang Kristiono (kiri) dan Yayak Yatmaka pada hari kedua workshop wayang kardus di Surabaya (8/9). (Alfian Rizal/Jawa Pos)

Tema lingkungan, kudeta militer, sampai woro-woro Agustusan, semua bisa dilakukan lewat wayang kardus. Workshop keliling yang telah dan sedang dilakukan Taring Padi akan ditampilkan dalam pameran di Jerman.

Reporter: FAHMI SAMASTUTI
Editor: MOHAMMAD TAHANG

LEWATNYA, pesan, berita, dan dukungan bisa disampaikan. Tentang macam-macam: mulai penolakan kudeta militer, lingkungan, hingga woro-woro Agustusan. ”Bisa juga untuk seruan di kampung, misal dilarang buang sampah sembarangan,” kata Raung Singosari, salah seorang anggota Taring Padi.

Bebe, sapaan akrabnya, membincangkan wayang kardus. Kreasi yang semula dilatari semangat pemanfaatan sampah dan kemudian menjadi metode bercerita.

Mulai awal bulan ini, Taring Padi, komunitas yang didirikan di Yogyakarta pada 1998, melakukan tur workshop wayang kardus ke tiga kota di Jawa Timur: Jember, Malang, dan Surabaya. Ada lima orang dari Taring Padi yang bergerak dengan dibantu jejaring komunitas-komunitas setempat.

Sejak awal berdiri, Taring Padi dikenal lewat karya seni yang kritis kepada penguasa. Di ”kandangnya”, Taring Padi melejit lewat mural dan poster. Selain lewat visual, beberapa anggota yang mahir bermusik tergabung di Sekar Madjoe dan DK, singkatan Dendang Kampungan.

Meski merupakan komunitas, Taring Padi sangat terbuka pada kegiatan kolektif lain maupun yang digagas masyarakat. ”Kalau diperlukan, poster atau karya kami bisa dipinjam. Pas festival, wayang kardus yang kami buat juga ikut dipamerkan,” ungkap Yayak Yatmaka, perupa Taring Padi yang bermukim di Surabaya.

Bebe menjelaskan, workshop wayang kardus dilaksanakan lebih dulu di Yogyakarta. Pelaksanaannya dua kali. Pertama, di Omah Buku Kreatif di Kampung Ledok Tukangan, Kali Code. Kemudian dilanjutkan di Survive! Garage.

Wayang kardus punya sejarah sama panjangnya dengan eksistensi Taring Padi. Karya seni itu menjadi andalan komunitas tersebut selain seni cukil kayu dan lino block. Karena digunakan dalam arak-arakan, ukurannya dibuat life-size. Tinggi rata-ratanya mencapai 1,5 meter. Belum termasuk tambahan penyangga bambu.

Tujuan awalnya, ”memperbanyak” pasukan di tengah demo reformasi 1998. ”Bisa juga jadi alat pelindung. Ketika diginikan (diangkat), ia jadi benteng. Ketika diarahkan ke depan, jadi senjata,” kata Bambang Kristiono, salah seorang pengurus Taring Padi.

Saat mengunjungi Surabaya pada 7–8 September lalu, Taring Padi berpartner dengan Serikat Mural Surabaya. Di Jember, mereka menggandeng Museum Huruf. Di Malang, Taring Padi bersama komunitas tuan rumah –Pena Hitam dan Titik Dua Kolektif– menggandeng warga Kampung Warok, Desa Sumbersekar, Kabupaten Malang.

Menurut Bebe, acara serupa dilaksanakan di Jerman. Akhir pekan lalu, personel komunitas yang tinggal di sana mengadakan workshop bersama Soydivision Collective, Berlin. ”Kabarnya, di situ bakal dibuat tur juga,” imbuhnya.

Tur di tiga tempat di Jawa Timur itu masih permulaan. Workshop wayang kardus bakal dilanjutkan ke Jawa Tengah. ”Teman-teman masih planning, tapi kabarnya ke Kendeng, Pati, Rembang, Blora, lalu lanjut ke Wadas,” papar Mbeng, sapaan akrab Bambang Kristiono.

Wadas adalah desa di Purworejo yang tengah dilanda konflik tanah. Warga menolak penambangan batu andesit dan pembangunan Bendungan Bener. Isu lingkungan di Wadas itu juga ikut meramaikan workshop wayang kardus di Surabaya. Yayak membuat dua wayang bertema penolakan warga tersebut.

Satu berupa seorang emak membawa pisau dan padi dengan pita bertulis Save Wadas. Satu lagi sepasang petani dengan gaman yang menduduki babi terikat di atas pundi bertulis korupsi. ”Kami keluarin wayang tentang itu untuk contoh bahwa saat ini ada isu yang menyangkut hidup orang banyak,” ungkap Yayak.

Bebe, yang mengikuti rangkaian tur Jawa Timur, menyebut workshop maraton tidak menuntut banyak modal. Bahan dan alat disediakan komunitas tuan rumah. Taring Padi memboyong beberapa peranti sebisanya. Tidak ada pakem yang mengikat agar ide tak macet. Termasuk untuk karakter yang dibuat.

Di workshop di Malang dan Jember yang diikuti anak-anak, misalnya, ada wayang berupa pot bunga sampai tokoh kartun. Semuanya berdasar pengamatan sehari-hari dan kreasi si pembuat wayang kardus. Tantangannya justru ada pada peserta yang maju-mundur, bahkan tidak mau menggambar karena tidak percaya diri. Takut hasilnya jelek.

Yayak menilai hal itu sudah seperti penyakit bangsa. ”Di Malang, ada anak-anak yang merasa enggak bisa. Tapi, setelah dicoba, anak-anak minta lagi, minta lagi,” ungkapnya. Tiap kota juga memiliki cerita. Jumlah wayang yang dibuat di tiap kota pun berbeda-beda.

Yayak menambahkan, tiap hasil jadi bakal diberi identitas pembuatnya. Lalu diserahkan ke komunitas tuan rumah. Wayang-wayang kardus bebas dimanfaatkan. Misalnya, dibuatkan pementasan, dipinjamkan ke komunitas lain yang membutuhkan, atau sekadar dipamerkan. ”Syukur kalau diperbanyak atau dibuat lagi yang baru sesuai kebutuhan,” ungkap Yayak.

Wayang kardus juga dinilai sangat bisa dimanfaatkan warga. Yayak mencontohkan pembuatan wayang kardus untuk meramaikan acara Agustusan. Dalam praktik pengorganisasian warga, wayang kardus bisa pula digunakan untuk cerita pertunjukan. Karakter dibuat sesuai dengan tokoh yang akan diceritakan. ”Prinsipnya mirip wayang tradisional. Tapi, lakonnya bukan Arjuna, melainkan rakyat,” imbuh Mbenk.

Ide wayang kardus tersebut juga ditularkan ke negara-negara tetangga. Kebetulan, pada awal 2000-an, komunitas kolektif se-Asia berkumpul di Taring Padi. Mereka pun menjalin kerja sama dan mengadakan kegiatan bersama. ”Ketika ada kejadian kudeta militer di Myanmar, kami juga bikin kegiatan solidaritas. Buat lagu, ngajak mereka bikin wayang kardus versi sendiri untuk demo,” paparnya.

Dokumentasi workshop Taring Padi bakal ditampilkan di Documenta 15 pada 2022. Acara yang bertuan rumah di Kassel, Jerman, itu adalah pameran seni kontemporer sedunia lima tahunan. Tahun depan tema yang diangkat adalah lumbung.

Mbenk menambahkan, tema tersebut mewadahi dokumentasi karya seni yang memengaruhi peradaban. ”Harapannya, seniman juga dicatat sebagai perumus perubahan dan ikut menggerakkan peradaban,” katanya. (*)