headline

122.400 Dosis Vaksin Bantuan Singapura Tiba di Batam

60 Ribu Dosis untuk Batam, 62.400 Dosis untuk Kepri

Vaksin AstraZeneca Covid-19 bantuan Singapura dipersiapkan untuk pengiriman ke Batam, Provinsi Kepri, Selasa (28/9). (Kemenkes Singapura untuk Batam Pos)

batampos.id – Pemerintah Singapura kembali mewujudkan janjinya untuk membantu Indonesia, khususnya Kepri dalam mengatasi penyebaran Covid-19. Kali ini bantuannya dalam bentuk vaksin AstraZeneca (AZ) sebanyak 122.400 dosis. Dari jumlah itu, 60 ribu dosis khusus untuk Batam, selebihnya 62.400 dosis untuk wilayah lainnya di Kepri.

”Ini bagian dari kerja sama erat antara Singapura dan Indonesia dalam memerangi pandemi Covid-19,” ujar Wakil Menteri Pendidikan dan Hubungan Luar Negeri, Dr Mohamad Maliki Osman, saat serah terima bantuan vaksin tersebut ke Duta Besar Republik Indonesia untuk Singapura, Suryo Pratomo, di Pelabuhan Jurong, Singapura, Selasa (28/9).

Bantuan vaksin tersebut sudah dalam proses pengiriman tadi malam menggunakan kapal dan tiba di Pelabuhan Batuampar, Batam, Rabu (29/9) pagi ini. Selanjutnya, vaksin tersebut akan diserahterimakan ke Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kepri dan Pemerintah Kota (Pemko) Batam, hari ini juga.

Osman menjelaskan, kontribusi vaksin AstraZeneca yang diperoleh Singapura di bawah inisiatif COVAX ini, merupakan bagian dari upaya Singapura untuk mendukung perjuangan regional dan global melawan Covid-19.

Seperti yang dikatakan Perdana Menteri Singapura, Lee Hsien Loong, pada pertemuan dengan petinggi APEC pada 16 Juli 2021 lalu, Singapura akan menyumbangkan vaksin di bawah inisiatif COVAX ke negara lain. Singapura berterima kasih kepada Gavi dan AstraZeneca yang telah memfasilitasi upaya ini.

Dubes RI untuk Singapura, Suryo Pratomo, pada serah terima vaksin tersebut di Pelabuhan Jurong, menyampaikan terima kasih mendalam atas bantuan vaksin dari Singapura ke Pemerintah Indonesia. ”Ini bukti kerja sama erat yang telah berlangsung lama antara Singapura dan Indonesia, terutama dalam perjuangan berkelanjutan kita melawan pandemi Covid-19,” ujarnya.

Vaksin bantuan Singapura ini, kata Suryo, akan disalurkan ke masyarakat di Batam dan Provinsi Kepri selaku tetangga terdekat Singapura. ”Sangat penting bagi kita untuk terus bekerja sama sehingga kita dapat keluar dari pandemi Covid-19 ini,” kata Suryo.

Apalagi, seperti fakta yang ada, saat ini penyebaran varian baru yang lebih menular masih terjadi dan menjadi tantangan serius ke depan. Menghadapi masa-masa sulit ini, kebersamaan Singapura dan Indonesia sangatlah penting.

Sebelumnya, Singapura juga telah menunjukkan komitmennya untuk membantu penanganan Covid-19 di Indonesia, melalui program Oxygen Shuttle. Sekitar 500 ton oksigen cair bantuan Singapura dikirim ke Indonesia.

Begitu pun pada awal-awal pandemi Covid-19 di Indonesia. Singaputa juga banyak memberikan bantuan peralatan kesehatan untuk masyarakat Indonesia. Antara lain, disinfektan, masker, pakaian khusus untuk penanganan pasien covid, dan masih banyak lagi bentuk bantuan lainnya.

”Kami berharap kontribusi vaksin Singapura untuk Indonesia, yang kami peroleh di bawah inisiatif COVAX, akan mendukung upaya kami membentuk kekebalan komunal di masyarakat,” tutur Suryo.

Sebagai penutup, Suryo juga mengucapkan terima kasih kepada Gavi dan AstraZeneca yang telah memfasilitasi upaya ini. ”Saya yakin Singapura dan Indonesia akan pulih dari pandemi ini, lebih kuat, bersama-sama,” tutup Suryo.

Apindo Setop Sementara Vaksinasi

Di tempat terpisah, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kepri dan Batam menghentikan sementara waktu vaksinasi massal yang telah dilakukan sejak Mei 2021 lalu. Sejak dimulai hingga berakhir di akhir September, Apindo telah memberikan vaksinasi kepada 250 ribu warga Batam.

”Vaksinasi dari Apindo setop dulu, tapi sifatnya sementara. Apabila misalnya ada permintaan sesuai kuota, dimana kuota kami per hari 10 ribu, dan ada jumlah peserta segitu, ditambah permintaan dari Pemko Batam, maka akan kami buka,” kata Ketua Apindo Batam, Rafki Rasyid, Selasa (28/9).

Tapi, ketika dilanjutkan nanti, jarak antar-vaksinasi tidak akan sama seperti sebelumnya. ”Dulu tiap minggu ada. Dalam seminggu dua hari, maka sebulan bisa delapan hari. Tapi, nanti dalam sebulan itu bisa dua hari saja. Kami kumpulkan dulu 10 ribu dalam sebulan, baru laksanakan vaksin,” terangnya.

Ia juga menerangkan, untuk saat ini, antusiasme vaksin memang sudah menurun. Penyebabnya beragam, tapi yang paling utama yakni karena cakupan vaksinasi di Batam sudah melebihi 80 persen. ”Dulu waktu buka pendaftaran, 10 menit saja sudah habis. Tapi sekarang, sangat sedikit. Mungkin karena sudah banyak yang tervaksin,” paparnya.

Daya Lindung Vaksin 2 Dosis Berkurang, Butuh Dosis 3

Masyarakat bakal membutuhkan vaksin dosis ketiga (booster) Covid-19 cepat atau lambat. Hal tersebut dikarenakan daya perlindungan vaksin dua dosis yang sejauh ini diterima bakal memudar seiring waktu.

Kepala Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkmann, Prof Amin Subandrio, mengungkapkan penurunan daya lindung vaksin ini sudah alamiah dan pasti terjadi. Hanya saja, ia menyebut kecepatannya berbeda-beda tergantung berbagai faktor. “Ada yang cepat turun, ada yang bertahan cukup lama,” jelas Amin pada Jawa Pos (grup Batam Pos), kemarin.

Ia menambahkan, sudah disepakati bahwa dosis ketiga tetap dibutuhkan. Namun sejauh ini belum disepakati kapan rentang waktu yang tepat untuk memberikan dosis ketiga setelah penyuntikan dosis kedua. “Mungkin bisa 6 bulan, 12 bulan, atau bahkan lebih,” katanya.

Sejauh ini pemerintah belum menegaskan kebijakan pemberian vaksin dosis ketiga pada masyarakat umum. Dalam pernyataan terakhirnya, Jubir pemerintah yakni Menkominfo Johnny G. Plate menyebut bahwa pemberian vaksin dosis ketiga atau booster tetap khusus bagi tenaga kesehatan (nakes) sebagai populasi yang berisiko.

”Pemerintah belum melakukan perubahan kebijakan terkait hal ini, sehingga vaksin booster belum boleh diberikan untuk masyarakat umum,” jelas Johnny. Hingga kemarin, pemberian vaksin dosis ketiga bagi nakes sudah mencapai 917.545 suntikan.

Meski demikian, Johnny menyebut bahwa pemerintah masih terus mengkaji rencana program vaksin ketiga untuk masyarakat umum pada tahun depan. Kebijakan tersebut masih memerlukan pertimbangan dan pembahasan yang lebih dalam. Apalagi saat ini, jumlah penerima vaksin Covid-19 untuk dosis pertama belum mencapai 50 persen dari total penduduk Indonesia.

Untuk mengantisipasi risiko lonjakan kasus Covid-19 seperti yang terjadi di negara-negara tetangga, pemerintah bakal terus menggencarkan vaksinasi untuk lansia. Hal ini belajar dari lonjakan kasus di beberapa negara tetangga dimana kematian terjadi paling banyak pada kelompok lansia.

Pemerintah menyebut kematian pertama yang dilaporkan adalah seorang wanita Singapura berusia 97 tahun yang dites positif terinfeksi Covid-19 pada 18 September 2021 dan meninggal karena komplikasi akibat penyakit tersebut pada 25 September 2021.

Kematian kedua adalah seorang wanita Singapura berusia 69 tahun yang dinyatakan positif terinfeksi Covid-19 pada hari 24 September 2021 dan meninggal karena komplikasi akibat penyakit pada hari yang sama.

Menkominfo Johnny menjelaskan pelajaran dari kasus ini bahwa lansia menjadi kelompok dengan tingkat risiko kematian paling tinggi akibat Covid-19. Oleh karena itu, Johnny mengajak semua kelompok lansia untuk segera melakukan vaksinasi. Dia juga meminta pihak keluarga untuk membantu dan mendorong para lansia untuk segera divaksinasi.

”Mari kita antar dan kawal orangtua atau saudara kita yang sudah lanjut usia ke tempat vaksinasi terdekat,” ujarnya. (*)

Reporter : MUHAMMAD NUR
RIFKI SETIAWAN
JP GROUP
Editor : MOHAMMAD TAHANG