Metropolis

Minta Polisi Transparan dan Pelaku Dihukum Berat

Kasus Penyerangan Ustaz Abu Syahid Chaniago

Tim kuasa hukum Ustaz Abu Syahid Chaniago. (Istimewa)

batampos.id – Keluarga Besar Rang Chaniago (KBRC) Kota Batam meminta pihak kepolisian untuk transparan dalam penanganan kasus penyerangan Ustaz Abu Syahid Chaniago. Mereka meminta polisi untuk membawa pelaku ke proses pengadilan.

“Kami menyatakan sangat menyesalkan kejadian tersebut, dan meminta agar kepolisian mengusut kasus ini dengan tetap membawa pelakunya ke depan hakim,” ujar Ketua KBRC Kota Batam Ardi Busra, Rabu (29/9).

Ardi juga meminta pihak kepolisian menangani kasus ini secara transparan. Agar semua publik tahu motif penyerangan itu.

Menurut Ardi, sejauh ini kinerja polisi menangani kasus penganiayaan ini sangat baik. Sebab, pelaku sudah ditetapkan sebagai tersangka dan terbukti tidak mengalami gangguan jiwa.

“Kita beri apresiasi kepada pihak kepolisian karena sudah menetapkan pelaku sebagai tersangka dan menahannya,” kata pria yang juga menjabat sebagai Ketua Ikatan Keluarga Sumatera Barat (IKSB) Kecamatan Sekupang ini.

Namun Ardi menilai penyerangan terhadap ustaz saat pemberian ceramah terjadi karena lemahnya pengamanan dari aparat. Ia meminta dalam kegiatan ceramah ustaz ataupun ulama diperlukan pengawalan atau pengamanan dari pihak kepolisian.

“Ini kita berbicara penyerangan terhadap ulama. Kita berharap untuk ke depannya tidak ada terjadi lagi kejadian serupa di Batam,” ujarnya.

Sementata itu, tim kuasa hukum Ustaz Abu Syahid Chaniago dari JDR & Co Law Firm meminta pihak kepolisian untuk menangani kasus ini secara baik, transparan, dan profesional.

“Kami dari Tim Kuasa Hukum UAS Chaniago tetap menghormati proses hukum yang sedang berjalan”, kata Ketua Tim Kuasa Hukum UAS Chaniago., Jayana. DR.

Tim kuasa hukum ini terdiri dari Ribhan Dwi Jayana, S.H, M.H, Tata Haira, S.H, M.H, Teddy Adriansyah, S.H, M.H, Abdul Hakim Rijal, S.H dan Dawirman, S.H, mereka meminta kasus ini diusut tuntas, sebab dari beberapa kasus penganiayaan terhadap ustad yang ditangani pihak kepolisian, pelakunya mengalami gangguan jiwa.

“Penanganan hukum atas kasus ini sedikit banyak mendongkrak kepercayaan publik pada otoritas penegak hukum. Apalagi akhir-akhir ini banyak kasus penganiayaan terhadap para penceramah atau ulama yang para pelakunya disebut ODGJ dan kasusnya dihentikan begitu saja,” katanya.

Sementara itu Kabid Humas Polda Kepri Kombes Pol Harry Goldenhardt mengatakan, dari hasil pemeriksaan dokter spesialis kejiwaan RSBP Batam, menyimpulkan bahwa perilaku pelanggaran hukum yang dilakukan H tidak disebabkan oleh gangguan jiwa. Sehingga, direkomendasikan kasus hukum tersangka bisa dilanjutkan.

Harry mengatakan, setelah keluar hasil analisis dokter spesialis jiwa, penyidik sudah menaikkan status dari penyelidikan ke penyidikan. Kasus ini akan dilanjutkan hingga proses pengadilan.

“Pelaku sudah kami tahan. Terhadap pelaku dipersangkakan pasal 351 ayat 1 dan 4 jo 352 dengan ancaman pidana penjara 2 tahun 8 bulan,” ujar Harry. (*)

Reporter: YOFI YUHENDRI
Editor: JAMIL