Ekonomi & Bisnis

Rooftop ”Tersembunyi” yang Well-designed Sentuhan Minimalis Australia

Awalnya, lantai rooftop memakai tegel. Karena ketahanannya terhadap air kurang, lantai 2 FA House sempat bocor saat musim hujan. Lantai pun diganti granite tile. ALFIAN RIZAL/JAWA POS

batampos.id – Dibangun pada lahan 96 meter persegi, FA House tetap memprioritaskan kebutuhan ruang. Tidak ada yang diringkas atau sengaja dibuat dalam ukuran lebih kecil. Rumah terasa lapang, bahkan tetap memiliki area outdoor yang cukup.

”Harus cermat merencanakan pembagian ruangan, tahu apa saja yang dibutuhkan,” tutur Ferdy Antoro. Arsitek Felixlab.id itu menjelaskan, penerjemahannya sering keliru. Ruangan seperti dapur, living room, dan lainnya diwujudkan dalam ukuran yang lebih kecil.

Hal tersebut bisa memengaruhi kenyamanan dalam beraktivitas. Selain itu, bila tidak didukung storage yang cukup, ruangan bakal terlihat sumpek. Ferdy menilai, konsep rumah yang clean dan minimalis bisa menjawab problem lahan terbatas.

”Pertimbangannya, fungsi. Utamakan ruangan dan perabot yang diperlukan. Kalau bisa multifungsi, akan lebih bagus,” lanjutnya.

Tampilan bersih yang berkesan maskulin terpancar pada fasad rumah. Dari depan, rumah Ferdy tampak simpel. Bentuk kotak memberikan gambaran rumah dua lantai. Bagian atap yang dimanfaatkan sebagai rooftop pun tersamarkan. Bagian pelindung carport dijadikan area outdoor ekstra. Aksesnya dari kamar utama di lantai 2. Ferdy sengaja membuat area itu terbuka.

”Kalau untuk dibuat balkon, terlalu kecil. Nggak nyaman untuk bersantai. Nanti malah enggak terpakai,” kata alumnus University of Western Australia itu. Dia menyatakan, luasan area tersebut memang tidak bisa asal besar karena ketentuan dari pihak perumahan.

Penggemar memasak itu menerapkan prinsip serupa di dalam rumah. Ferdy menggunakan palet warna monokrom serta menonjolkan tampilan material natural.

”Inspirasinya dari rumah-rumah di Australia karena saya lama tinggal di sana. Di sana, rumah cenderung netral dan simpel,” paparnya. Meski demikian, ada beberapa bagian yang diubah dengan pertimbangan kenyamanan.

”Awalnya, lantai pengin dibuat concrete. Tapi, karena terlalu industrial dan terkesan kotor, akhirnya diganti teraso,” imbuh Ferdy. Menurut dia, teraso punya karakteristik mirip marmer. Menyerap air dan memiliki ketahanan tak terlalu baik.

”Biasanya, ditandai crack atau retak. Tapi, tetap aman untuk lantai rumah,” paparnya.

BACA JUGA: Daya Beli Masyarakat Beralih dengan Memperindah Rumah

Yang menjadi highlight rumah Ferdy adalah rooftop. Dia menjelaskan, area terbuka itu banyak terinspirasi kebiasaan penduduk Australia yang kerap berkumpul untuk barbeque party. Plus, kafe dan bar berkonsep open space di Bali.

”Tempat ini juga jadi poin plus di masa pandemi seperti sekarang. Sebab, untuk menerima tamu, kan disarankan di luar ruangan,” imbuhnya.

Bagian atap tersebut juga tetap well-designed. Tidak ada pemandangan toren, cooler box, serta instalasi lainnya. Semua dipusatkan Ferdy di tempat yang terlindung dan tertutup. Dia menilai, area yang tak luas tetap bisa mengakomodasi kebutuhan pemilik rumah tanpa terlihat ”penuh”. (*)

Reporter: JPG Group
Editor: Suprizal Tanjung