Ekonomi & Bisnis

Yuk, Bertanam Pare Belut di Halaman Rumah Bentuk Buah Unik dan Tidak Pahit

Tanaman pare belut yang berhasil ditanam Andi Aruni di halaman rumahnya. Menanam tanaman ini terbilang mudah dan hanya menggunakan pupuk alami. f. PUGUH SUJATMIKO/JAWA POS

batampos.id – Panjangnya bisa sampai 1 meter. Maksimal 180 cm. Sekilas, bentuknya mirip belut. Namanya memang pare belut (Trichosanthes cucumerina). Bedanya, belut yang satu ini tidak licin. Hidupnya menggantung. Bukan di air.

Begitu Andi Aruji membuka botok pare belut yang dimasak bareng buah hatinya, aroma gurih langsung semerbak. Parenya tampak dipotong kecil-kecil. Serutan kelapa muda berwarna merah yang sedikit terang karena tercampur cabai terlihat menggoda.
Dengar kata pare seperti tidak jauh berbeda dengan cobaan hidup. Sama-sama pahit.

Nah, ternyata hal itu tidak berlaku bagi pare belut atau pare welut. Justru, pare welut tak memiliki rasa pahit. Cenderung tidak berasa. Hambar.

Andi mulai menanam tanaman yang masuk keluarga cucurbitaceae dan genus Trichosanthes itu pada 2008 lalu. Dia mengambil bibit setelah berkunjung ke rumah saudaranya di Madiun. Ternyata, setelah dibawa ke Surabaya, jenis tanah di Madiun dengan Surabaya berbeda. Tanah di rumahnya, Karangpilang, lebih tandus.

Akhirnya, dia membuat lubang dengan kedalaman sekitar 40 cm. Lubang tersebut diberikan kompos aerob yang dibuat sebelumnya.

”Saya taruh bibit di dalamnya. Bulan ketiga mulai tumbuh dan berbuah,” kenangnya.

Secara fisik, pare welut dengan pare atau paria yang b ernama latin Momordica charantia tak hanya berbeda dari segi bentuk. Pare welut juga memiliki bedak di bagian luarnya.
Andi menyebutkan, ada tiga varian warna kulit buah yang ditampilkan pare welut. Hijau dengan sebagian warna putih seperti diberi bedak, oranye, dan merah. Hijau menjadi penanda apabila pare siap dikonsumsi atau dipanen. Apabila dibiarkan, pare bakal berubah oranye. Dan, terakhir warna merah.

”Kalau sudah merah, pare tidak bisa dikonsumsi. Warna oranye juga begitu,” tambahnya.

Menurut Magister Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS) itu, menanam pare welut tidak terlalu jelimet. Selama 13 tahun, Andi tak pernah menggunakan pupuk berbahan kimia. Dia selalu memakai pupuk alami. Kemudian, lanjut dia, urusan menyiram juga cukup sehari sekali.

Lantas, bagaimana dengan siklus hidup pare welut? Suami Sri Rahayu itu menyampaikan, pada bulan ketujuh, pare welut akan mati. Karena itu, dia menyisakan 1 atau 2 pare untuk dibiarkan menggantung hingga berubah warna menjadi oranye pada masa panen pertama. Yakni, tiga bulan setelah tanam bibit. Andi mengambil bibit dari pare yang sudah membusuk.

BACA JUGA: Harus Tega Potong Cabang yang Dominan Mengombinasikan Tanaman Buah

Ayah dengan tiga anak itu selalu menanam bibit pare welut di lokasi yang berbeda-beda. Selain itu, dia menyiapkan batu-batu kecil untuk digantungkan di buah-buah pare.
FUN FACTS PARE BELUT

1) Rasa dari buah parenya tidak pahit. Padahal, biasanya pare tak bisa lepas dari kesan pahit saat dikonsumsi. Betul bukan? Pare belut lebih tidak ada rasa. Tidak manis atau asin. Hambar.

2) Supaya bentuk parenya tidak melengkung, coba kasih ”beban” di bagian bawah parenya. Misalnya, batu. Batu dililitkan di benang atau tali, lalu diikatkan di parenya. Dengan begitu, bentuk pare belutnya lebih lurus lho.

3) Panjang pare belut maksimal bisa mencapai 120 cm atau 1,2 meter. Kebayang nggak sepanjang apa? Hehe. Diameternya 5–8 cm. (*) 

Reporter: JPG Group
Editor: Suprizal Tanjung