Opini

Batam Menuju Kota Industri yang Ramah Lingkungan

batampos.id – Polusi udara di Indonesia selalu mewarnai langit nusantara, di mana Indonesia sendiri berada pada urutan ke-9 sebagai negara paling berpolusi dan urutan ke-4 sebagai negara dengan kematian akibat polusi di dunia. Pencemaran udara di Indonesia mengakibatkan banyak penyakit yang muncul, seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), asma atau asthmatic bronchiale, paru paru basah atau pneumonia, bronchopneumonia, dan serangan jantung . Polusi udara yang terjadi di Indonesia berkaitan dengan 4 masalah kesehatan paru, yakni, kanker paru, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), asma, dan penurunan fungsi paru .

Pembakaran bahan bakar fosil adalah salah satu contoh polusi udara buatan manusia, di mana hal tersebut adalah sumber pencemaran udara terbesar di era industrialisasi saat ini. Sumber energi tidak terbarukan sendiri berasal dari minyak mentah, bahan bakar minyak, batu bara dan lainnya. Bahan bakar ini digunakan hampir pada semua proses pembangkit listrik, transportasi, dan kegiatan industri. Meskipun memiliki banyak kegunaan dalam aktifitas sehari hari manusia, penggunaan energi dengan bahan bakar fosil secara berlebihan sangat berbahaya bagi lingkungan dan makhluk hidup.

Saat ini berbagai negara mulai memanfaatkan sumber energi terbarukan. Berbeda dengan bahan bakar fosil, energi terbarukan adalah sumber energi yang berasal dari alam yang dapat diperbarui terus menerus dan tidak terbatas. Energi terbarukan memiliki banyak manfaat, seperti meningkatkan kesehatan manusia, hemat dalam sumber daya, serta biaya, menciptakan lapangan kerja, dan lainnya. Sumber energi terbarukan terdiri dari beberapa jenis, di antaranya, tenaga surya, energi angin, energi pasang surut, energi ombak, dan energi panas laut .

Sejumlah negara di dunia mulai beralih pada penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), seperti Jerman, Amerika Serikat, Australia, Italia, Jepang, dan masih banyak lagi . Negara-negara tersebut meningkatkan jumlah energi surya dengan memanen energi gratis dari matahari. Untuk menjaga kesehatan ekosistem bumi, PLTS sangatlah membantu dikarenakan penggunaannya yang ramah lingkungan dan mengurangi polusi udara, di mana sumber energi yang digunakan berasal dari cahaya matahari yang tidak pernah habis.

Secara geografis, Indonesia terletak pada garis khatulistiwa, di mana Indonesia terkena sinar matahari langsung di atas kepala. Dengan sinar matahari yang melimpah ruah, sayang sekali jika belum digunakan secara optimal dalam pengembangan sumber energi zaman sekarang. Sumber energi yang dapat dikembangkan di Indonesia salah satunya adalah dengan memanfaatkan tenaga surya. Banyak area potensial di Indonesia untuk mengembangkan energi terbarukan.

Badan Pengusahaan (BP) Batam bekerja sama dengan Sunseap Group berencana membangun projek PLTS terapung atau Floating Photovoltaic System (FPV) dan bisnis penyimpanan energi atau Energy Storage System (ESS) di Waduk Duriangkang dengan luas muka air normal 2.340 ha . Dengan Batam menjadi kota pertama dibangunnya PLTS terapung di Indonesia, diharapkan Batam dapat menjadi pelopor bagi pembangunan PLTS terapung dan bisa masuk ke daerah-daerah lain di Indonesia. Dengan dibangunnya PLTS terapung, ke depannya proyek ini juga diharapkan mendukung penghijauan Batam.

Pemanfaatan waduk sebagai pendukung proyek PLTS juga diharapkan memberikan manfaat balik untuk waduk, antara lain mengurangi evaporasi sehingga dapat menjaga volume air di dalam waduk, air waduk dapat membantu mendinginkan panel surya sehingga panel bekerja dengan optimal, serta dapat menghambat pertumbuhan enceng gondok di atas waduk. Hubungan saling menguntungkan antara waduk dan PLTS terapung diharapkan tidak memberikan efek negatif baik terhadap lingkungan maupun aktifitas masyarakat Batam. (*)

Oleh: Glory Bella Myria, Mahasiswi Hubungan Internasional President University magang di BP Batam (Juni 2021-Oktober 2021)