Bintan-Pinang

Disdagin Tanjungpinang Survei Mainan Anak Non SNI

Petugas Disdagin Kota Tanjungpinang saat survei mainan anak pada salah satu toko di Tanjungpinang belum lama ini. F. Kiriman Dewi

batampos.id– Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kota Tanjungpinang melalui Kepala Bidang (Kabid) Perdagangan Disperdagin Kota Tanjungpinang, Dewi Sinaga menjelaskan pihaknya melakukan survei ke toko atau swalayan yang menjual mainan anak yang berwarna warni seperti Pop It yang tidak sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI).

“Kita takut kalau tidak SNI mainan itu berbahaya, beracun, karena warnanya sangat disukai anak usia balita. Anak saat main suka masukkan mainan itu ke mulutnya,” kata Dewi, Jumat (1/10).

BACA JUGA: SNI dan Regulasi Proporsional untuk Optimalkan Manfaat HPTL

Dijelaskan Dewi, bagi toko mainan yang ditemukan tidak menjual barang mainan SNI akan diperingati dan saat berbelanja diminta untuk memperhatikan standar tersebut. Menurutnya barang mainan dengan standar SNI akan lebih aman dari bahan pembuatannya. “Kebanyakan memang sudah SNI semua, mainan warna warni atau Pop It itu saja yang tidak SNI,” papar Dewi.

Survei itu, Sambung Dewi sudah dilaksanakan sejak awal September 2021 lalu, diharapkan setelah itu orang tua dan pedagang juga tahu sehingga bisa memilih mainan yang aman untuk anaknya. Pihaknya tidak bermaksud menutupi rezeki para pedagang mainan yang tidak menjual dengan standar SNI, namun langkah itu demi kebaikan anak yang belum mengerti dengan mainnya.

“Mana tau bahan pewarna pembuatan mainan itu berbahaya kita tidak tahu, nanti anak kita sakit perut, lebih baik kita cegah saja,” imbaunya.

Beberapa swalayan yang dikunjungi yaitu sumber rezeki, sentosa, dan pedagang di pinggir jalan yang didatangi rata-rata senang dan menjadi informasi baru bagi mereka yang sebelumnya tidak tahu. Bahkan kata Dewi sebagian pedagang meminta agar survei itu lebih sering dilakukan. Diminta lebih sering, misalnya setahun dua kali karena mainan itu tidak cepat habis,” terangnya.

Yang menjadi fokus pemeriksaan barang dengan standar SNI, tidak hanya untuk mainan anak tapi juga ban mobil namun karena di Tanjungpinang tidak ada perjalanan jauh sehingga tidak menjadi fokusnya, kecuali seperti di Pekan Baru yang daratannya lebih luas perjalanan mobil tentunya lebih jauh dan bannya harus diperhatikan. “Di Tanjungpinang jalan darat tidak terlalu panjang jadi kami rasa masih aman,” tambahnya. (*)

Reporter : Peri Irawan
editor: tunggul