Covid-19

Kepri Dekati New Normal

Pusat Tetapkan Kepri dan Batam PPKM Level 1

Warga Batam menikmati aneka jajanan yang dijual pelaku UMKM di kawasan wisata Golden Prawn, Bengkong, Senin (4/10). Penurunan status level PPKM Kepri dan Batam, aktivitas masyarakat juga semakin longgar. (Iman Wachyudi/ Batam Pos)

batampos.id – Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) mendekati fase new normal setelah pemerintah pusat menetapkan berada dalam level 1 Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), Senin (4/10). Namun demikian, masyarakat diminta untuk tetap waspada dan tidak lengah.

“Vaksinasi sudah memberikan pengaruh terhadap pengendalian penyebaran Covid-19. Untuk daerah-daerah yang sudah berada di level 1 tetap waspada dan tidak boleh lengah,” kata Menteri Koordinator Maritim dan Investasi (Menko Marves), Luhut Binsar Panjaitan, lewat konferensi pers virtual, Senin (4/10), di Jakarta.

Ditegaskannya, dalam penanganan Covid-19 pemerintah tidak merasa berpuas diri, maka dari itu semua elemen diminta tidak bergembira berlebihan dengan penurunan kasus yang terjadi belakangan ini. Menurutnya, kelengahan kecil bisa menyebabkan terjadinya penambahan kasus. Ia tidak menginginkan itu terjadi, dan meminta kerja sama semua pihak untuk tetap memperketat protokol kesehatan (protkes).

“Daerah-daerah yang sudah ditetapkan berada di level 1 PPKM (new normal, red) dinilai telah memenuhi syarat indikator yang ditetapkan World Health Organization (WHO/ Organisasi Kesehatan Dunia). Pertama adalah capaian vaksinasi dosis pertama sebanyak 70 persen, dan dosis 1 lansia 60 persen,” jelas Luhut.

Masih kata Luhut, pemerintah juga terus mendorong pemulihan ekonomi dan konsumsi yang cepat. Bagi daerah-daerah yang berada di level 1 diperbolehkan untuk membuka pusat kebugaran dengan kapasitas 25 persen. Kemudian konter makan dan minum di dalam bioskop juga boleh dibuka. Namun, kapasitasnya adalah 50 persen.

“Namun yang penting tetap dengan mengedepankan protokol kesehatan. Sehingga tidak terjadi peningkatan kasus, karena apabila terjadi tentu akan dilakukan kebijakan lebih ketat seperti sebelum terjadi penurunan level,” tegas Luhut.

Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian, Airlangga Hartarto, menambahkan, asesmen situasi pandemi yang dilakukan secara mingguan juga menunjukkan adanya perbaikan situasi pandemi yang signifikan dari minggu ke minggu. Bahkan sudah tidak ada provinsi yang berada di asesmen level 4, sedangkan 4 provinsi berada di level 3, 22 provinsi di level 2, dan 1 provinsi di level 1.

“Kita lihat dari Kepulauan Riau dan Kalimantan Timur, ini (Kepulauan) Riau turun ke level 1 dan Kalimantan Timur turun ke level 2,” ujar Erlangga dalam siaran pers virtual, kemarin.

Secara rinci Airlangga memaparkan, tingkat kesembuhan untuk wilayah Sumatra adalah 95,19 persen, case fatality rate (CFR) sebesar 3,54 persen, dan penurunan kasus aktif dari 9 Agustus ke 3 Oktober mencapai 91,66 persen. Nusa Tenggara tingkat kesembuhan 96,78 persen, CFR 2,33 persen, dan penurunan kasus aktif 93,79 persen.

Kemudian, Kalimantan tingkat kesembuhan 95,11 persen, CFR 3,15 persen, dan penurunan kasus aktif sebesar 87,44 persen. Sedangkan untuk wilayah Sulawesi, tingkat kesembuhan 95,73 persen, CFR 2,62 persen. Dan penurunan kasus aktif 88,68 persen. Maluku dan Papua, tingkat kesembuhan 95,69 persen, CFR 1,71 persen, dan penurunan kasus aktif mencapai 88,47 persen.

Terkait pengaturan pembatasan kegiatan masyarakat, Airlangga menegaskan bahwa ketentuannya masih sama dengan periode PPKM sebelumnya yaitu 21 September hingga 4 Oktober 2021. “Jenis pembatasan kegiatan masyarakat di periode 5 sampai dengan 18 Oktober tetap sama dengan PPKM periode sebelumnya, dengan pengendalian pembelajaran tatap muka, sesuai dengan SKB Kemendikbudristek dan K/L terkait,” tegasnya.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kepri, Mochammad Bisri, mengatakan, dengan ditetapkannya Provinsi Kepri berada di level 1 PPKM, tentu ini sesuatu yang menggembirakan. Namun sesuai dengan penegasan Menko Marves bahwa masyarakat diminta untuk tidak berlebihan, sehingga menyebabkan kelengahan.

“Dengan ditetapkan level 1 ini, kita sudah mendekati new normal. Semoga tidak terjadi lonjakan kasus lagi di Provinsi Kepri. Tentu ini butuh kerja sama kita semua untuk menekan penyebaran Covid-19,” ujar Bisri, kemarin, di Tanjungpinang.

Dijelaskannya, indikator asesmen penurunan level ini adalah capaian vaksinasi. Disebutkannya per 3 Oktober 2021 progres vaksinasi di Provinsi Kepri untuk dosisi 1 sudah pada angka 1.289.391 orang atau 81,55 persen dari target. Kemudian untuk dosis 2 sebanyak 886.758 orang atau 64,57 persen. Sedangkan dosis 3 (booster nakes) sudah pada angka 10.341 orang atau 73,23 persen dari jumlah nakes. “Kita juga terus menjaga stok vaksin di setiap kabupaten/kota. Sehingga target vaksinasi bisa tercapai sesuai dengan yang ditetapkan,” jelas Bisri.

Bisri juga mengatakan penurunan level PPKM menjadi 1 bukanlah menurunkan potensi penyebaran kasus Covid-19. Ditegaskannya, bahwa potensi peningkatan kasus Covid-19 ini selalu terbuka.

“Jadi gini, level 1 atau 2 PPKM ini, tidak sama dengan awal pandemi. Saya sudah sering sampaikan bahwa saat ini pandemi masih terjadi dan penularan antar-komunitas bisa saja terjadi. Jadi, saya harap masyarakat selalu mematuhi protokol kesehatan, paling penting memakai masker, menjaga jarak, tidak berkerumun dan selalu mencuci tangan,” pesannya.

Menurut Bisri, pemerintah sedang berupaya melakukan pengendalian penularan. Salah satu caranya dengan meningkatkan penelusuran kasus. Sejauh ini, tracing di sejumlah wilayah sudah cukup baik, namun perlu ditingkatkan lagi.

“Masyarakat wajib mematuhi protokol medis, jika ditelusuri petugas janganlah lari atau kabur. Ikuti saja, sampaikan saja sudah kontak dengan siapa. Ini semua demi mencegah penularan agar tidak meluas. Karena semakin banyak kasus positif ditemukan, maka potensi penularan dapat diminimalisir,” ungkapnya.

Saat ditanyakan mengenai gelombang ke 3 Covid-19. Bisri mengaku cukup optimistis Kepri tidak akan terdampak. Ia meyakini dengan vaksinasi yang sudah mencapai lebih dari 80 persen, gelombang ketiga ini dapat diminimalisir. “Memang ada kekhawatiran epidemiolog atas gelombang ketiga. Tapi, kami percaya diri menghadapinya. Tapi ya asalkan tadi, masyarakat membantu pemerintah dengan mematuhi protokol kesehatan. Kami juga akan meningkatkan deteksi dini,” tuturnya.

Terpisah, Wali Kota Batam, Muhammad Rudi, menyampaikan berdasarkan data saat ini, status PPKM Kota Batam juga sudah masuk level I, sebelumnya status PPKM Kota Batam masih pada level 3.

“Saya bicara atas data harian yang setiap hari dikeluarkan. Di sana jelas terlihat pergerakan angka kasus yang terus menunjukkan grafik yang positif, sehingga saya yakin kita level 1 saat ini,” ujar Rudi, Senin (4/10).

Ia mengatakan, perhitungan yang dilakukannya berdasarkan kategori status PPKM yang dibuat oleh Kemenkes RI. Ada 6 kategori, yaitu kasus terkonfirmasi, rawat inap rumah sakit, tingkat kematian, testing, tracing, dan treatment. “Jadi, saya bicara ini berdasarkan data yang kitai miliki saat ini,” katanya.

Seperti pasien terkonfirmasi Covid-19 yang dirawat di rumah sakit hanya berjumlah 8 orang. Jika dibandingkan dengan total tempat tidur di rumah sakit yang diperuntukan bagi pasien Covid-19, maka persentasenya di bawah 1 persen. “Contohnya jika jumlah tempat tidurnya 200, sedangkan pasien yang dirawat 8 orang, maka persentasenya hanya 0,04 persen,” jelasnya.

Namun jika penanganan Covid-19 bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI) dimasukkan dalam penanganan Kota Batam, maka Rudi pesimistis Batam bisa level I. Oleh karena itu, ia sudah meminta pemerintah pusat, agar memisahkan data Covid-19.

“Kalau data kasus PMI dimasukkan, berat juga. Karena jumlahnya cukup banyak. Sedangkan untuk Batam saja kita tinggal hitungan hari saja. Jadi sudah seharusnya level 1,” terangnya. (*)

Reporter: JAILANI
YULITAVIA
FISKA JUANDA
Editor: MOHAMMAD TAHANG