Zetizen

Stop Insecure, Yuk Bersyukur!

Batampos.id – ZETIZEN Book club has started! Zetizen bersama anggota book club kembali berjumpa dan berbincang untuk bersama-sama mengulas buku. Meski kali ini diadakan secara virtual, antusiasmenya nggak kalah seru loh. Yuk, kita dengar review buku Insecurity is My Middle Name dari beberapa anggota berikut! (arm/c12/lai)

 

Saat lihat dan mau baca buku ini, aku mikir ”this is another productivity” yang mana aku udah capek lihat toxic productivity. Eh, ternyata bukunya santai banget, mudah dipahami, dan langsung ngena di hati. Segi bahasanya sangat friendly dan penempatan kata-katanya juga pas banget. Saking bagusnya, aku nulis banyak catatan buat refleksi diri. Sayang, terlalu banyak bahasa Inggrisnya, but it’s okey. – Ardyanisa Raihan Kusuma, Universitas Airlangga

 

Saat baca buku ini, aku sadar bahwa masalahku mungkin belum seberat itu karena umurku masih 15 tahun. Tapi, aku jadi dapat pengetahuan tentang bentuk-bentuk insecurity yang lain. Bahasanya ringan, to the point, dan mudah dipahami, meski ada part yang diulang-ulang. Bacaannya juga nggak terlalu banyak, jadi nggak cepat bosan. Aku sendiri sering menandai bagian-bagian yang mengajak untuk berterima kasih kepada diri sendiri. – Jalma Ismena Putri, SMAN 11 Surabaya

 

Yang aku suka dari buku ini adalah penulis bisa menangani insecurity dengan tenang. Jadi, kita sebagai pembaca nggak tegang. Nggak hanya healing, tetapi juga bikin relax. Bahasanya juga simpel dan santai. Penulisnya itu kayak tahu alur pemikiran kita, dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan di setiap subbab. Meski buku ini menurutku terlalu muslim oriented, but I get the point. Dari buku ini, aku belajar bahwa lebih baik berkompetisi dengan diri kita yang kemarin untuk menjadi pribadi yang lebih baik. – Prami Dewanggi, Universitas Airlangga

 

 

 

MAKIN hari, makin banyak orang yang membagikan pencapaiannya di media sosial. Nggak jarang, itu bikin kita sebagai viewers minder dan membandingkan diri sendiri dengan mereka. Fisik yang nggak menarik, keadaan yang nggak seberuntung orang lain, hingga kegagalan dalam mencapai suatu tujuan. Pokoknya langsung insecure dan ngerasa nggak punya kelebihan apa pun deh. Kalau kamu sering mengalami hal serupa, coba baca buku terbaru dari Alvi Syahrin berikut!

Insecurity is My Middle Name, sebuah buku self-healing yang bakal memberi pembacanya sudut padang baru terhadap insecurity. Kelima babnya membahas permasalahan yang sangat relate seperti fisik, masa depan, dan pencapaian. Dari cover-nya aja sudah terlihat maksud buku ini, yakni mengajak untuk lebih mengenal diri dan berdamai dengan apa yang dimiliki. Hal itu tecermin dari visual pemandangan hijau yang damai dengan item sepasang kursi dan meja.

Membaca buku ini seolah-olah kita sedang berdialog dengan si penulis tentang bagaimana menerima kekurangan diri. Segala pertanyaan di pikiran dapat terjawab di tiap lembar halamannya. Buku ini cukup realistis sebagai buku self-improvement. Jadi, nggak berkesan menghakimi maupun menggurui. Sayang, ada beberapa kata yang diulang-ulang dan cenderung muslim oriented, but overall, this book is still good to read!

Alvi Syahrin juga mengajak kita mengorek lagi kelebihan yang ada dan berhenti memikirkan kekurangan. Misalnya, di bab pertama, penulis memberikan pemahaman bahwa fisik bukanlah segalanya meski penulis juga tidak menampik hal itu. Namun, yang perlu ditanamkan adalah good looking bukan selalu tentang rupa dan fisik, melainkan juga soal personality atau pemikiran. And the words are so heartwarming!

Buku ini cocok dibaca semua kalangan dari remaja hingga dewasa, terutama yang masih sering nggak percaya diri dan insecure. Last, but not least, insecure adalah hal yang wajar. Tetapi, jangan sampai hal itu menjadi penghambat untuk tetap tumbuh. Nggak capek apa selalu membandingkan diri dengan orang lain? Yuk, belajar damai! Cause we all have our own strengths and we deserve it! (arm/c12/lai)

 

“Berdamai dengan Diri Sendiri”

Reporter : Siti Nuranisah
Editor : Agnes Dhamayanti

Ketika melihat teman memiliki sesuatu yang tidak kita punya, atau mendapatkan sebuah prestasi. Beragam rasa pasti muncul. Ada yang sebel lalu kasak-kusuk. Dan ada juga yang minder. Pokoknya langsung insecure dan merasa tidak mempunyai kelebihan apa pun. Wah kalau seperti ini justru merugikan diri sendiri. Alangkah lebih baik kenali diri sendiri dan berdamai dengan kekurangan yang ada.
Lalu gimana sih agar kita bisa lebih menerima diri sendiri dan tidak langsung insecure atas apa yang telah dicapai orang lain? Yuk simak pendapat teman Zets!

F. Dok. Pribadi

Widya Malianti
Politeknik Negeri Batam
@widyamlnti

Yang harus kita tanamkan dalam diri adalah menguatkan prinsip dan tujuan dalam hidup kita. Fokus dengan diri kita untuk dikembangkan, hal-hal apa saja yang akan kita capai dan bagaimana cara kedepannya. Jangan sibuk melihat orang lain hingga kita lupa akan diri kita. Tidak masalah jika orang-orang yang memiliki prestasi kita jadikan sebagai motivasi untuk kita, agar selalu berusaha mencapai cita-cita kita.

Menerima kekurangan kita adalah bagian dari cara kita bersyukur kepada Tuhan pencipta. Kita harus bisa mengubah mindset insecure menjadi bersyukur. Teruslah berjuang dan mengekspresikan karyamu, apa yang ada pada dirimu, kelebihan kecil mu, tanpa harus takut akan hasil kedepannya. Percayalah setiap perjuangan dan proses yang sedang kamu lakukan adalah sebuah pelajaran yang berharga yang harus kamu nikmati. Tetap semangat dan jadilah orang yang bermanfaat disetiap kamu berada. (*)

F. Dok. Pribadi

Mohammad Reza Mudawam
Universitas Trunojoyo Madura
@reza_mudawam21

Dalam diri saya sendiri pun rasa insecure masih ada. Untuk menutupi rasa kurang percaya diri adalah yakin dengan apapun yang kita lakukan pasti memiliki hasil, ya meskipun gak maksimal setidaknya sudah berusaha. Urusan gagal saya yakin semua pasti pernah mengalami kegagalan. Yang terpenting jangan pernah merasa kecewa dengan hasil usaha kita. Kalau pun kita berhasil dalam sebuah usaha jangan pernah merasa puas dengan pencapaian kita. (*)