Bintan-Pinang

Tolak Bala, Masyarakat Desa Penaga, Bintan Mandi Safar di Laut

Sejumlah anak-anak mandi safar dengan menceburkan diri ke laut di Kampung Tanjungpisau, Desa Penaga, Bintan, Rabu (6/10). F.Slamet Nofasusanto

batampos.id– Sejumlah masyarakat Desa Penaga, Kecamatan Teluk Bintan melaksanakan tradisi mandi safar di laut Kampung Tanjungpisau, Rabu (6/10) pagi. Tradisi menceburkan diri ke laut ini diyakini untuk menolak bala.

BACA JUGA: Kasus Covid-19 Meningkat, Bupati Karimun Ikut Zikir Tolak Bala

Sebelum mandi, masyarakat melaksanakan kenduri di masjid. Setelah doa bersama memohon keselamatan, mereka menikmati aneka bubur. “Ada bubur durian, bubur ketan hitam, bubur ubi dan lainnya,” ujar seorang warga yang ikut melakukan tradisi turun temurun ini.

Selesai itu, mereka berjalan dengan membawa bendera dengan tulisan arab. Lalu, mereka memasukkan bendera ke perigi (sumur). Mereka kemudian berduyun-duyun berjalan ke arah laut untuk menyerahkan bendera ke seorang anak

Anak tersebut diikuti warga lain kemudian menceburkan diri ke laut. Terlihat seorang tokoh adat memberikan arahan agar anak tersebut memancang tiang bendera di tengah laut.

Seorang tokoh adat, Awang Seman memberikan arahan tempat tiang bendera ditancap saat mandi safar di laut, Kampung Tanjungpisau, Desa Penaga, Rabu (6/10). F.Slamet Nofasusanto

Setelah mandi safar di laut, warga kembali ke darat untuk mandi dan bilas di perigi. Seorang tokoh adat Kampung Tanjungpisau, Desa Penaga, Awang Seman mengatakan, tradisi mandi safar sudah dilaksanakan turun temurun tiap hari Rabu terakhir bulan Safar.

“Jadi setiap hari Rabu terakhir bulan safar, kita mandi safar,” katanya. Dia menjelaskan, menurut kepercayaan orang tua dahulu bahwa mandi safar dengan menceburkan diri ke laut bisa membuang bala.

“Menurut cerita orang-orang tua dahulu, banyak kejadian yang terjadi pada hari Rabu terakhir bulan safar. Jadi kita diminta memanjatkan doa memohon keselamatan kepada Tuhan,” katanya.

Kadisbudpar Bintan, Wan Rudy Iskandar mengatakan, mandi safar merupakan ritual yang kemudian menjadi tradisi masyarakat Desa Penaga.

“Tradisi mandi safar sudah mengangkat budaya, jadi perlu dilestarikan,” kata Wan Rudy. Dia berharap, tradisi ini akan dijadikan event wisata religi sehingga dapat mengangkat budaya lokal dan menjadi destinasi budaya dan sejarah.

Kades Penaga, Hamrudin mengucapkan terima kasih atas dukungan pemerintah provinsi dan kabupaten karena mengangkat budaya masyarakat Desa Penaga.

“Mudah-mudahan ke depan bisa dikembangkan lagi potensi budaya ini menjadi event wisata religi sehingga memutar roda ekonomi masyarakat,” harapnya. (*)

 

Reporter: SLAMET NOFASUSANTO
editor: tunggul