headline

15 Nasabah Bank di Batam Jadi Korban

Aksi Skimming yang Diotaki WNA

Kasat Reskrim Polresta Barelang, Kompol Reza Tarigan, (tengah) didampingi Wakasat Reskrim dan humas menunjukkan barang bukti dan tersangka kasus kejahatan skiming saat ekspose di Mapolresta Barelang, Senin (11/10) lalu. ( Cecep Mulyana/Batam Pos)

batampos.id – Sindikat pembobol uang nasabah bank dengan menggunakan teknik skimming yang beraksi di Batam dalam satu tahun ini ternyata sudah membobol puluhan rekening, 15 di antaranya nasabah bank swasta di Batam.

”Dari puluhan rekening nasabah itulah mereka berhasil menggasak uang senilai Rp 2 miliar dalam kurun waktu setahun beraksi,” ujar Wakasat Reskrim Polresta Barelang, AKP Juwita Oktaviani, Selasa (12/10).

Juwita menambahkan, sekitar 15 rekening yang sudah dibobol di Batam itu mayoritas dari bank swasta. ”Jadi (15 rekening), itu data dari pihak bank swasta. Mereka melihat transaksi yang mencurigakan,” ujar Juwita di Mapolresta Barelang, kemarin.

Sejauh ini pihaknya baru menerima satu laporan dari pihak bank. Rata-rata nasabah bank tersebut tak mengetahui rekeningnya dibobol. ”Biasanya, masing-masing rekening itu diambil Rp 30 juta, dan nasabah itu tidak mengetahui uangnya hilang,” ungkapnya.

Juwita menambahkan, hingga saat ini, pihaknya masih melakukan pengejaran terhadap pelaku yang menjadi otak pembobolan, yakni Warga Negara Asing (WNA) berkewarganegaraan Amerika berinisial J. J. Dia merupakan pembobol data nasabah yang kemudian dikirim kepada rekannya, ZN (WN Sri Lanka), dan JP (warga Batam).

”Kami masih melakukan pengejaran terhadap pelaku. Belum diketahui apakah pelaku di Indonesia atau tidak,” ujarnya.

Diimbau Transaksi di ATM yang Berada di Bank

Di tempat terpisah, Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Batam Bidang Perbankan, Daniel Samzon, mengimbau masyarakat agar semakin berhati-hati ketika melakukan transaksi di ATM. Pasalnya, selalu ada banyak cara dilakukan penjahat untuk menguras rekening nasabah di bank.

”Bank itu sebenarnya sudah menjamin keamanan dan kenyamanan nasabah sesuai prosedur. Namun, ketika transaksi di ATM yang berada di keramaian harus hati-hati,” ujarnya, Selasa (12/10).

Ia menyebutkan, ketika memasuki ATM, maka harus memperhatikan betul kondisi di dalamnya. Penjahat sering memasang alat-alat yang bisa melihat atau merekam gerak jari-jari, terutama ketika menekan pin ATM.

”Ada juga yang pasang alat untuk mengganjal, agar kartu macet atau tidak bisa keluar, setelah itu ada pihak yang mengaku dari bank pura-pura membantu, padahal kartu ATM ditukar dan lainnya,” jelasnya.

Persoalan-persoalan seperti ini merupakan adu kecanggihan teknologi antara bank dan penjahat. ”Nasabah harus berhati-hati penuh ketika bertransaksi. Dianjurkan ketika bertransaksi di ATM yang berada di lingkungan bank karena ada petugas keamanannya,” terangnya.

Ia juga menyarankan untuk menggunakan mobile banking yang relatif lebih aman dibanding bertransaksi melalui ATM. ”Tidak perlu mengantre lagi, cukup di manapun kita berada. Mulailah beralih ke nontunai, tapi ini juga merupakan pilihan dari si nasabah tentunya,” paparnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Satuan Reserse Kriminal Polresta Barelang berhasil membongkar sindikat pencurian dengan modus skimming atau pembobolan data nasabah bank. Pembobolan ini dilakukan dua orang yang merupakan WNA dan WNI.

Kedua pelaku yakni ZN, 51, warga negara Sri Lanka yang diamankan di Jakarta. Kemudian, JP, 42, warga Batuaji. Keduanya juga merupakan resedivis kasus yang sama dan bersamaan mendekam di LP Cibinong, Jawa Barat.

Dari pengakuan tersangka, J bertugas membobol data dan mengirim nomor PIN ATM target. Kemudian, ZN bertugas memindahkan data tersebut ke dalam blank card atau kartu kosong yang telah dipersiapkan sebelumnya. Sedangkan, JP bertugas mengambil uang ke ATM.

Salah satu nasabah yang menyadari kehilangan uang Rp 32 juta kemudian melaporkan pertengahan September lalu. Laporan itu kemudian kepolisian menelusuri rekaman CCTv ATM di Batuaji sehingga berhasil membekuk dua pelaku.

Dari pengakuan tersangka ini, mereka tidak pernah bertemu dengan J, seluruh datanya dikirim melalui telegram. Dalam sehari mereka bisa mendapatkan uang mencapai Rp 30 juta. Aksi pencurian itu dilakukan sudah selama 1 tahun dengan jumlah uang mencapai Rp 2 miliar. (*)

Reporter: YOFI YUHENDRI
RIFKI SETIAWAN
Editor : MOHAMMAD TAHANG