Internasional

Enam Astronot Kunjungan ke ‘Planet Mars’ di Israel

Dua astronot analog dari Eropa dan Israel berjalan sembari mengenakan pakaian ruang angkasa di Puncak Gurun Negev di selatan Israel, Minggu (10/10/2021) sebagai bagian dari persiapan misi ke Mars. (F Jack/AFP)

batampos.id – Enam astronot asal Austria, Jerman, Israel, Belanda, Portugal, dan Spanyol berkunjung ke ‘Planet Mars’ di Gurun Negev, Israel. Mereka memang belum pernah tinggal di Planet Merah itu secara langsung. Tapi, setidaknya pernah merasakan simulasinya.

BACA JUGA:
Pesawat Udara Tanpa Awak Digunakan untuk Berbagai Kegiatan

Forum Luar Angkasa Austria menciptakan pangkalan Mars buatan bersama Badan Luar Angkasa Israel di Kawah Makhtesh Ramon, di puncak Gunung Negev di Israel. Demikian dilansir dari AFP.

Kawah dengan kedalaman 500 meter dan lebar 40 kilometer itu tidak berpenghuni.Sejauh mata memandang, yang tampak hanya gurun. Area tersebut diyakini mirip dengan situasi di Mars. Hanya suhunya yang berbeda. Di Mars suhunya minus 60 derajat Celsius dan atmosfernya tidak cocok untuk dipakai bernapas. Sementara di Negev suhunya cukup hangat, yaitu 25–30 derajat Celsius.

Forum Luar Angkasa Austria adalah organisasi swasta yang terdiri atas spesialis kedirgantaraan dan telah melakukan berbagai misi percobaan. Enam orang yang terpilih itu dijuluki astronot analog. Mereka tinggal di stasiun virtual yang dibangun di sana selama empat pekan atau sampai akhir Oktober ini. Selama misi berlangsung, mereka terus memakai baju luar angkasa.

Alon Tenzer, Astronot analog dari Israel menyebutkan, ini menjadi pengalaman tak terlupakan baginya. ” Ini seperti mimpi yang menjadi nyata. Ini adalah hal yang telah kami kerjakan selama bertahun-tahun,” ungkapnya.

Bagi enam orang tersebut, menjadi bagian dari misi simulasi itu saja sudah hal yang luar biasa. Sebab, tidak sembarang orang bisa lolos. Penyaringan dilakukan secara ketat dan ujiannya menguras fisik serta mental.

Selama misi berlangsung, tugas mereka melakukan uji coba pada prototipe drone yang bisa berfungsi tanpa GPS serta kendaraan pemetaan bertenaga angin dan surya otomatis. Misi itu juga bertujuan mempelajari kebiasaan manusia serta dampak isolasi terhadap para astronot yang terlibat.

Pengawas misi, Gernot Groemer menjelaskan, hubungan erat dalam kelompok serta kemampuan kerja sama sangat penting untuk bertahan hidup di Mars. “Ini ibarat pernikahan. Bedanya, dalam pernikahan Anda bisa pergi, tapi di Mars tidak bisa,” tegasnya.

Groemer meyakini, misi untuk benar-benar menjelajah Mars sudah dekat. NASA bahkan sudah membayangkan misi pertama manusia ke Mars akan diluncurkan pada 2030 mendatang.

Yang dilakukan para peneliti di Negev saat ini adalah mempersiapkan misi tersebut. Itu akan menjadi misi besar karena jaraknya yang sangat jauh. Mars dan bumi terpisah 380 juta kilometer pada titik ekstremnya. “Saya yakin manusia pertama yang berjalan di Mars sudah lahir saat ini dan kami adalah pembuat kapal untuk membuat perjalanan ini menjadi mungkin,” ungkapnya. (*)

Reporter: Jpg
Editor: Chahaya Simanjuntak