Metropolis

6 Tahun Menunggu Jalan Menuju Sambau Diaspal

batampos.id – Pembangunan infrastruktur jalan di setiap Kecamatan Kota Batam dinilai masih tak merata. Bahkan, yang sifatnya darurat seperti jalan tanah menuju permukiman warga di Kelurahan Sambau, tak kunjung diperhatikan. Padahal, warga sudah berharap jalan tersebut diaspal sejak 6 tahun lalu.

F. Iman Wachyudi/Batam Pos
Ruas jalan menuju Perumahan Green Nongsa City, Perumahan Devely, Kaveling Sambau, Perumahan BP Batam dan beberapa perumahan lainnya di Batubesar, Nongsa, terlihat becek dan berlumpur usai diguyur hujan, Minggu (10/10).

Yasmin, salah satu warga Perumahan Nongsa, menilai Pemerintah Kota (Pemko) Batam tak adil dalam menata pembangunanan jalan. Padahal, Nongsa kerap digadang-gadang menjadi kawasan pariwisata Kota Batam. Namun sayang, untuk jalan permukiman warga tak menjadi priortitas pembangunan.

”Pak Rudi (Muhammad Rudi, Wali Kota Batam, red), tolong jangan pilih kasih. Di sini (Sambau, red) ada ratusan warga yang menanti pengaspalan jalan penghubung Sambau dan Batubesar. Tapi ternyata, yang dibangun malah jalan lain. Padahal, kami sudah bertahun-tahun berharap,” terang Yasmin, Senin (11/10/2021).

Menurut dia, saat ini kondisi jalan tanah itu sungguh mengkawatirkan. Apalagi, jika hujan turun seharian, yang membuat warga kesulitan untuk melewati jalan tersebut.

”Setiap hari kami merasakan jalan tanah yang tak pernah diperhatikan. Padahal sudah 6 tahun saya tinggal di sini, tapi tak juga diaspal,” terang Yasmin.

Hal senada diungkapkan Karsono, Ketua RW 11, Kelurahan Sambau. Menurutnya, di Kelurahan Sambau terdapat beberapa perumahan yang warganya memakai jalan tanah tersebut sebagai akses utama. Seperti, Perumahan Buana Duta Bandara, Deluxe, GNC, Bida Asri, Devely, Puri Sasmaya dan Kaveling.

”Hampir setiap hari, ratusan warga baik kendaraan roda dua dan empat melewati jalan tersebut, mulai dari kondisi panas hingga hujan. Ya kalau diperkirakan sekitar 50-70 warga melewati akses jalan itu,” terang Karsono.

Dikatakan Karsono, saat hujan turun, maka kondisi jalan akan berlumpur dan licin. Sedangkan panas, jalan yang dilewati warga berdebu. Bahkan, akibat sering hujan, kondisi jalan sudah tak rata dan terdapat banyak lubang cukup dalam.

”Kalau malam tak ada penerangan sama sekali. Bisa dibayangkan jika kondisi hujan, bagaimana warga melewati jalur tersebut,” ungkap Karsono.

Menurut dia, kondisi jalan juga membuat sejumlah warga kerap jatuh. Terutama, yang membawa anak-anak, dalam kondisi jalan tanah sehabis diguyur hujan.

”Pengendara roda dua sering jatuh, pernah juga ibu hamil jatuh dan keguguran,” imbuhnya.

Hasanuddin, warga Blok A4 Perumahan Bida Asri 3, juga mengeluhkan jalan tersebut. Setiap hari ia melalui jalan tanah itu dengan khawatir.

”Banyak lubang, kalau hujan licin, kering berdebu. Saya pernah jatuh bersama istri dan anak saya yang kecil akibat jalan licin,” ujarnya.

Jalan Dang Merdu atau tepatnya setelah Rumah Sakit Bhayangkara hingga Perumahan Green Nongsa City, Sambau, hingga kini belum tersentuh perbaikan. Padahal, jalan yang juga menuju Perumahan Bida Asri 3 dan Perumahan Karyawan BP Batam itu, sudah lama dikeluhkan masyarakat karena masih berupa jalan tanah.

Ketua Komisi III DPRD Kota Batam, Werton Panggabean, meminta keseimbangan pembangunan antara hinterland dan mainland harus disesuaikan. Sehingga, ketika Pemerintah Kota Batam akan membangun jalan-jalan di Kecamatan Belakangpadang, hal itu juga dibarengi dengan pembangunan jalan di perkotaan yang masih dikeluhkan warga.

”Jadi, keseimbangan antara pembangunan infrastruktur di hinterland dan mainland itu harus seimbang,” katanya, Senin (11/10).

Ia melanjutkan, terkait dengan Jalan Dang Merdu yang sudah lama dikeluhkan masyarakat, dirinya belum mengetahui apakah jalan tersebut merupakan jalan yang menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi Kepri atau Pemerintah Kota Batam. Dan apakah sudah masuk dalam Musrenbang atau belum.

Meski demikian, ia mendesak agar jalan tersebut segera diperbaiki karena jalan tersebut salah satu akses menuju daerah pariwisata sekaligus beberapa rumah warga.

”Apalagi itu menuju daerah pariwisata, tentu itu harus diprioritaskan. Bagaimana pun, daerah pariwisata itu mengangkat PAD (Pendapatan Asli Daerah),” tuturnya. (*)

 

 

Reporter : Yashinta, EGGI IDRIANSYAH
Editor : RATNA IRTATIK