Metropolis

Sidang Kasus Penjualan Agunan Sepihak Dilanjutkan Pemeriksaan Saksi, Juliana  Ngaku jadi Korban, Sudah Bayar Rp500 Juta

batampos.id– Sidang perkara penjualan rumah agunan di Bank CIMB Niaga secara sepihak, dengan terdakwa Wahyudi kembali dilanjutkan dengan agenda pemeriksaan saksi di Pengadilan Negeri (PN) Batam, Kamis (14/10).

BACA JUGA: Kasus Penjualan Agunan Sepihak Kembali Bergulir dengan Terdakwa Baru

Sidang dipimpin Ketua Majelis Hakim David P Sitorus didampingi Dwi Nuramanu dan Nanang Herjunanto. Sementara dari Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri (Kejari) Batam, Herlambang didampingi Immanuel Baeha.

Suasana sidang Kasus Penjualan Agunan Sepihak

Selain korban Kurnia Fensury, dalam sidang juga dihadirkan Juliana yang mengalami kerugian Rp 500 juta dan pejabat lelang kelas II, Wany Thamrin. Namun, Guntur selaku perwakilan dari Bank CIMB Niaga yang diundang untuk diminta kesaksiannya dalam persidangan kasus ini tidak hadir.

Dalam kesaksiannya, Kurnia Fensury diminta majelis hakim untuk menjelaskan awal mula permasalahan dirinya menjadi korban dalam kasus ini.

“Awalnya pada 11 September 2020 saya mendapat surat pemberitahuan dan surat somasi pertama dan kedua secara bersamaan dari pihak Bank CIMB Niaga tentang tunggakan kredit rumah. Saya menunggak sebesar Rp 33 juta karena auto debit saya eror. Diminta membayar angsuran pokok, bunga dan denda senilai Rp 91 juta,” kata Kurnia.

Ia melanjutkan, dirinya tidak mempermasalahkan hal tersebut. Melalui nomor yang tersedia di dalam surat somasi tersebut, Kurnia menjelaskan bahwa dirinya langsung menghubungi Guntur selaku pekerja di Bank CIMB Niaga dan menegaskan bersedia untuk membayar angsuran pokok, bunga dan denda tersebut.

“Tapi saat saya menghubungi pihak Bank Cimb Niaga (Guntur, red), saya disarankan untuk mengajukan permohonan keringanan pembayaran kepada Bank Cimb Niaga sebesar Rp 45 juta,” ujarnya.

Setelah itu, pada 20 September 2020 pihak Bank Cimb Niaga menolak permohonan keringanan pembayaran seperti yang disarankan oleh Guntur.

“Tiba-tiba saya dapat kabar, bahwa Bank Cimb Niaga secara sepihak tanpa sepengetahuan saya, telah mengalihkan rumah saya kepada Wahyudi selaku pembeli Cessie,” ungkapnya.

Mendengar pengakuan tersebut, Ketua Majelis Hakim David juga mempertanyakan adanya Juliana dalam kasus tersebut. Juliana pun langsung menegaskan bahwa dirinya juga selaku korban.

“Saya juga korban pak, saya membeli rumah itu seharga Rp 570 juta dari pejabat lelang kelas II, Wany Thamrin. Uang yang sudah saya bayar Rp 500 juta dan Rp 70 juta lagi belum dibayarkan,” kata Juliana.

Selanjutnya, Ketua Majelis Hakim David juga mempertanyakan kepada saksi Wany Thamrin terkait dasar hukum dirinya melakukan lelang tersebut. “Kamu sudah cek belum rumah itu, apakah bermasalah atau tidak,” tanya David kepada saksi Wany.

“Saya tak tau kalau rumah itu bermasalah pak, saya hanya melakukan lelang ketika ada permintaan,” kata Wany.

Di waktu yang bersamaan, Saksi Kurnia Fensury juga menegaskan bahwa dalam kasus ini, terdapat dua korban. Dirinya merugi karena satu unit rumahnya diselewengkan sedangkan Juliana mengalami kerugian materi karena membeli rumah yang bermasalah.

Mendengar hal itu, Ketua Majelis Hakim David menutup sidang dan dilanjutkan pada 21 Oktober 2021 dengan agenda pemeriksaan saksi.

Sebagaimana diketahui sebelumnya, Majelis Hakim PN Batam juga telah menjatuhkan vonis kurungan penjara terhadap Abdi selama 2,6 tahun penjara. Selain itu, Rima Lesya divonis kurungan penjara selama 6 bulan. Sedangkan Wilis Roro Ranasti mendapati vonis paling ringan, yakni 5 bulan 10 hari. Ketiga terpidana tersebut divonis atas kasus yang saat ini menjerat Wahyudi, karena melakukan tindakan pemalsuan yang merugikan saksi Kurnia Fensury. (*)

Reporter : Eggi Idriansyah
editor: tunggul