Covid-19

Belum Ada Wisman Masuk Kepri

Gubernur Minta Wako Batam Bersurat jika Tolak Travel Bubble

Gubernur Kepri Ansar Ahmad. (Dok Batam Pos)

batampos.id – Pemerintah pusat sudah membolehkan Kepri bersama Jakarta dan Bali menerima wisatawan asing (wisman) dari 19 negera, terhitung sejak Kamis (14/10). Namun, hari pertama kemarin belum ada satupun wisman masuk ke Kepri.

”Mungkin beberapa hari ke depan akan ada yang masuk,” ujar Gubernur Kepri, Ansar Ahmad, di Tanjungpinang, Kamis (14/10).

Belum adanya wisman masuk ke Kepri disebabkan dari 19 negara yang dibolehkan masuk tak memasukkan negara tetangga Singapura dan Malaysia. Padahal, dua negara itu selama ini paling banyak menyumbang wisman di Kepri.

Tak hanya itu, penerbangan internasional juga selama ini hanya ada rute tetap Malaysia-Hang Nadim Batam. Sementara Malaysia tak masuk dalam 19 negara yang diperbolehkan masuk ke Indonesia. Sisanya, rata-rata hanya penerbangan carter dari Arab Saudi dan Tiongkok.

”Kita berharap pintu masuk wisman dari Singapura dan Malaysia dibuka. Tentunya dengan protokol kesehatan yang ketat,” ujar Ansar.

Seperti diketahui, 19 negara yang boleh melakukan penerbangan langsung ke Kepri, Bali, dan Jakarta adalah Saudi Arabia, Uni Emirat Arab (UEA), Selandia Baru, Kuwait, Bahrain, Qatar, Tiongkok, India, Jepang, Korea Selatan, Liechtenstein, Italia, Prancis, Portugal, Spanyol, Swedia, Polandia, Hungaria, dan Norwegia.

Di Kepri sendiri, selama ini, 19 negara itu dalam kondisi normal sekalipun, warganya jika hendak ke Kepri, rata-rata mengambil rute penerbangan dari negara mereka ke Changi Singapura atau Malaysia.

Dari Singapura dan Malaysia baru ke Batam melalaui jalur laut di lima titik pintu masuk pelabuhan internasional di Batam dan masing-masing satu di Tanjungpinang dan Bintan.

Namun, pantauan Batam Pos di Pelabuhan Feri Intenasional Batam Center, Pelabuhan Feri Internasional Harbour Bay, Pelabuhan Feri Internasional Sekupang, Pelabuhan Feri Internasional Nongsapura, dan Pelabuhan Feri Internasional Marina, belum ada wisman yang masuk. Begitupun Pelabuhan Feri Internasional di Tanjungpinang dan Lagoi Bintan.

Wisatawan mancanegara berswafoto di kawasan wisata Lagoi Bintan, Minggu (20/8/2019). Sejak Kamis (14/10) kemarin, wisatawan mancanegara dari 19 negara sudah boleh berkunjung ke Kepri. ( Yusnadi/Batam Pos)

Humas Pelabuhan Nongsapura, Nongsa Point Marina, dan Turi Beach, Naradewa, mengatakan bahwa ada beberapa hal yang menghambat masuknya turis ke Kepri, khususnya Batam. ”Jadi begini, setiap turis yang masuk masih diwajibkan untuk menjalani karantina di dalam kamar hotel (ini tak disukai wisman, red). Namun, jika diberikan kelonggaran misalnya karantinanya di kawasan resort atau hotel, ya mungkin bisa menarik wisman datang,” kata Naradewa, kemarin.

Naradewa juga membenarkan, kebanyakan turis yang masuk ke Batam berasal dari Singapura. Namun, pemerintah Singapura masih menerapkan karantina bagi warganya yang datang dari Indonesia. Sehingga hal ini memberatkan dan membuat para wisatawan dari Singapura enggan datang. Juga Singapura tak masuk 19 negara yang diperbolehkan masuk ke Indonesia.

”Singapura itu punya skema Vaccinated Travel Lane (VTL), namun hanya untuk delapan negara saja. Indonesia tidak masuk. Jika Pemprov Kepri bisa melobi, agar khusus Kepri bisa menjadi pengecualian. Tentunya menjadi angin segar bagi pelaku pariwisata,” ujarnya.

Saat ditanyakan kesiapan, Naradewa mengaku mulai dari Pelabuhan Nongsapura, Nongsa Point Marina, dan Turibeach, sudah sangat siap menerima wisatawan asing. Berbagai prosedur untuk menerima wisatawan asing selama pandemi, sudah diterapkan di tempat-tempat tersebut. Setiap pekerja, sudah mengatahui tugasnya masing-masing.

”Mereka juga sudah tahu, protokol kesehatan itu adalah hal yang wajib diterapkan. Semua pekerja di Pelabuhan Nongsapura, NPM, dan Turi Beach, sudah divaksinasi dosis kedua,” ungkap Naradewa.

Walaupun sudah menerapkan protokol kesehatan dan pekerja divaksinasi, sejauh ini belum ada wisatawan asing datang ke dua resort tersebut. ”Yang masuk itu wisatawan domestik dan lokal. Namun, jumlahnya tidak banyak.”

Ia sangat berharap arus pelancong dari luar negeri ke Batam dapat lebih longgar. Sebab, selama pandemi, pariwisata menjadi mati suri. ”Harapannya segera masuk, segera terbuka. Batam bisa terbuka, walaupun sebatas Singapura. Biar bisa menggeliat dan bergerak lagi ekonomi kita,” tuturnya.

Di tempat terpisah, pengelola Pelabuhan Feri Internasional Sekupang, Jumarly, membenarkan belum ada wisman masuk, dan pelabuhan tersebut juga memilih belum beroperasi. ”Sudah hampir setahun setengah lebih sejak pendemi virus corona melanda Indonesia, pelabuhan ini ditutup dan tidak lagi melayani pelayaran internasional rute Batam-Singapura,” ujarnya, kemarin.

Pihaknya masih menunggu informasi kapan dibuka pintu wisatawan mancanegara, khususnya travel bubble seperti yang disampaikan Gubernur Kepri, Ansar Ahmad, beberapa waktu lalu. ”Kita tunggu,” katanya.

Ia melanjutkan, Terminal Feri Internasional Sekupang telah siap membuka kembali kapan pun perintah itu datang. ”Keputusan pembukaan perjalanan pelabuhan di Batam khususnya, terletak pada dasar agreement (persetujuan) kedua kementerian yakni kementerian di Indonesia dan kementerian di Singapura. Jika itu sudah keluar, tentu saja kita sudah mempersiapkan,” tambah Jumarly.

Terminal Feri Internasional Sekupang juga selalu siap dan mengikuti aturan yang berlaku baik untuk protokol kesehatan (protkes) maupun yang lainnya. ”Kami, Sekupang Internasional baik petugas maupun tenant yang ada sudah divaksin baik dosis pertama dan kedua,” terangnya.

Pantauan Batam Pos di Terminal Feri Internasional Sekupang, kondisi pelabuhan terlihat kosong dan sepi penumpang. Tidak ada aktivitas penumpang yang berangkat maupun datang di pelabuhan tersebut. Kapal-kapal feri yang biasanya silih berganti mengangkut penumpang rute Batam ke Singapura, hanya terlihat parkir berjejer di dermaga pelabuhan.

Sementara itu, terkait penolakan Wali Kota Batam, Muhammad Rudi, untuk membuka pintu wisman, Gubernur Kepri, Ansar Ahmad, mengatakan, kebijakan membuka pintu kembali pintu wisman melalui program travel bubble adalah kewenangan pemerintah pusat. Begitu pemerintah pusat menetapkan Batam dan Bintan, tentu daerah harus siap melaksanakan keputusan tersebut.

“Kondisi pariwisata kita sudah lama lesu, tentu dengan dibuka akses wisata mancanegara untuk Jakarta, Bali, dan Kepri kita berharap memberikan harapan bagi bangkitnya pariwisata Kepri,” ujar Ansar di Gedung Daerah, Tanjungpinang, Kamis (14/10).

Disinggung mengenai tidak adanya nama Singapura dan Malaysia dalam daftar 19 negara yang bisa berkunjung ke Provinsi Kepri? Diakuinya, Singapura dan Malaysia adalah wisman yang teratas yang berkunjung ke Provinsi Kepri. Namun dalam hal ini, Singapura yang menutup ruang.

“Kita tidak pernah menutup akses wisata untuk Singapura. Faktanya, kebijakan travel bubble ini juga dibicarakan dengan pemerintah Singapura,” jelasnya.

Kemudian terkait dengan adanya permintaan tunda penerapan travel bublle oleh Wali Kota Batam, untuk wilayah Batam. Ditegaskan Ansar, sampai saat ini, ia belum ada menerima permintaan secara resmi dari Wali Kota Batam.

“Jika memang mereka (Wali Kota Batam, red) ingin menunda kebijakan travel bubble di Batam bisa diajukan lewat surat ke Pemprov. Sehingga kami bisa meneruskan ke pemerintah pusat. Karena memang kewenangan soal ini ada di pemerintah pusat,” tegasnya.

Menurutnya, jika paramater untuk penundaan tersebut karena vaksinasi belum 100 persen tentu tidak bisa dijadikan pijakan. Mantan legislator Komisi V DPR RI tersebut juga mengatakan, tidak ada kepastian kapan Covid-19 akan hilang dari Provinsi Kepri. Ia juga berharap, tidak dikenakan kebijakan karantina untuk wisman yang datang ke Provinsi Kepri. Karena lama menginap wisman hanya tiga hari.

“Covid-19 bisa saja akan terus ada, tinggal bagaimana kita memperkuat ketahanan kelompok dengan vaksinasi. Bagi kelompok-kelompok yang memang tidak bisa divaksin, tentu tidak dipaksakan,” tegasnya lagi.

Banyak sektor yang berharap akses wisata dibuka. Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) juga banyak bergantung. Selain itu berapa banyak hotel-hotel yang menutup tempat usahanya, sehingga menyebabkan terjadinya pemutusan hubungan kerja yang turut mempengaruhi bertambahnya angka pengangguran di Kepri.

“Kita tidak bisa membiarkan kondisi ini terus berlarut-larut. Kebijakan-kebijakan yang dibuat adalah upaya untuk memulihkan kondisi daerah. Tentu ini yang harus kita dukung dengan berbagai ikhtiar, sehingga tidak terjadi penyebaran Covid-19 kembali meluas,” tutupnya.

Legislator Komisi II DPRD Provinsi Kepri, Rudy Chua, mengatakan, ia sangat mendukung dengan akan dibukanya akses bagi luar negeri ke Indonesia, Provinsi Kepri khususnya. Ia berharap ini menjadi titik tolak bangkitnya pariwisata di Provinsi Kepri.

Namun, ada beberapa persoalan yang harus disikapi, Provinsi Kepri sangat bergantung dengan kunjungan wisman dari Singapura dan Malaysia. Namun, kebijakan yang akan buka besok (hari ini,red) belum memasukan kedua negara tersebut dalam daftar.

“Tak bisa dinapikan, pariwisata Provinsi Kepri sangat bergantung dengan Singapura dan Malaysia. Tentu menjadi salah satu persoalan yang harus disikapi oleh pemerintah pusat,” ujar Rudy Chua di Tanjungpinang, kemarin.

Menuurutnya, masih terjadi pro dan kontra terkait kebijakan travel bubble di Batam dan Bintan, karena ada kekhawatiran yang berlebihan. Namun, kenyataan yang harus dipahami adalah Covid-19 tidak ada jaminan hilang. Artinya, yang perlu dilakukan adalah meningkatkan kewaspadaan.

“Saat ini angka pengangguran tingggi, banyak tempat usaha tutup, termasuk hotel-hotel. Apabila kekhawatiran terus menerus, maka kondisi tidak akan pulih,” jelasnya.

Ia mengatakan, poin yang ketiga adalah meminta pemerintah pusat meninjau kembali kebijakan terkait karantina bagi wisman. Karena rata-rata wisman yang berkunjung ke Provinsi Kepri paling lama tiga hari.

“Perlu ada perubahan regulasi, karena syaratnya adalah bagi yang sudah vaksin. Dengan adanya kebijakan karantina ini juga akan menjadi faktor penghambat orang untuk datang berkunjung,” tutup Rudy.

Di tempat terpisah, Wakil Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, mengatakan, saat ini Pemko Batam tengah membenahi kawasan yang menjadi pintu masuk wisman. Meskipun saat ini Pemko Batam minta ditunda, sektor wisata tetap bersiap diri.

”Hingga kini belum ada wisman yang masuk. Wisman paling banyak itu dari Singapura, dan Malaysia. Meskipun sudah dibuka untuk wisman, Batam memilih untuk mempersiapkan kawasan dan terus mengejar pengendalian Covid-19,” kata dia, Kamis (14/10).

Kawasan Nongsa memang dijadikan lokasi pertama untuk menyambut wisman untuk Batam. Berbagai persiapan terus dilakukan, agar saat wisman datang tidak terjadi masalah yang menimbulkan ketidaknyamanan wisman.

”Sekarang masih belum memang. Namun, Pak Wali percaya Batam bisa bangkit ke depannya. untuk itu target vaksinasi 100 persen di November sangat diharapkan benar-benar terwujud,” ujarnya.

Batam lanjutnya, siap menerima kedatangan wisman, asalkan bisa memenuhi tuntutan dari negara yang merupakan penyumbang wisman terbesar untuk Batam. Untuk saat ini vaksinasi mendekati 90 persen. Artinya Batam lebih siap dan matang dalam menyambut pembukaan pintu masuk wisman terutama dari Singapura dan Malaysia.

”Kita sekarang sudah PPKM level 2. Tapi sebenarnya berdasarkan asesmen kita ini sudah level 1. Artinya untuk membuka wilayah ini membuka pintu pariwisata dengan protokol kesehatan yang ketat kita siap,” ujar Amsakar.

Oleh sebab itu, ia menuturkan sementara waktu tidak mengharapkan wisman Singapura yang datang. Melainkan wisman dari negara lainnya seperti China, Korea, dan lainnya. ”Makanya ada kebijakan untuk membuka penerbangan langsung dari Batam ke negara-negara lainnya dan sebaliknya,” bebernya.

Hang Nadim Entry Point Penerbangan Internasional

Bandara Internasional Hang Nadim akan menjadi salah satu titik masuk penerbangan internasional, selain Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) dan Ngurah Rai, Bali. Beberapa persiapan, salah satunya menempatkan alat Tes Cepat Molekuler (TCM).

GM Bandara Hang Nadim, Bambang, mengatakan, alat TCM ini demi mendukung persiapan menyambut penumpang dari luar negeri. ”Tadi saya di Cengkareng (Soetta), untuk melihat langsung alur bagaimana masuknya turis asing, atau WNI (Warga Negara Indonesia),” kata Bambang, Kamis (14/10).

Bambang mengaku bahwa ada alur masuk tersendiri bagi penumpang yang datang dari luar negeri. Nantinya, sesampai di terminal kedatangan, penumpang tidak dapat langsung keluar. Para penumpang terlebih dahulu menjalani TCM Covid-19, yang hasilnya akan diketahui dalam waktu satu jam. ”Nah, alat ini yang agak sulit dicari. Senin (18/10) sesampai di Batam, saya akan rapat lagi dengan stakeholder terkait,” ucapnya.

Bambang mengaku sudah memiliki gambaran alur masuknya penumpang dari luar negeri. Namun, kata Bambang, semuanya perlu dipersiapkan lebih matang lagi. ”Persiapan alur, dan petugasnya bisa cepat dikerjakan. Saat ini yang sulit itu, pengadaan alat TCM itu. Jika alat itu sudah ada, mungkin kami siap menerima (penerbangan internasional,” ujarnya.

Sejauh ini, Bandara Internasional Hang Nadim tidak memiliki rute penerbangan internasional. Walaupun dulu memiliki rute dari Subang, Malaysia ke Batam, tapi sejak pandemi rute ini tidak beroperasi lagi.

Sebelum pandemi, Hang Nadim juga memiliki rute carter dari Tiongkok ke Batam. Lalu, juga ada rute umrah dari Batam ke Arab Saudi. ”Penerbangan internasional, sampai saat ini belum ada. Namun, intinya kami siap menerima penerbangan internasional,” ujarnya.

Bambang mengatakan, dengan adanya persiapan ini, tentunya memudahkan Hang Nadim saat ada rencana maskapai atau negara lain datang ke Hang Nadim.

Duta Besar atau Konsulat Indonesia, nantinya dapat mempromosikan bahwa ada tiga bandara yang dapat menerima penerbangan internasional, salah satunya Bandara Hang Nadim. ”Untuk umrah, kami memang ada memiliki rencana itu,” tuturnya.

Ia mengatakan, beberapa travel mendukung Hang Nadim, sebagai bandara embarkasi umrah. Jika rencana ini didukung pihak maskapai, kemungkinan Hang Nadim dapat lagi melayani penerbangan umrah. ”Saat keluar tak terlalu sulit. Agak repot itu, untuk penumpang datang dari luar negeri. Nah, kami perlu persiapan lebih matang lagi,” imbuhnya.

Manajer Operasional Hang Nadim, Tri Hasril Apul, mengatakan berdasarkan SE Nomor 20 Tahun 2021, penumpang dari luar negeri wajib memiliki surat negatif Covid-19 dari negara asalnya. Lalu, sesampai di Batam, akan menjalani tes swab lagi dengan TCM.

”Nantinya akan menjalani karantina selama 5 hari, di hari keempat menjalani tes swab lagi. Tapi yang berwenang di sini, adalah Satgas Covid-19 Batam, kami hanya menyediakan fasilitas saja,” ujarnya.

Apul mengatakan, saat ini baru 19 negara yang boleh masuk ke Indonesia yakni Saudi Arabia, Uni Emirat Arab (UEA), Selandia Baru, Kuwait, Bahrain, Qatar, Tiongkok, India, Jepang, Korea Selatan, Liechtenstein, Italia, Prancis, Portugal, Spanyol, Swedia, Polandia, Hungaria dan Norwegia. (*)

Reporter : JAILANI
FISKA JUANDA
RENGGA YULIANDRA
YULITAVIA
Editor : MOHAMMAD TAHANG