Opini

Daya Ungkit Batam Logistics Ecosystem pada Pemulihan Ekonomi Nasional di Batam

batampos.id – Sejak 2020 pandemi Covid-19 yang ikut melanda Indonesia sudah barang tentu memperlemah sendi-sendi perekonomian Indonesia. Pandemi Covid-19 berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi nasional yang mengalami perlambatan dan penurunan penerimaan negara, peningkatan belanja negara, nilai tukar rupiah, dan industri baik level kecil, menengah atau besar sehingga pemerintah harus melindungi seluruh sektor ekonomi nasional melalui program yang cepat dan tepat sasaran dalam rangka “Pemulihan Ekonomi Nasional” atau disingkat PEN.

Seluruh pemerintah di semua kementerian lembaga baik pusat maupun daerah saat ini bersinergi melakukan “extraordinary effort” sesuai dengan tusinya masing-masing dalam rangka PEN ini. Bergitu juga Customs Institution yang memiliki tugas dan fungsi sebagai Community Protector, Revenue Collector, Trade Facilitator serta industrial Assistance. Di setiap Customs Administration di daerah memiliki program unggulan dalam rangka PEN ini.

Customs administration di Batam memiliki program-program unggulan PEN yang mencakup 7 (tujuh) area program berupa simplifikasi regulasi dan prosedur, relaksasi dan insentif fiskal, pengendalian impor (Current account defisit (CAD)), peningkatan ekspor, pemberdayaan IKM, optimalisasi penggunaan anggaran dan proteksi perekonomian dari aktivitas illegal.

Setidaknya dalam 2 tahun terakhir, berbagai berita menghiasi media masa tentang dukungan Customs facilitation di era pandemi. Beberapa area program tersebut di antaranya yaitu: percepatan pelayanan barang2/APD/obat2an/vaksin dalam rangka penanganan Covid-19 serta barang-barang yang peka waktu, peningkatan ekspor dengan melakukan asistensi langsung kepada pelaku usaha (Customs Visit Customer) khususnya kepada pelaku usaha IKM/UMKM yang berorientasi ekspor, memberikan insentif perpajakan, melakukan optimalisasi penyerapan dan realokasi anggaran yang tepat sasaran serta pembentukan 2 Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di bidang kedirgantaraan dan ekonomi digital.

Tidak hanya berpaku pada program-program tersebut, sebagai upaya optimalisasi keuntungan demografis wilayah Batam serta keunggulan geostrategis yang berbatasan langsung dan dekat dengan negara tertangga seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina dengan jalur pelayaran terpadat di dunia yaitu selat Malaka, berbagai extra-effort telah dilakukan di antaranya: pemberian fasilitas kepabeanan berupa Pusat Logistik Berikat di Pulau Sambu; pemanfaatan areal perairan Batam sebagai PLB Apung yang sedang dalam proses, menjadi satu-satunya PLB Apung pertama di Indonesia dan tentu saja Implementasi Batam Logistics Ecosystem (BLE) sebagai bagian dari National Logistics Ecosystem (NLE)
Batam Logistic Ecosystem (BLE) adalah Ekosistem logistik khusus di Pulau Batam dengan karakteristiknya sebagai daerah FTZ yang menyelaraskan arus lalu lintas barang dan dokumen dari kedatangan sarana pengangkut hingga barang tiba di gudang ataupun keberangkatan sarana pengangkut dari gudang keluar kawasan pabean, berorientasi pada kerja sama antar instansi pemerintah dan swasta, melalui pertukaran data, simplifikasi proses, penghapusan repetisi dan duplikasi, dan berbasis sistem teknologi informasi yang mencakup seluruh proses logistik terkait dan menghubungkan sistem-sistem logistik yang telah ada.

Sesuai Instruksi Presiden No 05 Tahun 2020 tentang Penataan Ekosistem Logistik Nasional. terdapat 4 fokus area sebagai legal standing implementasi BLE yaitu :
Pertama, Simplifikasi & Harmonisasi sistem layanan/fasilitasi industri dan investasi dengan sinergi antar K/L (G2G) telah diwujudkan dalam 3 layanan :

Layanan Ship To Ship – Floating Storage Unit (STS-FSU)

Yaitu simplifikasi layanan proses bisnis STS-FSU dengan mengkolaborasikan sistem informasi instansi-instansi yang berwenang : KSOP, BP Batam dan Bea Cukai, yang memudahkan Pelaku Usaha menyampaikan pengajuan STS-FSU hanya dengan 1 (satu) kali pengajuan ke sistem yang teriintegrasi (Single Submission) dan dapat diajukan lewat platform mana saja yang telah disediakan (Omni Channel).

Layanan Perizinan Usaha dan Pemotongan Kuota

Yaitu simplifikasi layanan proses bisnis pengajuan dokumen pemasukan/pengeluaran barang dengan mengkolaborasikan sistem informasi Bea Cukai (Ceisa FTZ) dan BP Batam, (Sistem Informasi Keluar Masuk Barang – Indonesia Batam Online Single Submission (SIKMB-IBOSS)

Kedua, Kolaborasi sistem layanan logistik baik internasional maupun domestik antarpelaku kegiatan logistik di sektor pemerintah dan swasta (G2B2B). Bentuk kolaborasi tersebut diwujudkan dalam 3 platform layanan pemesanan berupa :

Pemesanan Truck (Trucking)

Pelaku usaha (Pemilik Barang/Cargo Owner) dapat melakukan pemesanan transportasi truck untuk mengirim barang dari pelabuhan ke tempatnya (gudang) atau dari tempatnya (gudang) ke pelabuhan. Pemesanan trucking dapat diajukan melalui platform swasta langsung atau lewat platform NLE.

Pemesanan Kapal (Shipping)

Pelaku usaha (Pemilik Barang/Cargo Owner) dapat melakukan pemesanan Kapal atas kargo yang akan dikirim lewat laut, melalui platform swasta langsung atau lewat platform NLE.

Pemesanan Gudang (Warehousing)

Pelaku usaha (Pemilik Barang/Cargo Owner) dapat melakukan pemesanan Gudang atas kargo yang akan ditimbun menunggu proses customs clearance, melalui platform swasta langsung atau lewat platform NLE.

Ketiga Kemudahan transaksi pembayaran terkait proses logistik; Kemudahan transaksi pembayaran penerimaan negara dan fasilitasi pembayaran antar pelaku usaha terkait proses logistik melalui platform pembayaran online. Saat ini sudah tergabung Bank Mandiri dan Bank BCA untuk memfasilitasi pembayaran layanan logistik trucking, shipping, warehousing dan depo kontainer.

Keempat ; Penataan Pelabuhan dan Integrasi layanan kepelabuhanan. Meningkatkan efisiensi proses logistik dengan penataan sistem dan tata ruang kepelabuhanan melalui One Gate, One Billing and One System di Pelabuhan Batu Ampar. Bahwa saat ini secara kesisteman atas penataan inventory pelabuhan sudah terkoneksi antara Sistem Bea Cukai (Ceisa TPS Online/Ceisa FTZ) dengan Sistem Inventory Pelabuhan BP Batam (B-SIMS) sehingga seluruh kegiatan inbound/outbound (pemasukan dan pengeluaran barang) ke dan dari Kawasan Bebas Batam dapat menjalankan sesuai proses sequences yaitu : DO Online, SP2 Online, Customs Clearance dan Auto Gate System

Selama tahun 2021 ini berjalan, berbagai extraordinary effort yang dilakukan Customs Institution telah menghasilkan berbagai capaian. Di sisi penerimaan negara telah menyumbang penerimaan periode 1 Jan- 30 Sep 2021 sebesar 721.83 Milliar. Dengan porsi Bea Masuk sebesar 188.54 M, Bea Keluar 526.61 M dan Cukai sebesar 6.68 M. sudah 253.37% melebihi target untuk tahun 2021.
Sesuai data yang sudah disampaikan oleh BPS Batam untuk Tahun 2020 dan 2021 ini Nilai Ekspor Batam mencapai kurang lebih US$ 12 Miliar (periode Januari 2020 sd. Maret 2021)

Program BLE yang sudah diimplementasikan sejak Maret 2021 berhasil menjadi daya ungkit bagi terwujudnya efisiensi dan efektifitas dari sisi simpul, waktu dan biaya. Sehingga dapat meningkatkan investasi dan mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional. Hilangnya proses repetisi pada layanan STS-FSU telah memberikan dampak berupa efisiensi waktu sebesar 70% dengan 736 transaksi, demikian juga proses integrasi system perizinan dan kuota antara CEISA FTZ (BC Batam) dan IBOOS-BP Batam telah memberikan efisensi waktu hingga 94% dengan 2842 Transaksi (realisasi izin barang konsumsi), 584 transaksi (data izin barang konsumsi) hingga 16 September 2021.

Sementara itu Kolaborasi sistem layanan logistik baik internasional maupun domestik antarpelaku kegiatan logistik di sektor pemerintah dan swasta telah telah menunjukan setidaknya 335 transaksi. Hal menggembirakan terlihat pada penataan pelabuhan dan Integrasi layanan kepelabuhanan yang menunjukan data transaksi sebesar 7875 untuk transaksi DO online dan 761 transaksi untuk SP2 online.

BLE secara simultan telah mendorong mewujudkan Batam yang berperan sebagai Hub Logistik Nasional dengan keunggulan geoekonomi sebagai kawasan bebas pajak serta geostrategisnya dapat bersaing dengan negara tetangga dan menjadi benchmark bagi wilayah lain di Indonesia.

Melalui BLE yang merupakan bagian dari NLE maka terwujud ‘satu wajah pemerintah’ dalam layanan pemerintah (seluruh K/L) yang terintegrasi dan efisien kepada pelaku usaha, Integrasi dan efisiensi layanan clearance kepabeanan, transparansi layanan jasa logistik swasta, efisiensi biaya dan kepastian waktu layanan jasa logistik, transparansi informasi supply, demand dalam tarif jasa angkutan truk, utilisasi truk yang tinggi, transparansi informasi supply dan demand probis warehousing. (*)

Oleh: HERI RUSDAMAN, IT Manager and BLE Expert BC Batam