Opini

Peran Guru pada Masa Pandemi Covid-19

Sejak akhir tahun 2019, seluruh dunia telah digemparkan oleh wabah Corona Virus -19 (Covid-19) tak terkecuali Indonesia. Pandemi Covid-19 ini benar-benar membawa perubahan besar terhadap aspek kehidupan, termasuk dunia pembelajaran
formal. Proses pembelajaran yang biasanya dilakukan secara tatap muka, harus diganti dengan pembelajaran dalam jaringan. Bagi dunia pendidikan tinggi hal ini tidak menimbulkan suatu pembelajaran yang mengejutkan karena mereka sudah mengenal
dan memahami teknologi. Justru perubahan ini lebih terasa pada pendidikan SD, SMP, dan SMA, yang mengandalkan tatap muka pada proses pembelajaran.

Dengan menggunakan sistem daring, siswa tetap belajar dan mengasah kemampuan akademik maupun non akademik mereka di rumah masing-masing.

Belajar di rumah pada era pandemi Covid-19 ini merupakan suatu tantangan. Dalam hal ini siswa diharuskan mengikuti pembelajaran secara daring mulai dari grup Whatsapp, Google Classroom, Goggle Meet, E-Learning, Zoom. Dengan banyaknya media
pembelajaran daring ini, siswa dan guru harus terus belajar tentang cara bagaimana penggunaan dan pelaksanaannya.
Pandemi covid-19 masih terus berlangsung hingga saat ini.

Berdasarkan data pertanggal 10 Agustus 2021 pukul 12.50, jumlah yang terkonfirmasi positif covid-19 sebanyak 3.686.740 jiwa. Dimana kasus sembuh sebanyak 3.129.666 jiwa, kasus
meninggal sebanyak 108.571 jiwa, dan dalam perawatan sebanyak 448.508 jiwa (http://m.antaranews.com). Keadaan dan situasi ini bukanlah hal yang mudah untuk dihadapi. Hingga sampai saat ini, penutupan sementara lembaga pendidikan di Indonesia masih berlangsung, hal ini terjadi sebagai upaya yang dilakukan pemerintah untuk menahan sekaligus memutus rantai penyebaran pandemic covid-19.

Dalam kondisi pandemic covid-19 ini, pembelajaran dalam jaringan merupakan salah satu cara yang dilakukan untuk dapat tetap belajar. Hal ini menuntut siswa maupun guru untuk mahir dalam penggunaan teknologi digital dalam proses pembelajaran. Sebenarnya pembelajaran daring ini bukan hal baru lagi, namun tidak semua pihak memahami dan melaksanakan sistem ini karena masih enggan beralih dari pembelajaran tradisional yang menurut kita itu lebih nyaman.

Dengan adanya wabah virus ini, membuat dan mengharuskan seluruh sekolah, perguruan tinggi dan lembaga pendidikan lainnya, menggunakan metode pembelajaran daring tanpa terkecuali, dengan tujuan agar proses pembelajaran tetap berjalan meskipun harus dilakukan di rumah masing-masing.

Berdasarkan survey UNICEF pada awal Juni 2021 terhadap 4.018 responden dari 34 provinsi dengan rentang usia 14-24 tahun, 69% merasa bosan belajar dari rumah (BDR). Selama BDR, responden mengalami dua tantangan utama, yakni 35%
akses internet tidak lancer dan 38% kurang bimbingan dari guru.
Sementara itu, 87% responden ingin segera kembali ke satuan pendidikan dengan berbagai alasan. Di antaranya, senang metode belajar tatap muka 61%, rindu teman 51% dan bosan di rumah 48%.

Sedangkan 59% responden mengaku belum ingin kembali ke satuan pendidikan karena khawatir terpapar covid-19. Sekitar 12% tidak memiliki biaya dan 1% takut diejek karena pernah terpapar covid-19. Meski banyak yang ingin segera kembali ke
satuan pendidikan, namun 50% responden menilai pembelajaran tatap muka sebaiknya dimulai setelah kasus covid-19 berkurang, 25% berpendapat belajar tatap muka dimulai saat tahun ajaran baru, dan 12% menunggu adanya obat. (https://www.unicef.org)
Dari hasil survey tersebut kita dapat melihat betapa pentingnya peran guru dalam memotivasi dan memberi pendampingan terhadap peserta didik. Guru harus menjadi rool model bagi peserta didik untuk terus menunjukkan sikap pantang menyerah dengan berbagai kendala yang dialami. Sebagai pendidik seorang guru harus terus dapat mengembangkan diri, dimana melalui pembelajaran secara daring atau online mau tidak mau guru harus dapat menguasai teknologi untuk dapat memberi pembelajaran yang inovatif dan kreatif bagi peserta didik.

Guru memiliki peran yang sangat penting bagi keberlangsungan pendidikan, terlebih-lebih dalam situasi yang luar biasa ini guru dituntut untuk melaksanakan banyak peran tambahan. Guru harus dapat memastikan tercapainya tujuan pendidikan dan
pemenuhan target akademik dan non akademik, ikut bertanggung jawab dalam memastikan keselamatan peserta didik secara fisik dan psikis dengan terus aktif memberi penguatan dan pemahaman kepada peserta didik guna mentaati semua
protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah. Guru harus memberi dampak positif bagi dunia pendidikan sebagai wujud peduli terhadap kemajuan bangsa. (*)

 

 

 

oleh :

Antoni Sitepu
Guru di SD Teramia Kota Batam