Ekonomi & Bisnis

Batik Mahkota Laweyan Raup Untung 7 Kali Lipat 

Selain bisa mendapatkan sejumlah produk batik berkualitas, pembeli juga bisa mengikuti kursus singkat membatik di Batik Mahkota Laweyan Solo. f. Dok. Batik Mahkota Laweyan

batampos.id – Pandemi memaksa seluruh pelaku usaha khususnya sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) merambah ke penjualan digitalisasi. Sebab, kebijakan pembatasan yang diterapkan oleh pemerintah dalam penanganan Covid-19 membuat UMKM yang menerapkan penjualan offline akan sulit berkembang.

Salah satunya, Batik Mahkota Laweyan yang merupakan penerus dari Batik Puspowidjoto yang berdiri sejak tahun 1956 silam di Sayangan Kulon No. 9 Laweyan Solo. Batik Puspowidjoto sendiri didirikan oleh secara turun temurun oleh keluarga Radjiman Puspowidjoto dan Tijori Puspowijoto dengan produksi batik tradisional tulis dan cap yang salah satunya terkenal bermerek Mahkota PW. Produk yang menjadi unggulan pada masa itu adalah batik motif Tirto Tejo.

Pemilik Batik Mahkota Laweyan Alpha Febela Priyatmono bercerita, sepeninggal pendirinya, antara 1993 hingga 2005, Batik Puspowidjoto mengalami kevakuman produksi. Namun, setelah dicanangkannya Laweyan sebagai Kampoeng Batik pada 25 September 2004, memacu para pengusaha batik yang telah lama mengalami kevakuman untuk berproduksi kembali.

“Salah satu perusahaan batik yang bangkit kembali adalah Batik Puspowidjoto dengan menggunakan nama Batik Mahkota Laweyan,” ujarnya saat dihubungi oleh JPGROUP.

Batik Mahkota Laweyan sendiri didirikan pada 1 Oktober 2005 oleh salah satu puteri Puspowidjoto yaitu Juliani Prasetyaningrum dan didukung oleh keluarga besar Puspowidjoto. Produk utama dari perusahaan ini adalah batik tulis modern, disamping tulis tradisional dan cap. Alpha mengaku, selama perjalanan bisnisnya, tak pernah terpikirkan untuk merambah ke digitalisasi. Selama ini pihaknya hanya mengandalkan kunjungan wisatawan atau sektor pariwisata saja. Sebab, selama ini memang segmen Batik Mahkota Laweyan sendiri merupakan kawasan wisata berbasis edukasi dan budaya.

Namun, seiring berjalannya waktu hingga pandemi Covid-19 hadir dan mengganggu bisnis Batik Mahkota Laweyan, Alpha mengaku, pihaknya menyadari bahwa perubahan dan transformasi pemasaran secara serius ke arah digital harus dilakukan.

Bahkan, menurutnya, selama penerapan kebijakan pembatasan sosial berlangsung, pendapatannya pun turun drastis sekitar 75 hingga 80 persen.

“Bahkan, beberapa ada yang tutup di kawasan kami,” imbuhnya.

Batik Mahkota Laweyan sendiri sudah ada dalam platform digital Tokopedia pada 2019 lalu. Namun, pihaknya memiliki keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM) atau pekerjanya. Sehingga, agar bisnisnya dapat bertahan dan berkembang pihaknya melakukan perbaikan manajemen dan mulai serius dalam pemasaran melalui platform digital.

“Setelah pandemi mau gak mau berbasis online dan memaksa kamu untuk menekuni online,” tegasnya.

Meskipun demikian, karena segmen Batik Mahkota Laweyan sendiri berada pada sektor pariwisata, maka perbaikan sisi offline pun tetap harus berjalan. Ia menyebut, dari batik menciptakan berpuluh-puluh aktivitas dari berbagai ilmu apa pun termasuk budaya, sejarah, ilmiah, dan sastra yang menjadi pengungkit ekonomi kawasan.

“Karena wisata. Dan kami juga sangat dikagumi wisata edukasi. Karena tempat kami wisata edukasi alam. Jadi di komunitas ada individu ada,” tuturnya.

Selain itu, Batik Mahkota Laweyan pun juga bergabung dalam program Rasa Solo yang diimitasi oleh Michael Anggawinarta. Program Director Rasa Solo Michael Anggawinarta menyampaikan, pihaknya membuat program bernama Rasa Solo sebagai wadah bagi komunitas UMKM Solo agar dapat beradaptasi dengan keadaan.

Menurutnya, platform digital seperti Tokopedia mampu mengembangkan potensi asli Solo sehingga bisa bersaing dan menjadi pemenang di skala nasional.

“Rasa Solo, sebagai wadah bagi komunitas UMKM Solo, sangat terbantu dengan keberadaan Tokopedia. Berkat platform digital Tokopedia, banyak UMKM Solo, seperti Batik Mahkota Laweyan, Onde-onde Njonja Moeda, Pecel Ndeso Yu Djasmo dan masih banyak lainnya, berhasil beradaptasi dan menjadi penggerak perekonomian daerah yang terdampak pandemi,” ujarnya.

Michael menjelaskan, Rasa Solo merupakan Sentra UMKM yang memberdayakan sejumlah pegiat usaha dari Solo, seperti Batik Mahkota Laweyan, Onde-onde Njonja Moeda dan Pecel Ndeso Yu Djasmo serta masih banyak lagi.

“Rasa Solo kerap mengadakan pelatihan serta sharing session untuk para UMKM Solo. 100 persen penjualan Rasa Solo berasal dari Tokopedia. Omzet Rasa Solo lewat Tokopedia mencapai hingga ratusan juta rupiah,” sebutnya.

Batik Mahkota Laweyan sendiri, selama tiga bulan terakhir mencatat peningkatan jumlah transaksi hingga 7 kali lipat jika dibandingkan dengan awal bergabung di Tokopedia pada 2019 lalu.

Produk yang memberdayakan belasan karyawan dari sekitar Solo, serta sejumlah masyarakat difabel ini memiliki ciri khas Batik Mahkota Laweyan dengan batik motif abstrak. Salah satu produk andalan mereka adalah Batik Super Maestro.

Alpha menyebut, produk yang dijajakan melalui Tokopedia memang menyasar kelas menengah atas. Sebab, produknya merupakan jenis batik tulis yang membutuhkan proses dan pengerjaan yang khusus dan sulit. Namun, permintaan batik selama pandemi tetap ada.

BACA JUGA: Keterampilan Pembukuan Digital Diberikan ke 11.000 UMKM

“Kalau permintaan ada beberapa memang dari nasional tapi kalau ke luar negeri memang belum meski sebetulnya ada prospek dan permintaan yang warna alam tapi kami sendiri di manajemen belum siap sehingga belum direspon. Kalau individu itu ada,” jelasnya.

Selama pandemi, penjualan batik melalui Tokopedia sangat membantu. Keuntungan usahanya pun kini diatas 50 persen. Sehingga, dirinya pun menyadari transformasi digital pun harus dilakukan agar dapat beradaptasi di segala kondisi dan perubahan zaman.

“Selama ini sampai sebelum pandemi kita santai-santai aja dari sisi digitalisasi. Setelah pandemi mau tidak mau berbasis online dan ini tentunya membuat kami untuk menekuni online,” pungkasnya. (*)

Reporter: JPG Group
Editor: Suprizal Tanjung