Ekonomi & Bisnis

Barista Jadi Profesi Kekinian yang Diminati

 

batampos.id – Sebanyak 35 peserta Pelatihan Barista 2021 yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Batam di Pacific Palace Hotel dari Jumat (15/10) hingga Minggu (17/10), mengikuti praktik membuat kopi manual brew. Mengunakan dua alat brewing yakni french press dan aeropress, para peserta pelatihan terlihat sangat antusias.

Candra Setiawan, Barista Bersertifikasi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), mengupas tentang dua alat brewing untuk menyeduh kopi tersebut. Yak­ni, french press bisa menghasilkan kopi dengan hasil seduhan yang high body, rendah asam dan rasanya lebih pahit. Ia menyampaikan, untuk menentukan kualitas kopi itu bergantung pada gilingan kopi. Tingkat grinder kopi untuk metode manual brew, hasil kopinya medium dan kasar.

F. Disbudpar untuk Batam Pos
Candra Setiawan (baju batik), Barista bersertifikasi dari BNSP memberikan pengarahan membuat kopi bagi para barista yang mengikuti pelatihan di Pacific Palace Hotel, Minggu (17/10/2021).

”Barista membuat kopi french press sama dengan metode yang digunakan dengan metode tubruk. Metode ini paling jujur untuk menilai cita rasa kopi,” katanya, Minggu (17/10).
Sebelum menyeduh kopi, sebaiknya memperhatikan alat yang digunakan. Peralatan yang digunakan dalam keadaan baik dan tidak terkontaminasi, caranya dengan membilas alat tersebut mengunakan air panas.
Ada tiga langkah yang harus dipahami barista, pertama tingkat kehalusan, rasio, dan suhu air. ”Rasio 1 gram kopi diseduh dengan air 100 miligram. Untuk suhu yang digunakan, manual 85-95 derajat celcius. Jika lebih dari itu, justru manfaat kopinya akan hilang,” terangnya.
Kemudian, untuk alat aeropress, merupakan alat yang memanfaatkan udara untuk menekan bubuk kopi yang sudah diberi air. Rasio aeropress ini 1 gram kopi banding 13 miligram air.

 

”Misalnya kita pakai 35 gram kopi, kita kalikan 13 berarti airnya 325 miligram air,” sebutnya.
Selain mengajarkan manual brew, ia juga mempraktikkan cara membuat kopi espreso dengan mengunakan alat rock espresso. Espresso adalah kopi yang mempunyai karakter rasa yang strong atau kuat. Espresso yang baik memiliki rasa yang seimbang (balance) yaitu memiliki rasa pahit, asam, dan manis.
”Membuat espresso mengunakan kopi yang halus, suhu airnya 93 derajat celcius pada mesin espresso. Namun, jika mengunakan alat rock espresso, suhunya 98 derajat celcius,” terangnya.
Menurutnya, menambah bahan makanan di dalam kopi sah-sah saja dan digandrungi masyarakat. Sejak 2016 sampai sekarang, tren kopi campuran sangat mudah ditemukan di kedai kopi atau coffee shop.
”Tahun 2016 mulai tren kopi kekinian. Pengembangan susu dan gula aren memiliki nilai ekonomi dan menjanjikan,” katanya.
Baginya, tak ada batasan mengembangkan kopi, selama tidak membahayakan pencinta kopi. ”Terpenting bahan campuran kopi berbahan baku food grade,” terangnya.
Di depan peserta ia menjelaskan, arabika dan robusta merupakan jenis kopi yang dikenal masyarakat. Dua jenis kopi ini memiliki perbedaan yang signifikan. Untuk arabika memiliki cita rasa asam dan kaya rasa, sedangkan robusta memiliki rasa pahit dan tidak memiliki kaya rasa.
”Pada rosbusta, proses sangrainya level roasting tinggi menghasilkan warna hitam, sangat enak dicampur gula, krimer, susu,” ujar pria yang berprofesi sebagai Assessor Kompetensi BNSP tersebut.
Di Eropa, profesi barista paling digemari ke-3 setelah profesi artis dan pemain sepak bola. Di Indonesia, sejak tiga tahun yang lalu, barista sudah menjadi profesi. Seorang barista tidak hanya dituntut membuat kopi, namun harus mempunyai kompetensi sehingga produk yang dibuat memiliki nilai jual.
”Ada enam konsep kompetensi yakni pengetahuan, pemahaman, kemampuan, nilai, sikap, dan minat,” sebutnya.
Ketua Pelaksana Pelatihan Barista Tahun 2021, Wuryanta, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk melatih barista pemula di Batam. Pelatihan kali ini mengundang narasumber yang berpengalaman di bidangnya yaitu Direktur Eksekutif Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Kota Batam, Edi Sutrisno, dari Batam Tourism Polytechnic, Farhandika Ramadhan, Batam Tourism Polytechnic, Taufik Bachrul Ulum Lubis, dan Barista dari Jakarta, Candra Setiawan.
”Untuk materi yang pertama disampaikan Pak Edi membahas Batam sebagai tujuan pariwisata asing dan di hari terakhir praktik membuat kopi,” terang pria yang juga menjabat sebagai Kepala Bidang (Kabid) Ekonomi Kreatif Disbudpar Kota Batam.
Kepala Disbudpar Kota Batam, Ardiwinata, dalam sambutannya mengatakan, kopi dan soto merupakan produk andalan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). Ia berharap, kegiatan ini dapat dimanfaatkan oleh peserta yang berasal dari generasi muda Kota Batam sekaligus untuk mengasah keterampilan dalam menyajikan kopi.
”Dalam kondisi Covid-19, harus terapkan beberapa trik berbisnis yaitu beradaptasi dengan kondisi saat ini, dan tentunya berinovasi,” katanya.
Ardi meminta ke depan Kota Batam mempunyai kopi unggulannya sendiri seperti daerah lainnya. ”Temukan racikan kopi khas Batam, kasih nama, saya dorong jadi produk unggulan,” tegasnya. (*)

 

Reporter : YASHINTA
Editor : RATNA IRTATIK