Feature

Melihat Perjuangan Tenaga Medis dan Petugas Keamanan di Lokasi Karantina PMI, Selalu Disiplin Prokes dan Siaga 24 Jam

Petugas Medis dan Petugas Keamanan gabungan masih berkutat dengan pengawasan dan pemeriksaan kesehatan Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang menjalani karantina di Rusunawa Badan Pengusaha (BP) dan Pemko di Kota Batam. Mereka masih berjuang keras sebab gelombang kepulangan PMI ke tanah air melalui Batam masih terlampau tinggi. Kedisiplinan protokol kesehatan menjadi modal utama untuk melindungi diri dan keluarga dari wabah yang menggemparkan dunia ini.

***

F. DALIL HARAHAP/BATAM POS
Pekerja migran dari Malaysia yang dikarantina di Rusun Tanjunguncang, Batuaji.

Anggitha menarik napas cukup dalam. Dokter yang bertugas sebagai koordinator petugas medis di lokasi rusunawa tempat karantina PMI di kota Batam ini berpikir cukup lama ketika ditanya sudah berapa banyak PMI yang menjalani karantina di lokasi Rusunawa selama pandemi ini mewabah. Cukup lama baginya untuk menjawab. “Wah sudah tak terhitung lagi. Banyak sekali (PMI yang menjalani karantina semenjak Covid-19 mewabah. Puluhan ribu orang,” ujarnya.

Ya semenjak pandemi Covid-19 mewabah, Pemerintah dan Gugus Tugas penanganan Covid-19 kota Batam menyediakan tiga rusunawa yakni rusunawa BP Batam, rusunawa Pemko Batam Tanjunguncang I dan Rusunawa Pemko Batam Tanjunguncang II sebagai lokasi karantina PMI. Setiap PMI yang kembali ke tanah air melalui Batam harus melalui karantina selama delapan hingga 14 hari di lokasi karantina tersebut, sampai ada hasil yang pasti kesehatan mereka. PMI harus menjalani dua kali test swab sebelum diputuskan dikembalikan ke daerah asal atau harus menjalani perawatan medis terlebih dahulu.

Selama pandemi ini mewabah, tiga rusunawa tersebut nyaris tak pernah kosong dengan rombongan PMI. Jumlah paling sedikit dibawa 20 orang dan kebanyakan memang diatas 500 orang. Terakhir, Senin (18/10) ada 1.127 orang. Yang terkonformasi positif juga tidak sedikit. Dalam sepekan bisa lebih dari 20 PMI yang dievakuasi ke Rumah Sakit Khusus Infeksi (RSKI) Galang karena positif Covid-19 yang dibawa dari luar negeri.

Ini tentunya jadi tantangan tersendiri bagi petugas medis dan tim keamanan gabungan di lokasi rusunawa tersebut. Setiap hari mereka harus berhadapan dengan ribuan PMI yang datang silih berganti tersebut. Peluang terjangkit sangat tinggi karena berhubungan langsung dengan para PMI tersebut. Banyak tenaga medis (Nakes) yang terpapar Covid-19 karena tugas dan tanggungjawab tersebut.

“Hampir semua (nakes) sudah pernah kena. Kalau sudah kena tentunya harus dirawat juga dan sementara waktu tugas mereka digantikan oleh nakes lain,” kata dr Anggitha.

Namun demikian Nakes di sana tak pernah menyerah atau putus asa. Bermodalkan alat pelindung diri (APD) dan disiplin protokol kesehatan yang super ketat mereka terus melayani hingga saat ini. Mereka tetap semangat meskipun nakes di rumah sakit ataupun pusat layanan kesehatan lain sudah bernapas lega karena berkurangnya pasien Covid-19. Mereka tetap fokus bekerja karena tugas dan tanggungjawab mereka juga menjadi kunci untuk menekan penyebaran Covid-19 di tanah air. Jika satu saja PMI yang terkonformasi positif Covid-19 lolos maka akan menciptakan cluster terbaru yang tentunya akan kembali meningkatkan kasus Covid-19 di tanah air.

Sebagai garda terdepan untuk memerangi penyebaran Covid-19, Nakes dan petugas keamanan gabungan di sana juga menerapkan aturan yang tegas kepada rombongan PMI yang dikarantina. Aktifitas PMI benar-benar dibatasi di lokasi karantina itu. Sebelum hasil swab menyatakan negatif atau bebas dari Covid-19, mereka tidak diperkenankan berkumpul ataupun berkeliaran di luar lokasi karantina. “Itu selama delapan sampai 14 hari tergantung (cepat atau lambatnya) hasil swab yang keluar,” ujar dr Anggitha.

Selama berada di dalam ruangan karantina, PMI juga wajib mengenakan APD dan disiplin Prokes. Kedisiplinan Prokes menjadi fokus perhatian petugas medis di sana agar wabah ini tidak menular dari satu PMI ke PMI yang lainnya. Makan, minum serta nutrisi untuk menjaga imun PMI juga diperhatikan dengan baik.

Fokus perhatian untuk PMI semakin ditingkatkan meskipun penyebaran Covid-19 di kota Batam terus melandai. Pemerintah tak mau kecolongan sehingga menerapkan aturan yang cukup ketat bagi PMI yang kembali ke tanah air. Saat tiba di pelabuhan ataupun bandara, PMI harus menjalani pemeriksaan swab pertama. Setelah berada di rusunawa lokasi karantina mereka juga diswab sekali lagi agar hasilnya lebih pasti. Tidak itu saja, untuk memutuskan mata rantai penyebaran Covid-19 ini, sampel PMI yang terkonformasi positif juga menjalani pemeriksaan yang berkali-kali. Ini juga sebagai upaya untuk mengetahui varian apa yang dibawa PMI tadi. Pemerintah tak mau ada varian terbaru masuk ke tanah air.

“Untuk pengecekan lebih lanjut sampel PMI yang dicurigai (varian terbaru) kita kirim ke Litbangkes. Setiap sampel PMI yang positif kita kumpul dan lakukan pengecekan ulang untuk memastikan variannya. Ini juga sebagai upaya untuk mencegah masuknya varian terbaru ke tanah air,” ujar kepala BTKLPP Batam Budi Santosa. (*)

 

REPORTER : EUSEBIUS SARA
editor: tunggul