Opini

Mari Selamatkan Dunia Kita!

batampos.id – PERUBAHAN iklim menjadi ancaman dan tantangan terbesar pada zaman kita. Masyarakat seluruh dunia, termasuk di Indonesia, sudah merasakan dampak buruk perubahan iklim akibat kenaikan suhu 1,2 derajat.

Kita hampir kehabisan waktu untuk menghentikan bahaya dari bencana perubahan iklim. Nyawa dan kehidupan manusia dipertaruhkan. Saatnya ”kode merah” bahaya kemanusiaan dinyalakan seperti yang diutarakan Sekjen PBB. Kebakaran hutan, gelombang panas, kemarau panjang, dan kenaikan permukaan laut akan kian parah, terutama jika kita melampaui kenaikan suhu global rata-rata 1,5 derajat. Gesekan setiap derajat membuat perbedaan.

Kita tahu apa yang perlu kita lakukan. Kita perlu komitmen dan aksi nyata untuk meninggalkan batu bara, mempercepat transisi ke kendaraan tanpa emisi, menghentikan deforestasi, dan mengatasi emisi metana. Kita juga perlu dukungan dana. Negara-negara maju perlu memenuhi target anggaran USD 100 miliar untuk membuka lebih banyak kegiatan pengurangan emisi dan aksi iklim di seluruh dunia berkembang.

Dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama, telah bergabung dengan perwakilan lintas agama dan ilmuwan di Vatikan, Roma, untuk bersama-sama menyerukan hal itu.

Menanggapi tantangan tersebut, pemimpin dunia akan bertemu di Glasgow, Inggris, pada 1-2 November sebagai bagian dari konferensi global besar untuk mengatasi perubahan iklim, COP26. Ini adalah kesempatan terakhir kami yang terbaik untuk menjaga pemanasan global di bawah 1,5 derajat. Dalam waktu kurang dari satu bulan pada 12 November, semua akan selesai. Saatnya memberi dorongan terakhir.

Saya ingin mengapresiasi kerja positif yang telah dilakukan di Indonesia. Khususnya komitmen Indonesia terhadap Net Zero (emisi nol bersih) untuk berhenti menambah lebih banyak emisi yang menyebabkan perubahan iklim pada 2060 atau lebih cepat. Bersama Inggris, Indonesia juga memimpin dialog FACT (Forest, Agriculture and Commodity Trade) yang membahas langkah mempromosikan perdagangan komoditas berkelanjutan dan melindungi hutan.

Indonesia telah membuat kemajuan yang menakjubkan dalam mengurangi laju deforestasi, termasuk melalui moratorium dan komitmen untuk menjadikan sektor hutan dan tata guna lahan sebagai penyerap karbon bersih pada 2030. Indonesia juga mengembangkan potensi energi baru terbarukan yang sangat besar, termasuk oleh Kementerian Energi yang memimpin dialog Friends of Indonesia Renewable Energy dan bekerja sama dengan Mentari, program Kemitraan Energi Rendah Karbon Inggris-Indonesia.

Indonesia tidak sendiri. Dunia telah bangkit akibat tantangan darurat ini. Sekitar 70 persen dari ekonomi dunia, mewakili 54 persen emisi CO2 global, kini berkomitmen pada emisi nol bersih pada pertengahan abad ini. Energi terbarukan yang bersih, aman, dan hijau diterapkan dengan cepat di banyak negara karena pembangkit listrik tenaga batu bara yang kotor dan tidak efisien ditutup dan lebih banyak mobil yang bertenaga listrik. Lebih dari 85 negara telah mengajukan janji iklim nasional yang diperbarui untuk 2030.

Tenaga surya sekarang menjadi sumber listrik termurah di hampir setiap negara di dunia. Lebih dari 90 persen kapasitas pembangkit listrik yang ditambahkan di seluruh dunia tahun lalu menggunakan energi baru terbarukan. Negara G7, Jepang, Korea Selatan, dan sekarang China juga telah sepakat untuk menghentikan pendanaan proyek batu bara di luar negeri. Kenaikan harga gas alam dan batu bara baru-baru ini telah menunjukkan bahaya ketergantungan yang berkelanjutan pada bahan bakar fosil.

Ada peluang besar bagi Indonesia untuk menjadi negara adidaya di bidang iklim dan rendah karbon. Indonesia memiliki salah satu potensi energi baru terbarukan terbesar di dunia, sekitar enam kali lebih besar dari total pembangkit listrik Indonesia saat ini. Terdapat beberapa deposit terbesar seperti nikel dan mineral lainnya yang dibutuhkan untuk membuat teknologi energi baru terbarukan dapat bekerja.

Jakarta sudah menguji coba bus listrik yang dengan bangga didukung oleh pemerintah Inggris. Bisnis di Indonesia mulai memimpin era kendaraan listrik: Bluebird, Gojek, Viar, dan Selis. Pindah ke jalur pembangunan rendah karbon akan membuat Indonesia mendapat manfaat dari energi yang lebih murah, sebuah keuntungan besar bagi manufaktur dan bisnis, serta bagi konsumen. Langkah ini bahkan belum termasuk manfaat yang lebih luas dari ekonomi rendah karbon, seperti lebih banyak pekerja terampil dengan kualitas lebih tinggi; makin sedikit polusi udara dan air, dan kesehatan yang lebih baik.

Tentu saja gambaran positif ini baru satu sisi dari sebuah cerita. Dunia belum berbuat banyak untuk mengatasi perubahan iklim. Janji 2030 kami masih kurang ambisius untuk menjaga dunia kita, bahkan hanya untuk tetap pada 1,5 atau 2 derajat pemanasan. Jika kita melebihi batas pemanasan itu, konsekuensinya akan menjadi ekstrem dan menghancurkan. Secara global kita perlu bergerak hingga 4–6 kali lebih cepat daripada saat ini untuk menghindari dampak terburuk dari perubahan iklim.

Negara perlu mengambil tindakan cepat. Saya bangga dengan rekor Inggris dalam memangkas setengah emisi kita sejak 1990. Tapi, itu saja tidak akan cukup. Semua negara harus mengambil peran dan berkomitmen pada tindakan yang lebih ambisius untuk mengurangi emisi, terutama untuk mengurangi separo emisi pada 2030 dan mempertahankan jangkauan 1,5 derajat.

Pemerintah perlu mendukung dan mempercepat tren yang sudah terjadi. Kita membutuhkan ekonomi terbesar, khususnya negara-negara G20, untuk meletakkan rencana baru dan ambisius di atas meja. Karena itu saja bisa membuat kita tiga perempat jalan untuk menjaga 1,5 derajat dalam jangkauan. Kami ingin bekerja sama dengan Indonesia sebagai presiden G20 tahun depan untuk membantu memastikan G20 tetap fokus pada darurat iklim dan membangun momentum dari COP26.

Kami berada di sini untuk mendukung Indonesia. Kita semua tahu tentang potensi besar dari negara yang hebat ini. Oleh karena itu, saya yakin masa depan bangsa akan lebih baik jika kita mengambil tindakan yang berani, sekarang. (*)

Oleh: Oleh OWEN JENKINS ,Duta Besar Inggris untuk Indonesia & Timor Leste