Internasional

Taliban Janjikan Akses Pendidikan ke Perempuan

ANAK-anak perempuan di Afghanistan kembali ke rumah mereka usai pulang sekolah di daerah Chashma Dozak di
provinsi Badghis pada 16 Oktober 2021. (Hoshang Hashimi /AFP)

batampos.id – ’’Afghanistan kini adalah satu-satunya negara di dunia yang melarang pendidikan untuk anak perempuan.’’ Itu adalah penggalan kutipan surat terbuka yang ditulis oleh Malala Yousafzai. Surat tersebut ditujukan untuk otoritas Taliban, G20, para pemimpin negara muslim dan beberapa tokoh lainnya.

Taliban sudah lebih dari sebulan berkuasa. Namun janji mereka untuk membiarkan anak perempuan memperoleh pendidikan belum terealisasi sepenuhnya. Hal itu membuat Taliban menuai banyak kritikan mulai dari PBB, aktivis hingga lembaga HAM. Yousafzai meminta agar para pemimpin negara muslim untuk menjelaskan pada Taliban bahwa agama tidak membenarkan untuk melarang anak perempuan pergi sekolah.

’’Untuk otoritas Taliban, cabut larangan de facto atas pendidikan anak perempuan dan buka kembali sekolah menengah secepatnya,’’ tulis peraih nobel perdamaian tersebut Minggu (17/10) seperti dikutip Agence France-Presse. Petisi yang menyertai surat terbuka itu telah ditandatangani oleh lebih dari 640 ribu orang.

Di hari yang sama, Juru Bicara Kementerian Dalam Negeri Taliban Saeed Khosty menjelaskan bahwa semua sekolah dan universitas akan dibuka secepatnya. Namun kapan tanggal tepatnya, Khosty tidak menjelaskan. Hal itu akan diumumkan oleh Kementerian Pendidikan.

’’Semua perempuan dan remaja putri akan kembali ke sekolah dan pekerjaan mengajarnya,’’ jelasnya saat diwawancarai oleh Al Jazeera. Tenaga pendidik perempuan saat ini juga bernasib sama, belum boleh mengajar.

Taliban berdalih melarang perempuan kembali ke sekolah sampai lingkungan pendidikan dinyatakan aman. Pengecualian hanya anak perempuan jenjang SD yang boleh sekolah kembali. Di lain pihak, lelaki boleh kembali ke sekolah sejak SD hingga perguruan tinggi.

Langkah Taliban mengingatkan momen ketika mereka berkuasa pada 1990an lalu. Yaitu melarang semua remaja putri dan perempuan untuk bekerja dan mendapat pendidikan. Saat ini pun, semua anggota kabinet sementara Taliban adalah laki-laki. Mereka menjelaskan bahwa perempuan akan masuk kabinet, tapi nanti. ’’Janji yang tidak ditepati menyebabkan mimpi buruk bagi perempuan dan remaja putri di Afghanistan. Mereka harus jadi pusat perhatian,’’ tegas Sekjen PBB Antonio Guterres beberapa waktu lalu.

Sikap Taliban yang enggan berubah itu juga menuai kritikan Qatar dan Pakistan. Dua negara itu sejatinya mendukung Taliban. Mereka menyerukan pada komunitas internasional untuk menjalin hubungan dengan Taliban. Namun jika Taliban bersikap seperti sekarang, usaha Qatar dan Pakistan itu sia-sia. (*)

Reporter: JP GROUP
Editor: GALIH ADI SAPUTRO