Metropolis

Masih Ada 484 PMI di Karantina di Batam

Ratuasan pekerja Migran Indonesia dari Malaysia menjalani pemeriksaan oleh tim gabungan, Petugas Medis , TNI-Polri dan Intansi terkait saat tiba di Pelabuhan Internasional Batamcenter, Kamis (21/5). Ratusan PMI tersebut dibawa ke tanjunguncanguntuk menjalani karantina. F cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.id– Separuh Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang menjalani karantina telah meninggalkan lokasi karantina Rusunawa BP dan Pemko Batam di Tanjunguncang, Batuaji, kota Batam. Sebagian besar yang telah meninggalkan lokasi rusunawa ini dinyatakan bebas dari Covid-19. Yang terkonformasi positif yang harus menjalani perawatan medis di rumah sakit sebanyak 29 orang.

BACA JUGA: Melihat Perjuangan Tenaga Medis dan Petugas Keamanan di Lokasi Karantina PMI, Selalu Disiplin Prokes dan Siaga 24 Jam

dr Anggitha, petugas medis yang menangani kesehatan para PMI di Rusunawa sebut sebelumnya jumlah PMI yang dikarantina di atas seribuan orang. Namun dalam dua hari terakhir sudah banyak yang dipulangkan karena dinyatakan bebas dari Covid-19 setelah menjalani dua kali test swab.”Sebagian besar negatif. Yang positif terakhir ada 29 orang. Sisa di rusunawa hari ini ada 484 orang,” ujarnya.

Mereka yang masih menjalani karantina ini adalah PMI yang baru tiba baik di akhir pekan ataupun di awal pekan lalu. Mereka umumnya sudah menjalani swab kedua namun masih menunggu hasilnya. Jika negatif mereka juga diperkenankan kembali ke daerah asal masing-masing.

Catatan petugas medis di lokasi rusunawa, sudah puluhan ribu PMI yang ditampung di lokasi karantina tersebut semenjak pandemi Covid-19 mewabah. Sebagian besar memang bebas dari paparan Covid-19 namun yang terjangkit juga cukup banyak. Dalam satu trip pemeriksaan sampel, selalu ada sampel yang terkonformasi positif dengan angka presentase sekitar satu sampai dua persen. Penangan PMI yang terkonformasi positif ini juga berbeda sebab mereka lebih diprioritaskan demi mencegah masuknya varian terbaru ke tanah air. (*)

REPORTER : EUSEBIUS SARA
editor: tunggul