Feature

Tak Datang Melayang, Tak Datang Bergolek

Mengenang Ruslan Ali Wasyim, Wakil Ketua II DPRD Kota Batam

Ruslan Ali Wasyim semasa hidup mendayung sampan di kampung halamannya di kampung nelayan Telukbakau, Kelurahan Kabil, Kecamatan Nongsa, 2019 lalu. (Yusuf Hidayat/Batam Pos)

Yang paling berkesan dari sosok Ruslan Ali Wasyim adalah sikap ramahnya kepada siapa saja. Bersikap terbuka dan berkemauan kuat untuk maju. Kini, putra Pantai Timur, Nongsa, itu telah berpulang ke haribaan-Nya selamanya. Ruslan menghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Batam Pengusahaan (RSBP) Batam, Selasa (19/10) malam sekitar pukul 21.35 WIB setelah sempat dirawat beberapa hari karena sakit.

Reporter: YUSUF HIDAYAT
Editor: MOHAMMAD TAHANG

“YANG pipih tidak datang melayang, yang bulat tidak datang bergolek.” Pepatah Melayu yang bermakna bahwa segala sesuatu dalam hidup butuh proses dan kerja keras. Pepatah inilah yang melekat dalam jiwa seorang Ruslan Ali Wasyim, selama hidupnya. Ini menjadi gambaran sosok Bang Ruslan_ begitu sapaan akrabku kepada almarhum.

“Tidak datang dengan ongkang-ongkang kaki,” suatu ketika Bang Ruslan berujar kepada penulis saat baru terpilih sebagai ketua DPD Partai Golkar Kota Batam di rumahnya di Perumahan Costarica, Batam Kota didampingi sang istri, Ade Sulistiani, Selasa (14/6/2016).

Ruslan memang lahir dan besar di Batam. Tepatnya di kampung nelayan Telukbakau, Kelurahan Kabil, Kecamatan Nongsa. Di mana masyarakat dan kulturnya adalah Melayu. Bapaknya, Muhammad Ali Wasyim adalah seorang nelayan yang juga tokoh masyarakat di kampungnya dari Suku Bugis Bone, menikahi Siti Zalehah yang berdarah Melayu.

“Meskipun bapak seorang nelayan tapi dia tak mau anaknya jadi seperti dia, cukup dia yang jadi nelayan. Sehingga tak pernah mengajak aku melaut,” kata sulung dari delapan bersaudara ini.

Meski dilarang melaut dan tidak dikenalkan dengan alat tangkap nelayan tapi Ruslan kecil selalu mencuri-curi ikut tetangganya melaut. “Jadi, saya tahu cara mancing, menjaring dan lainnya, tahunya dari orang lain, bukan dari bapak,” kata pria yang selalu ramah kepada siapa saja itu.

Dia tumbuh dan hidup seperti anak kampung nelayan pada umumnya di masa itu. Akrab dengan pantai dan lautnya. Maka tak heran, Bang Ruslan minta difotokan sedang mendayung sampan di kampung halamannya 2019 lalu. “Biar orang tahu saya anak nelayan yang juga bisa “mengemudikan” sampan,” sembari tertawa mengucapkan kata bersayap itu. Hasil fotonya dipajang di baliho di beberapa lokasi strategis.

Bang Ruslan mengaku lebih banyak diasuh neneknya, Zaitun Ismail, meskipun rumah neneknya berdekatan dengan rumah orangtuanya. Dari neneknya, Ruslan mulai dikenalkan dengan baca tulis terutama baca Al-Qur’an. “Kalau ngaji tak boleh tidak, betul-betul strenght (keras, red),” tuturnya.

Waktu itu, kata Ruslan, pendidikan umum dianggap belum bisa menunjang hidup. “Listrik aja belum ada. (Untuk penerangan) kami pakai kampu petromax, yang kata orang Melayu lampu Serongkeng,” ungkapnya sambil terkekeh.

Namun, saat usianya sudah menginjak usia enam tahun, Ruslan diajak pamannya pindah ke Seiharapan agar bisa sekolah di SD Kartini 1, Sekupang. Padahal di Batubesar sudah berdiri sekolah dasar negeri. Enam tahun dia sekolah di sekolah yang bernaung di bawah Yayasan Keluarga Batam tersebut.

Kata Ruslan, sekolah ke Sekupang seperti orang yang merantau. Karena pulang ke Telukbakau setahun sekali. Penyebabnya, akses transportasi di zaman itu tidak semudah sekarang. Harus melewati jalan tanah dan hutan. “Pulangnya seperti sekarang ini (puasa),” ucapnya kala itu. “Orangnya bapak yang jemput pakai motor CB lewat Seiladi. Dulu (dam) Seiladi adalah track motor cross,” lanjutnya.

Ini dibenarkan Ade. Dulu, sebelum Dam Seiladi dipenuhi air, merupakan arena balap motor cross. “Iya, benar. Kalau udah hari Minggu, saya sering diajak keluarga nonton motor cross di sana, bawa tikar dan rantang segala,” kata Ade, yang waktu kecilnya tinggal di Seiharapan, Sekupang.

Karena minimnya jalan darat, sambung Ruslan, jalan lain menuju Nongsa lewat jalur laut. Naik pompong dari Pelabuhan Batuampar. “Kebetulan bapak ada kerja di sana.” tuturnya.

Lulus dari SD Kartini 1, Ruslan melanjutkan ke SMP Pertamina di Tanjunguban. Di Tanjunguban Ruslan ngekos. Bagi warga Nongsa dan sekitarnya yang dulu masuk wilayah Batam Timur, Tanjunguban bukanlah tempat asing, karena warga Tanjunguban dan Nongsa sudah berinteraksi dalam bisnis. Terutama kopra dan karet.

“Kebetulan kakek punya sepetak kebun karet dan kelapa. Jadi, keluarga kami sudah terbiasa nyeberang ke Tanjunguban. Sesekali dijual ke Singapura, smokel (smuggle, selundup)” ungkapnya lantas tertawa.

“Kalau orang Batam Barat lebih banyak ke Belakangpadang,” sambung bapak empat putri dan dua putra ini: Sukma Intan Baizurah, 23; Aulia Rahmawati Putri, 19; Ibna Fatimah Zahro, 17; dan Annisa Puan Maharani, 14; Ibnu dan Bibin.

Tiga tahun Merantau ke Tanjunguban dan lulus, Ruslan melanjutkan sekolah ke SMK Kartini Batam, yang waktu itu baru dibangun di Patam Lestari, Sekupang. Dia mengambil jurusan Kelistrikan. “Saya angkatan pertama,” kata pria berbadan tinggi besar ini.

Seangkatan dengannya ada 60 murid dengan jurusan berbeda. Di zaman inilah, Ruslan mulai bersinggungan dengan politik. Awalnya diajak ikut kegiatan Golkar oleh sahabatnya yang bernama Kusuma dan Endi, putra dari Raden Sulaiman (almarhum), ketua DPD Golkar Batam, saat itu.

“Dari merekalah saya mulai dipengaruhi untuk menjadi bagian dari Golkar,” ungkap Ruslan.

Sejak itu, oleh Endi, Ruslan sering diajak untuk bantu-bantu jika ada kegiatan Golkar di Batam. Misalnya saat ada kunjungan menteri dari Golkar maupun kampanye. “Menteri Orde Baru kan banyak fungsionaris Golkar. Pak Harmoko yang sering ke Batam. Saya bantu-bantu pasang umbul-umbul, bendera dan lainnya,” kenangnya.

Dari momen-momen itulah, ketertarikannya terhadap dunia politik semakin jadi. Apalagi BJ Habibie yang kala itu menjabat ketua Otorita Batam sering berkunjung ke sekolahnya yang dikelola oleh adiknya, Sri Sudarsono. Presiden RI ke-3 itu juga dikenal sebagai sesepuh Golkar dan merupakan kader Golkar yang bersinar di zaman Orde Baru. “Dua tiga kalilah Pak Habibie memberi motivasi ke kami saat upacara. Sering juga pak Habibie bawa tamunya ke sekolah.”

“Kami dimotivasi Pak Habibie agar bisa mengisi Batam yang dirancang menjadi kota industri dan alih kapal,” imbuhnya.

Sepak terjang Ruslan di dunia perpolitikan Batam dimulai dari kampungnya. Dia masuk dalam struktur Komesariat Desa bagian Kepemudaan Golkar tahun 1997. Tugasnya menggalang para pemuda dan mendukung kegiatan kepartaian tingkat desa. “Saat itu saya mulai ikut pelatihan kader dan pelatihan jurkam (juru kampanye).”

Tahun 2004, Ruslan diberi wewenang menjadi ketua DPC Golkar Kecamatan Nongsa. Sebenarnya, kata dia, Golkar tak asing di keluarganya, karena bapaknya juga “Orang Golkar”.

Sibuk jadi pengurus partai, tidak membuatnya lupa untuk melanjutkan pendidikannya. “Sebelum sarjana hukum, saya sempat kuliah di YKP (Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKP) Yogya,” ungkapnya. Bagi dia, pendidikan tinggi cukup penting menunjang karir dan membangun kapasitas diri serta bertanggung jawab atas ilmu yang telah diraih.

Pemilu 2004, Ruslan mencalonkan diri menjadi anggota legislatif Kota Batam. Dia memperoleh suara terbanyak nomor 2, tapi tidak bisa duduk sebagai anggota legislatif karena sistem yang digunakan adalah berdasarkan nomor urut.

Tak patah arang, tahun 2009, Ruslan kembali mencalonkan diri sebagai anggota legislatif. Kali ini, dia berhasil memperoleh suara sebanyak 5.638 suara, yang membawanya duduk sebagai anggota DPRD Kota Batam periode 2009-2014. Dia juga terpilih pula sebagai Sekretaris Komisi I. Ini merupakan suara nomor 2 terbanyak se-Kota Batam.

“Butuh kerja keras dan sistematis membangun itu semua. Yang pipih tidak datang melayang, yang bulat tidak datang bergolek,” ucap Dewan Pertimbangan DPD 2 Kota Batam Partai Golkar dengan logat Melayu kental.

Selamat jalan Bang Ruslan. (*)