Feature

Vaksinasi Covid-19 dan Upaya Menekan Transmisi Virus saat Pandemi

Vaksinasi Covid-19 adalah bagian penting dari upaya penanganan pandemi yang telah berlangsung sekitar satu setengah tahun ini. Tujuannya, mengurangi transmisi atau penularan virus dengan membentuk kekebalan komunal.

***

Warga mendapatkan suntikan vaksin Covid-19 di Restoran Puas Hati, Batam Center, Sabtu (31/7) lalu. Vaksinasi jadi salah satu cara melawan penyebaran Covid-19. F. Immanuel Sebayang

Adi, pria berperawakan tinggi itu mengeluhkan badannya terasa tidak nyaman, pertengahan Juli 2021 lalu. Ia mengaku, tubuhnya menggigil, demam.

Esok harinya, Adi pilih datang ke apotek, membeli obat demam. Dua hari meminum obat demam berjenis Ibuprofen, demamnya menurun. Namun, ia mengeluhkan batuk yang gantian menyerang. Kondisi itu terus dia alami selama sekitar satu pekan.

Merasa batuknya tak kunjung sembuh, Adi khawatir terpapar Covid-19. Bapak satu anak itu kemudian mengajak istrinya untuk mendatangi Asrama Haji Batam Center yang menjadi lokasi karantina terpadu bagi pasien Covid-19 tanpa gejala di Batam.

Kala itu, ia datang ke sana hanya untuk mengikuti tes polymerase chain reaction (PCR), untuk mengetahui apakah ia terpapar virus corona atau tidak. Adapun, sampel yang diambil di Asrama Haji kemudian dikirim ke RSUD Embung Fatimah Batam di Batuaji untuk dilakukan pengujian.

BACA JUGA: Amsakar: Ayo, Terus Ajak Kerabat dan Tetangga untuk Divaksin

Pagi hari diambil sampel dari mulut dan hidung, malam harinya warga Batuampar ini sudah mendapatkan hasilnya. Melalui sambungan telepon, teman Adi yang punya relasi dengan petugas medis di RSUD Embung Fatimah, mengabarkan informasi yang tak diharapkannya. Ia dan istrinya terpapar Covid-19.

“Meski sudah menduga-duga, tetap saja saya kaget. Tapi, saya yakin saja, insyaallah sembuh,” kata Adi, salah satu penyintas Covid-19 di Kota Batam.

Keyakinan Adi bukan tanpa alasan. Ia mengaku telah mendapatkan suntikan vaksin Covid-19 jenis Sinovac, sekitar tiga pekan sebelum merasakan gejala demam tersebut.

“Karena dari berbagai literatur yang saya baca, orang yang sudah divaksin Covid-19 kalau sampai terpapar, biasanya gejalanya ringan, asalkan tak punya penyakit penyerta yang serius,” tutur pria yang pernah menjadi jurnalis di salah satu media cetak di Kota Batam tersebut.

Benar saja, selama sekitar dua pekan menjalani isolasi mandiri bersama istrinya di rumah, Adi mengaku tak mengalami keluhan serius. Bahkan, penggemar olahraga futsal ini menyebut keluhannya berangsur hilang dengan cepat.

“Paling cuma batuk-batuk itu saja sekitar minggu pertama. Tapi saat menjalani isolasi malah batuk udah berkurang, badan juga terasa sehat saja,” ujarnya.

BACA JUGA: Ikuti Aturan Selama Masa PPKM, Anak di Bawah 12 Tahun Belum Bisa Masuk Bioskop

Adi mengaku bersyukur karena sudah mendapatkan suntikan vaksinasi Covid-19 sebelum terpapar wabah. Sehingga, ia dan istrinya yang juga sudah divaksin saat terpapar, dapat sembuh dengan waktu yang lumayan cepat.

“Karena seingat saya enggak sampai dua minggu, kami tes lagi dan hasilnya udah negatif,” katanya.

Apa yang dialami Adi dan mungkin para penyintas Covid-19 lain di Batam, adalah berkah dari program vaksinasi Covid-19 yang membuat imun tubuh seseorang jadi lebih baik dalam merespons virus yang masuk ke tubuh.

Tak mengherankan jika kemudian vaksinasi Covid-19 diklaim sebagai upaya bersama dalam menangani pandemi secara menyeluruh dan terpadu. Hal itu juga meliputi aspek pencegahan, bersandingan dengan anjuran penerapan protokol kesehatan 3M (memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan), serta upaya 3T (tes, telusur, tindak lanjut).

Dr Ayu Ratna Sari dari Klinik Vaksin Rumah Sakit Awal Bros (RASB) Batam, menjelaskan, tujuan utama vaksinasi adalah mengurangi transmisi atau penularan Covid-19 dengan mencapai kekebalan kelompok masyarakat (herd immuninity) untuk melindungi warga agar tetap produktif secara sosial dan ekonomi.

Menurut survei persepsi masyarakat terhadap vaksin Covid-19 oleh Kemenkes, WHO, dan Unicef, terdapat kelompok masyarakat yang menerima vaksinasi, jumlahnya di angka 64,8 persen, sedangkan tidak mengetahui atau menerima secara pasif yaitu 27,6 persen, dan menolak semua vaksin 7,6 persen.

“Maka, vaksinasi sangat diperlukan guna mengurangi penyebaran, mengurangi transmisi atau penularan Covid-19. Vaksin juga menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat mengurangi transmisi atau penularan Covid-19 dengan lebih cepat,” katanya.

Pelaksanaan vaksinasi dilakukan secara bertahap setelah mendapatkan persetujuan Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) berdasarkan hasil uji klinik di Indonesia atau luar negeri. Proses distribusi juga dilakukan sejak Januari lalu secara bertahap guna memastikan vaksin telah tersedia di fasilitas kesehatan ketika vaksinasi mulai dilaksanakan.

“Yang utama, vaksin juga diberikan kepada masyarakat usia lanjut karena kelompok ini yang berisiko mengalami keparahan dan kematian bila terinfeksi,” jelas Ayu.

Ia menambahkan, skema penahapan pemberian vaksin diperuntukkan bagi garda terdepan yang berisiko tinggi, yaitu tenaga kesehatan dan petugas pelayanan publik. Kemudian, vaksin diberikan kepada seluruh masyarakat seperti yang sudah berjalan saat ini. “Lalu secara bertahap akan diperluas seiring dengan ketersediaan vaksin dan izinnya,” tambahnya.

Guna mengetahui cara vaksin berkerja, secara umum yaitu merangsang kekebalan tubuh secara spesifik terhadap bakteri atau virus. Sehingga bila terpapar, seseorang akan terhindar dari penularan atau sakit berat akibat penyakit tersebut.

“Reaksi pasca vaksinasi yang timbul beragam. Pada umumnya ringan dan bersifat sementara. Seperti demam, nyeri otot pada bekas suntikan,” ungkapnya.

Menurut dr Ayu, reaksi tersebut masih tergolong wajar. Namun, hal itu tetap perlu dimonitor. “Akan tetapi, manfaat vaksin jauh lebih besar dibandingkan risiko sakit karena terinfeksi bila tidak divaksin,” pungkas Ayu. (*)

Reporter: Ratna Irtatik
Editor: tunggul