Kepri

BKP Perketat Lalulintas Beras dan Daging Babi Ilegal

Petugas gabungan memeriksa mobil penumpang yang membawa bahan makanan, Sabtu (23/10) kemarin. F. Humas BKP

batampos.id– Balai Karantina Pertanian (BKP) Tanjungpinang perketat lalulintas barang di Pelabuhan ASDP Tanjunguban antisipasi penyeludupan komoditas beras dan daging babi secara ilegal.

BACA JUGA: Kepri Ekspor 1.000 Ekor Babi tiap Hari ke Singapura

Pengoptimalan pengawasan di tempat pemasukan dan pengeluaran barang sebagau upaya pencegahan masuk dan tersebarnya hama penyakit hewan karantina (HPHK) dan organisme pengganggu tumbuhan karantina (OPTK).

Kepala BKP Tanjungpinang, Raden Nurcahyo Nugroho menjelaskan pelabuhan ASDP Tanjunguban merupakan pelabuhan penyeberangan yang dilintasi penumpang dan barang dari dan menuju Batam. Kendaraan barang maupun penumpang tidak luput dari pemeriksaan tim gabungan.

Operasi patuh karantina dilaksanakan sesuai dengan amanah undang-undang nomor 21 tahun 2019 tentang karantina hewan ikan dan tumbuhan.

“Selain melaksanakan tugas pencegahan masuk dan tersebarnya HPHK dan OPTK, kami juga memiliki tugas menjamin kesehatan dan keamanan pangan dan pakan serta mengawasi lalulintas IAS (Invasif Alien Species) PRG (Produk Rekayasa Genetik, dan TSL (tumbuhan Satwa Liar),” kata Raden, Sabtu (23/10) kemarin.

Raden menyebutkan Pulau Bintan dan Kepri berbatasan langsung dengan Malaysia dan Singapura menjadi zona rawan penyeludupan komoditas pertanian harus menjadi kewaspadaan seluruh aparat yang berwenang.

Target operasi patuh kita kali ini adalah pengawasan terhadap adanya dugaan lalulintas media pembawa HPHK atau OPTK berupa komoditas beras dan daging babi secara ilegal.

“Beras sebagai kebutuhan pokok masyarakat harus terjamin kesehatan dan keamanan pangannya, jika masuk secara ilegal tentu tidak ada jaminan kesehatan dan keamanan pangannya,” terangnya.

Pihaknya melakukan serangkaian pemeriksaan sebelum diterbitkan sertifikat kesehatan. Sertifikasi merupakan jaminan kesehatan dan keamanan pangan maupun pakan, sehingga dibutuhkan kesadaran bersama akan pentingnya karantina pertanian.

“Bintan dan Tanjungpinang kerap menjadi rembesan komoditas pertanian ilegal, sehingga dengan operasi patuh ini diharapkan dapat menjadi kewaspadaan bersama,” pungkas Raden.

Pada operasi patuh itu ditemukan masih ada penumpang yang membawa komoditas pertanian yang termasuk barang tentengan berupa beras 10 kg dan sayuran 10 Kg dari Batam tanpa dilengkapi sertifikat kesehatan dari daerah asal. Sementara untuk kegiatan domestik keluar ditemukan adanya lalulintas ayam, telur ayam dan kelapa yang telah lapor karantina dan dilengkapi Sertifikat Kesehatan.

“Komoditas yang dibawa sebagai bahan pokok tersebut dilakukan pemeriksaan. Setelah media pembawa tersebut dipastikan kesehatannya, pejabat karantina menerbitkan sertifikat pelepasan,” tambahnya. (*)

Reporter: Peri Irawan
editor: tunggul